Cirebon (ANTARA) - Setiap musim mudik Lebaran, ada satu hitungan yang tak pernah lepas dari para pemudik, yakni soal ongkos perjalanan.
Anggaran bahan bakar minyak (BBM) dipersiapkan sejak jauh hari, karena untuk menempuh rute ratusan kilometer, apalagi melalui ruas Tol Trans Jawa, dapat menguras isi dompet.
Antrean kendaraan untuk mengisi BBM pun, menjadi pemandangan lumrah di balik momen mudik. Namun, saat ini muncul cerita lain di tengah tradisi tahunan tersebut.
Cara menghitung ongkos mudik mulai berubah. Perjalanan pulang kampung tidak lagi ditakar dari berapa liter bensin yang masuk ke tangki, melainkan persentase baterai.
Rest Area
Suhu udara pada Minggu (15/3) siang, terasa cukup terik saat ANTARA menyambangi Rest Area KM 166 Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di Majalengka, Jawa Barat.
Dari kejauhan tampak banyak pemudik yang singgah di lokasi ini, untuk sekadar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Pada sisi lain area ini, sebuah mobil tanpa suara mesin terparkir di dekat Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Di situlah Sendika (35) berdiri.
Layar pada alat pengisi daya menampilkan angka persentase baterai yang perlahan bertambah, menandakan energi untuk melanjutkan perjalanan kembali terisi.
Pria asal Tangerang Selatan tersebut tengah menempuh perjalanan mudik menuju Cirebon, Jawa Barat, bersama istri dan dua anaknya.
Baginya, perjalanan pulang kampung ke kota di pesisir utara Jawa Barat itu bukan hal baru. Sebab, sudah lebih dari satu dekade Sendika menjalani rutinitas yang sama setiap Lebaran.
“Sudah 11 tahun mudik ke Cirebon. Keluarga semua di sana, ke rumah orang tua,” katanya.
Di Rest Area KM 166, tempat ia berhenti, tersedia beberapa unit pengisi daya cepat. Sendika memilih charger berdaya 120 kilowatt (kW) yang mampu mengisi baterai dari sekitar 20 persen hingga penuh dalam waktu kurang dari satu jam.
Sambil menunggu baterai terisi, ia memanfaatkan waktu untuk beristirahat bersama keluarganya sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Cirebon.
Baca juga: Kementerian PU perkuat layanan mudik lewat 189 SPKLU di rest area tol
Jadi andalan
Perjalanan mudik tahun ini terasa berbeda. Jika dulu ia selalu menggunakan mobil berbahan bakar bensin, kini kendaraan listrik menjadi pilihan utama untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Sebelum memulai perjalanan, ia mengaku mobil listriknya sudah diisi penuh di rumah menggunakan pengisi daya dinding atau wall charger. Pengisian itu dilakukan semalaman, hingga daya baterainya cukup untuk perjalanan jarak jauh.
Sendika sebenarnya masih menyimpan mobil konvensional di rumah. Namun dalam dua tahun terakhir, mobil listrik lebih sering ia gunakan, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun perjalanan jarak jauh.
Salah satu alasan utamanya adalah biaya operasional yang lebih ringan. Dalam penggunaan harian, selisih pengeluaran antara mobil listrik dan mobil bensin menurutnya cukup terasa.
Pemudik saat mengisi daya baterai mobil listrik pada fasilitas SPKLU di Rest Area KM 166 Tol Cipali Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
“Untuk daily cost, kalau mobil bensin dua minggu bisa sekitar Rp700 ribu untuk bahan bakar. Mobil listrik mungkin sekitar Rp150 ribu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut pula yang membuatnya mencoba mudik dengan kendaraan listrik. Ketika baterai mobilnya sudah penuh, biaya listrik yang ia keluarkan sekitar Rp120 ribu.
Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan pengeluaran yang biasa ia siapkan, saat mudik menggunakan mobil bensin.
Untuk perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Cirebon, ia biasanya harus menyiapkan sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta untuk BBM.
Dalam satu kali pengisian penuh, mobil listrik yang digunakannya mampu menempuh jarak lebih dari 400 kilometer.
Jarak tersebut, kata dia, cukup untuk membawa keluarganya saat perjalanan mudik tanpa harus terlalu sering berhenti mengisi daya.
Ia mengaku perbedaan biaya itulah, yang membuat perjalanan mudiknya terasa lebih ringan di kantong.
Meski demikian, perjalanan jauh dengan mobil listrik tetap membutuhkan perhitungan yang lebih cermat.
