MUI Imbau Umat Tunggu Hasil Sidang Isbat, Tekankan Sikap Tasamuh jika Ada Perbedaan

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Buya Amirsyah Tambunan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam menunggu hasil sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah yang digelar Kementerian Agama (Kemenag), Kamis (19/3/2026).

Buya Amirsyah menegaskan, penentuan awal Syawal merupakan wilayah ijtihadi para ulama yang memungkinkan adanya perbedaan pandangan.

“Ini wilayah ijtihadi para ulama. Sedangkan peran umara’ menetapkan (isbat), seperti wasit yang menjadi fasilitator sebagai jembatan untuk mempertemukan perbedaan,” kata Buya Amirsyah seperti dilansir laman resmi MUI.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan dalam wilayah ijtihad adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena itu, umat diminta menyikapinya dengan bijak sesuai keyakinan masing-masing.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sikap toleransi apabila terjadi perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idulfitri.

“Namun jika terdapat perbedaan maka perlu sikap toleransi (tasamuh) dalam wilayah perbedaan (majalul i’tilaf). Sikap tasamuh dalam bentuk lapang dada sehingga tidak menimbulkan sikap saling menyalahkan. Yang penting memiliki dasar kuat mencari kebenaran, bukan pembenaran,” tegasnya.

Buya Amirsyah juga menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat dua metode utama untuk menentukan awal bulan Hijriah, yakni hisab dan rukyat.

“Bil-Ilmi menggunakan astronomi untuk menghitung posisi hilal, sedangkan Bil Ru’yah menggunakan pengamatan fisik hilal secara langsung atau dengan alat. Keduanya bertujuan menemukan hilal,” ujarnya.

Adapun, Kementerian Agama menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H pada, Kamis (19/3/2026), di Auditorium H M Rasjidi, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB hingga sekarang.

Abu Rokhmad Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag menjelaskan bahwa seluruh persiapan sidang telah dilakukan sesuai prosedur, baik dari sisi substansi maupun teknis.

“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, sidang isbat akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar astronomi BMKG, BRIN, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam dan instansi terkait lainnya.

“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya.

Untuk mendukung penetapan tersebut, Kemenag telah melakukan pemantauan hilal di 117 titik di seluruh Indonesia.

Abu Rokhmad menjelaskan, sidang isbat akan diawali dengan seminar posisi hilal, dilanjutkan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyat, sebelum akhirnya diumumkan ke publik.

“Seperti biasa, sidang isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatulhilal yang masuk dari berbagai daerah, sebelum akhirnya diumumkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan data hisab, pada 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026, posisi hilal di Indonesia berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’ dan elongasi antara 4°32’40’’ hingga 6°06’11’’.

Meski demikian, pemerintah tetap menunggu hasil rukyatul hilal sebelum menetapkan secara resmi awal Syawal.

“Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatulhilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat,” kata Abu Rokhmad. (bil/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Makin Bengkak, Garuda Indonesia (GIAA) Catat Rugi Rp5,4 Triliun pada 2025
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kasus Penyiraman Aktivis, Presiden Prabowo: Usut Sampai Dalangnya
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Wakil Wali Kota Makassar Tutup Liga Mulia Ramadhan 2026, CTI Luwu Juara
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Edukasi Mudik Aman, Taruna Akpol Sosialisasikan Layanan 110
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menag Sampaikan Selamat Hari Suci Nyepi: Satu Bumi, Satu Keluarga
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.