Persija Mulai Angkat Bendera Putih? Jalan Mulus Persib Bandung Jemput Juara Super League

harianfajar
16 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA — Sepak bola kerap bergerak di antara dua kutub: harapan dan kegelisahan. Di satu sisi, ada keyakinan yang tumbuh perlahan menuju puncak. Di sisi lain, ada keraguan yang menggerogoti dari dalam. Dua suasana itu kini terasa kontras antara Persija Jakarta dan Persib Bandung, menjelang penutupan musim Super League 2026.

Di ibu kota, suasana jeda Lebaran semestinya menjadi ruang hening. Waktu untuk menarik napas, menjauh sejenak dari riuh kompetisi. Namun bagi Persija, jeda ini justru terasa seperti ruang gema—tempat suara-suara lama kembali memantul, semakin nyaring, semakin sulit diabaikan.

Keputusan meliburkan tim selama sepekan, yang diumumkan pada 18 Maret 2026, sejatinya sederhana: memberi kesempatan para pemain merayakan Idulfitri bersama keluarga. Pelatih Mauricio Souza menyampaikannya dengan nada penuh hormat, menegaskan bahwa sepak bola tak berdiri di luar nilai-nilai kemanusiaan. Ada momen yang lebih besar dari sekadar pertandingan.

Namun publik sepak bola Jakarta membaca lebih dari sekadar jeda. Di balik libur itu, mereka melihat jeda yang lebih dalam: jeda performa, jeda konsistensi, bahkan jeda identitas.

Respons suporter—The Jakmania—datang nyaris serempak. Kolom komentar di media sosial berubah menjadi ruang nostalgia kolektif. Satu nama kembali disebut, berulang-ulang, seolah menjadi mantra: Thomas Doll.

Kerinduan itu bukan tanpa alasan. Dalam ingatan banyak pendukung, Thomas Doll bukan sekadar pelatih. Ia adalah figur yang pernah memberi bentuk pada permainan Persija—tegas dalam pendekatan, jelas dalam taktik, dan relatif stabil dalam hasil. Pada musim 2022/2023, ia membawa tim meraih 19 kemenangan dari 33 laga, dengan pertahanan yang solid dan serangan yang efisien. Bahkan ketika performa menurun di musim berikutnya, fondasi itu masih terasa.

Kini, ketika hasil-hasil minor datang silih berganti, bayang-bayang masa lalu itu justru tampak semakin terang.

Sementara itu, Rizky Ridho dan rekan-rekannya bersiap kembali ke lapangan latihan selepas Lebaran. Agenda sudah disusun: pemusatan latihan, pematangan strategi, dan persiapan menghadapi Bhayangkara FC. Di atas kertas, ini adalah fase krusial—momen di mana sebuah tim bisa memilih untuk bangkit atau tenggelam.

Bagi Mauricio Souza, ini lebih dari sekadar program latihan. Ini adalah ujian legitimasi.

Ia datang dengan reputasi, tetapi sepak bola Indonesia menuntut lebih dari sekadar latar belakang. Ia menuntut hasil—dan mungkin yang lebih sulit, kepercayaan. Sejauh ini, keduanya belum sepenuhnya berpihak.

Tekanan pun mengalir ke satu titik: kursi pelatih.

Manajemen Persija kini berada dalam situasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, mengganti pelatih di tengah musim adalah perjudian. Stabilitas tim bisa terganggu, adaptasi ulang diperlukan, dan hasilnya tak selalu lebih baik. Namun di sisi lain, suara suporter adalah variabel yang tak bisa diabaikan. Dalam ekosistem sepak bola modern, tekanan publik sering kali menjadi kekuatan yang menentukan arah kebijakan.

Di Bandung, lanskapnya berbeda. Bojan Hodak dan Persib justru menikmati momentum. Ketika pesaing terdekatnya diliputi keraguan, mereka melaju dengan keyakinan yang nyaris tanpa gangguan. Libur panjang yang diberikan kepada pemain bukan dibaca sebagai jeda krisis, melainkan hadiah atas konsistensi.

Di sinilah ironi itu muncul.

Ketika Persija dituduh mulai “mengangkat bendera putih”, Persib justru seperti sedang menyiapkan panggung perayaan. Jalan menuju gelar tampak semakin lapang—bukan hanya karena kekuatan sendiri, tetapi juga karena rival yang kehilangan arah.

Namun sepak bola selalu menyimpan ruang untuk kejutan.

Jeda Lebaran ini bisa menjadi titik balik bagi Persija—momen refleksi yang melahirkan kebangkitan. Atau sebaliknya, ia bisa menjadi jeda yang memperpanjang ketidakpastian. Segalanya akan ditentukan dalam beberapa pekan ke depan, ketika peluit kembali dibunyikan dan narasi berubah dari spekulasi menjadi kenyataan.

Satu hal yang pasti: di tengah hiruk-pikuk ini, suara suporter tetap menjadi denyut yang tak pernah benar-benar diam. Dan di klub sebesar Persija, denyut itu bisa menjadi energi—atau justru tekanan yang mengubah arah sejarah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Muhammadiyah DIY Gelar Salat Id di 1.374 Lokasi pada 20 Maret 2026
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Michael Bambang Hartono Wafat di Usia 86 Tahun, Ini Profil dan Rekam Jejaknya
• 21 jam laludisway.id
thumb
Mungkinkah Peradilan Umum Diterapkan dalam Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus? 
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Waspada! Kampanye Phishing Baru Manfaatkan Notifikasi Google Tasks untuk Incar Kredensial Perusahaan
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kesiangan Shalat Idul Fitri, Bolehkah Dikerjakan Sendiri di Rumah? Buya Yahya Beri Penjelasan
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.