Baca juga: PLN pastikan SPKLU di tol andal dukung kelancara mudik Lebaran 2026
Dalam praktiknya pun jarak tempuh kendaraan tidak selalu sama. Penggunaan pendingin udara, perangkat elektronik seperti telepon seluler, serta kondisi lalu lintas dapat mempengaruhi konsumsi energi kendaraan.
Oleh karena itu, Sendika tetap memperhitungkan lokasi pengisian daya di sepanjang perjalanan. Terlebih saat musim mudik, ketika kemacetan panjang kerap terjadi di sejumlah ruas tol.
“Kalau macet lama itu yang kadang dikhawatirkan. Saat Lebaran kan bisa berjam-jam. Jadi biasanya kalau baterai sudah sekitar 40 persen saya cari SPKLU,” katanya.
Hemat untuk jarak jauh
Beberapa puluh kilometer setelah meninggalkan Cipali, kisah serupa datang dari Rest Area KM 207 Tol Palimanan-Kanci (Palikanci).
Di lokasi ini, Fadli (29), pemudik asal Bogor yang menuju Brebes, juga berhenti sejenak untuk mengisi daya mobil listriknya.
Mobilnya terhubung ke mesin SPKLU, sementara ia duduk sejenak di bangku dekat area pengisian. Bagi Fadli, perjalanan mudik dengan kendaraan listrik justru terasa lebih efisien.
Selain biaya yang lebih hemat, ia pun menilai fasilitas pengisian daya kini semakin mudah ditemukan di sepanjang jalur tol.
“SPKLU juga sudah banyak di rest area. Sekali isi sekitar 30 menit sampai satu jam, bisa sambil istirahat,” katanya kepada ANTARA.
Menurut dia, waktu pengisian itu ikut terasa pas karena pengemudi memang membutuhkan jeda setelah berkendara cukup lama.
Selama perjalanan dari Bogor menuju Brebes, Fadli memperkirakan total biaya listrik yang ia keluarkan masih di bawah Rp500 ribu.
Jumlah tersebut, menurutnya, jauh lebih rendah dibandingkan biaya bahan bakar kendaraan konvensional untuk jarak yang sama.
Kisah lain tentang perjalanan dengan mobil listrik juga terlihat lebih ke arah timur, tepatnya di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan.
Petugas saat megisi daya mobil listrik di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Di lokasi ini, beberapa kendaraan listrik tampak bergantian menggunakan SPKLU sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota-kota di Jawa Tengah.
Aditya (41), pemudik asal Jakarta yang menuju Semarang, menunggu mobilnya selesai charging di area tersebut.
Awalnya ia sempat ragu menggunakan mobil listrik untuk perjalanan mudik. Kekhawatiran terbesarnya adalah menemukan tempat pengisian daya di tengah perjalanan.
Namun setelah beberapa kali menempuh perjalanan di jalur tol, kekhawatiran itu mulai berkurang.
“Saya lihat sekarang semakin membaik dan jumlahnya juga semakin banyak,” katanya mengenai keberadaan SPKLU di sejumlah rest area.
Baca juga: Di China, pengisi daya kendaraan bisa datang menuju lokasi mobil
Menurutnya, berkendara dengan mobil listrik justru terasa nyaman untuk perjalanan jauh. Tenaga kendaraan cukup besar, sementara suara mesin yang hampir tidak terdengar membuat perjalanan terasa lebih tenang.
Selain itu, faktor biaya juga menjadi pertimbangan penting. Jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar, biaya listrik yang dikeluarkan bisa jauh lebih hemat.
Dalam sekali pengisian penuh, mobil yang digunakannya mampu menempuh perjalanan sekitar 300 kilometer.
“Lebih murah pakai kendaraan listrik. Mudik lebih enak, saya sudah rindu dengan keluarga besar di kampung halaman untuk berlebaran,” tuturnya.
Hal serupa diutarakan pemudik lain bernama Rudi (41), yang juga menggunakan fasilitas SPKLU untuk menambah daya mobil listriknya.
Ia melakukan perjalanan dari Bandung menuju Tegal, dengan kendaraan listrik yang baru digunakannya sekitar dua bulan terakhir.
Meski masih tergolong pengguna baru, Rudi merasa cukup percaya diri membawa mobil itu untuk perjalanan mudik.
Ia berangkat dari Bandung dengan baterai penuh, lalu berhenti sejenak di Rest Area KM 229 untuk menambah daya.
Menurut dia, biaya perjalanan yang dikeluarkan terasa jauh lebih ringan dibandingkan menggunakan mobil berbahan bakar bensin.
“Kalau dihitung dari Bandung sampai Tegal, total sekitar Rp150 ribu saja. Masih ada sisa juga,” katanya.
Baca juga: PLN pastikan kesiapan SPKLU layani pemudik
Menjamurnya SPKLU
PT PLN (Persero) memastikan seluruh SPKLU di jalur tol utama, siap beroperasi guna mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Pengecekan pun dilakukan secara menyeluruh, terutama di ruas strategis seperti Tol Trans Jawa, agar pengguna kendaraan listrik dapat bepergian dengan aman dan nyaman.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyebut pihaknya telah meninjau langsung kesiapan fasilitas di sejumlah titik, salah satunya di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan di Cirebon pada Selasa (17/3).
“Kami telah melakukan pengecekan kesiapan SPKLU di jalur mudik utama, khususnya Trans Jawa, agar masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman,” kata Adi dalam keterangan resminya.
Fasilitas SPKLU di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Pihaknya memastikan seluruh infrastruktur pengisian daya dalam kondisi optimal, terutama di lokasi yang menjadi titik singgah pemudik.
Untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan kendaraan listrik, PLN menyiagakan 1.680 unit SPKLU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat seiring pertumbuhan kendaraan listrik yang diproyeksikan mencapai sekitar 200 ribu unit pada 2026, atau naik sekitar 170 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, kesiapan SPKLU di jalur strategis dinilai menjadi kunci dalam mendukung perjalanan jarak jauh.
Dengan fasilitas yang semakin memadai, masyarakat semakin percaya diri menggunakan kendaraan listrik saat mudik.
Intinya, di ruas tol yang setiap tahun dipadati kendaraan pemudik, mobil listrik memang belum menjadi pemandangan utama.
Namun di beberapa rest area, kendaraan tanpa suara mesin itu mulai terlihat berdampingan dengan mobil konvensional yang mengantre di SPBU.
Bagi pemudik seperti Sendika, Rudi, dan lainnya, kendaraan listrik menawarkan pengalaman perjalanan pulang kampung dengan ongkos yang jauh lebih hemat.
Baca juga: Memahami makna remitansi di balik tradisi mudik
Baca juga: Makna hari raya Idul Fitri bagi pemudik di Stasiun Gambir
Anggaran bahan bakar minyak (BBM) dipersiapkan sejak jauh hari, karena untuk menempuh rute ratusan kilometer, apalagi melalui ruas Tol Trans Jawa, dapat menguras isi dompet.
Antrean kendaraan untuk mengisi BBM pun, menjadi pemandangan lumrah di balik momen mudik. Namun, saat ini muncul cerita lain di tengah tradisi tahunan tersebut.
Cara menghitung ongkos mudik mulai berubah. Perjalanan pulang kampung tidak lagi ditakar dari berapa liter bensin yang masuk ke tangki, melainkan persentase baterai.
Rest Area
Suhu udara pada Minggu (15/3) siang, terasa cukup terik saat ANTARA menyambangi Rest Area KM 166 Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di Majalengka, Jawa Barat.
Dari kejauhan tampak banyak pemudik yang singgah di lokasi ini, untuk sekadar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Pada sisi lain area ini, sebuah mobil tanpa suara mesin terparkir di dekat Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Di situlah Sendika (35) berdiri.
Layar pada alat pengisi daya menampilkan angka persentase baterai yang perlahan bertambah, menandakan energi untuk melanjutkan perjalanan kembali terisi.
Pria asal Tangerang Selatan tersebut tengah menempuh perjalanan mudik menuju Cirebon, Jawa Barat, bersama istri dan dua anaknya.
Baginya, perjalanan pulang kampung ke kota di pesisir utara Jawa Barat itu bukan hal baru. Sebab, sudah lebih dari satu dekade Sendika menjalani rutinitas yang sama setiap Lebaran.
“Sudah 11 tahun mudik ke Cirebon. Keluarga semua di sana, ke rumah orang tua,” katanya.
Di Rest Area KM 166, tempat ia berhenti, tersedia beberapa unit pengisi daya cepat. Sendika memilih charger berdaya 120 kilowatt (kW) yang mampu mengisi baterai dari sekitar 20 persen hingga penuh dalam waktu kurang dari satu jam.
Sambil menunggu baterai terisi, ia memanfaatkan waktu untuk beristirahat bersama keluarganya sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Cirebon.
Baca juga: Kementerian PU perkuat layanan mudik lewat 189 SPKLU di rest area tol
Jadi andalan
Perjalanan mudik tahun ini terasa berbeda. Jika dulu ia selalu menggunakan mobil berbahan bakar bensin, kini kendaraan listrik menjadi pilihan utama untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Sebelum memulai perjalanan, ia mengaku mobil listriknya sudah diisi penuh di rumah menggunakan pengisi daya dinding atau wall charger. Pengisian itu dilakukan semalaman, hingga daya baterainya cukup untuk perjalanan jarak jauh.
Sendika sebenarnya masih menyimpan mobil konvensional di rumah. Namun dalam dua tahun terakhir, mobil listrik lebih sering ia gunakan, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun perjalanan jarak jauh.
Salah satu alasan utamanya adalah biaya operasional yang lebih ringan. Dalam penggunaan harian, selisih pengeluaran antara mobil listrik dan mobil bensin menurutnya cukup terasa.
Pemudik saat mengisi daya baterai mobil listrik pada fasilitas SPKLU di Rest Area KM 166 Tol Cipali Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
“Untuk daily cost, kalau mobil bensin dua minggu bisa sekitar Rp700 ribu untuk bahan bakar. Mobil listrik mungkin sekitar Rp150 ribu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut pula yang membuatnya mencoba mudik dengan kendaraan listrik. Ketika baterai mobilnya sudah penuh, biaya listrik yang ia keluarkan sekitar Rp120 ribu.
Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan pengeluaran yang biasa ia siapkan, saat mudik menggunakan mobil bensin.
Untuk perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Cirebon, ia biasanya harus menyiapkan sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta untuk BBM.
Dalam satu kali pengisian penuh, mobil listrik yang digunakannya mampu menempuh jarak lebih dari 400 kilometer.
Jarak tersebut, kata dia, cukup untuk membawa keluarganya saat perjalanan mudik tanpa harus terlalu sering berhenti mengisi daya.
Ia mengaku perbedaan biaya itulah, yang membuat perjalanan mudiknya terasa lebih ringan di kantong.
Meski demikian, perjalanan jauh dengan mobil listrik tetap membutuhkan perhitungan yang lebih cermat.
Baca juga: PLN pastikan SPKLU di tol andal dukung kelancara mudik Lebaran 2026
Dalam praktiknya pun jarak tempuh kendaraan tidak selalu sama. Penggunaan pendingin udara, perangkat elektronik seperti telepon seluler, serta kondisi lalu lintas dapat mempengaruhi konsumsi energi kendaraan.
Oleh karena itu, Sendika tetap memperhitungkan lokasi pengisian daya di sepanjang perjalanan. Terlebih saat musim mudik, ketika kemacetan panjang kerap terjadi di sejumlah ruas tol.
“Kalau macet lama itu yang kadang dikhawatirkan. Saat Lebaran kan bisa berjam-jam. Jadi biasanya kalau baterai sudah sekitar 40 persen saya cari SPKLU,” katanya.
Hemat untuk jarak jauh
Beberapa puluh kilometer setelah meninggalkan Cipali, kisah serupa datang dari Rest Area KM 207 Tol Palimanan-Kanci (Palikanci).
Di lokasi ini, Fadli (29), pemudik asal Bogor yang menuju Brebes, juga berhenti sejenak untuk mengisi daya mobil listriknya.
Mobilnya terhubung ke mesin SPKLU, sementara ia duduk sejenak di bangku dekat area pengisian. Bagi Fadli, perjalanan mudik dengan kendaraan listrik justru terasa lebih efisien.
Selain biaya yang lebih hemat, ia pun menilai fasilitas pengisian daya kini semakin mudah ditemukan di sepanjang jalur tol.
“SPKLU juga sudah banyak di rest area. Sekali isi sekitar 30 menit sampai satu jam, bisa sambil istirahat,” katanya kepada ANTARA.
Menurut dia, waktu pengisian itu ikut terasa pas karena pengemudi memang membutuhkan jeda setelah berkendara cukup lama.
Selama perjalanan dari Bogor menuju Brebes, Fadli memperkirakan total biaya listrik yang ia keluarkan masih di bawah Rp500 ribu.
Jumlah tersebut, menurutnya, jauh lebih rendah dibandingkan biaya bahan bakar kendaraan konvensional untuk jarak yang sama.
Kisah lain tentang perjalanan dengan mobil listrik juga terlihat lebih ke arah timur, tepatnya di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan.
Petugas saat megisi daya mobil listrik di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Di lokasi ini, beberapa kendaraan listrik tampak bergantian menggunakan SPKLU sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota-kota di Jawa Tengah.
Aditya (41), pemudik asal Jakarta yang menuju Semarang, menunggu mobilnya selesai charging di area tersebut.
Awalnya ia sempat ragu menggunakan mobil listrik untuk perjalanan mudik. Kekhawatiran terbesarnya adalah menemukan tempat pengisian daya di tengah perjalanan.
Namun setelah beberapa kali menempuh perjalanan di jalur tol, kekhawatiran itu mulai berkurang.
“Saya lihat sekarang semakin membaik dan jumlahnya juga semakin banyak,” katanya mengenai keberadaan SPKLU di sejumlah rest area.
Baca juga: Di China, pengisi daya kendaraan bisa datang menuju lokasi mobil
Menurutnya, berkendara dengan mobil listrik justru terasa nyaman untuk perjalanan jauh. Tenaga kendaraan cukup besar, sementara suara mesin yang hampir tidak terdengar membuat perjalanan terasa lebih tenang.
Selain itu, faktor biaya juga menjadi pertimbangan penting. Jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar, biaya listrik yang dikeluarkan bisa jauh lebih hemat.
Dalam sekali pengisian penuh, mobil yang digunakannya mampu menempuh perjalanan sekitar 300 kilometer.
“Lebih murah pakai kendaraan listrik. Mudik lebih enak, saya sudah rindu dengan keluarga besar di kampung halaman untuk berlebaran,” tuturnya.
Hal serupa diutarakan pemudik lain bernama Rudi (41), yang juga menggunakan fasilitas SPKLU untuk menambah daya mobil listriknya.
Ia melakukan perjalanan dari Bandung menuju Tegal, dengan kendaraan listrik yang baru digunakannya sekitar dua bulan terakhir.
Meski masih tergolong pengguna baru, Rudi merasa cukup percaya diri membawa mobil itu untuk perjalanan mudik.
Ia berangkat dari Bandung dengan baterai penuh, lalu berhenti sejenak di Rest Area KM 229 untuk menambah daya.
Menurut dia, biaya perjalanan yang dikeluarkan terasa jauh lebih ringan dibandingkan menggunakan mobil berbahan bakar bensin.
“Kalau dihitung dari Bandung sampai Tegal, total sekitar Rp150 ribu saja. Masih ada sisa juga,” katanya.
Baca juga: PLN pastikan kesiapan SPKLU layani pemudik
Menjamurnya SPKLU
PT PLN (Persero) memastikan seluruh SPKLU di jalur tol utama, siap beroperasi guna mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Pengecekan pun dilakukan secara menyeluruh, terutama di ruas strategis seperti Tol Trans Jawa, agar pengguna kendaraan listrik dapat bepergian dengan aman dan nyaman.
Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menyebut pihaknya telah meninjau langsung kesiapan fasilitas di sejumlah titik, salah satunya di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan di Cirebon pada Selasa (17/3).
“Kami telah melakukan pengecekan kesiapan SPKLU di jalur mudik utama, khususnya Trans Jawa, agar masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman,” kata Adi dalam keterangan resminya.
Fasilitas SPKLU di Rest Area KM 229 Tol Kanci-Pejagan Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Pihaknya memastikan seluruh infrastruktur pengisian daya dalam kondisi optimal, terutama di lokasi yang menjadi titik singgah pemudik.
Untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan kendaraan listrik, PLN menyiagakan 1.680 unit SPKLU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat seiring pertumbuhan kendaraan listrik yang diproyeksikan mencapai sekitar 200 ribu unit pada 2026, atau naik sekitar 170 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, kesiapan SPKLU di jalur strategis dinilai menjadi kunci dalam mendukung perjalanan jarak jauh.
Dengan fasilitas yang semakin memadai, masyarakat semakin percaya diri menggunakan kendaraan listrik saat mudik.
Intinya, di ruas tol yang setiap tahun dipadati kendaraan pemudik, mobil listrik memang belum menjadi pemandangan utama.
Namun di beberapa rest area, kendaraan tanpa suara mesin itu mulai terlihat berdampingan dengan mobil konvensional yang mengantre di SPBU.
Bagi pemudik seperti Sendika, Rudi, dan lainnya, kendaraan listrik menawarkan pengalaman perjalanan pulang kampung dengan ongkos yang jauh lebih hemat.
Baca juga: Memahami makna remitansi di balik tradisi mudik
Baca juga: Makna hari raya Idul Fitri bagi pemudik di Stasiun Gambir





