Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan platform ojek online, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dinilai mempunyai momentum bagus pada 2026. Meskipun perseroan pada akhir 2025 masih mengalami rugi bersih, angkanya mengecil dan terdapat peningkatan di sisi top line. GOTO bahkan diramal bisa mencatat laba bersih perdananya di 2026.
Analis CGS International (CGSI) Joanne Ong dalam risetnya yang terbit 13 Maret 2026 membedah kinerja keuangan GOTO dalam tahun buku 2025.
Adjusted EBITDA tercatat mencapai Rp2 triliun atau meningkat 420% secara tahunan (year-to-year/YoY). Capaian ini berada di atas guidance perusahaan sebesar Rp1,8—Rp1,9 triliun atau setara 107% dengan estimasi CGSI.
Sementara itu, adjusted EBITDA biaya layanan e-commerce juga lebih tinggi dari estimasi CGSI, setara dengan 35% dari adjusted EBITDA 2025. Dalam segmen fintech, portofolio kredit tumbuh 69% menjadi Rp8,8 triliun, juga ada di atas perkiraan sebesar Rp8,3 triliun. Untuk 2026 ini CGSI memperkirakan adjusted EBITDA sebesar Rp3,2 triliun, sejalan dengan batas bawah guidance perusahaan sebesar Rp3,2 triliun sampai Rp3,4 triliun.
"Dengan demikian, kami percaya GOTO berpotensi mencatat laba bersih pertamanya di full year 2026," ujar Joanne, dikutip Kamis (19/3/2026).
GOTO sendiri telah menargetkan pertumbuhan gross transaction value (GTV) high-single digit untuk segmen on demand services (ODS) pada 2026. Segmen ODS ini mencakup layanan utama seperti GoRide, GoCar, GoFood, dan GoSend. Melalui sistem pooling dan zoning, akan menurunkan harga kepada konsumen dan mendorong permintaan yang lebih tinggi di segmen pasar massal.
Joanne melihat segmen pasar massal akan mendukung keseluruhan GTV untuk segmen ODS, dan diperkirakan akan tumbuh 7,9% YoY pada 2026 menjadi Rp71,8 triliun. Angka ini lebih rendah dari perkiraan CGSI sebelumnya karena pertimbangan inisiatif baru yang berisiko tertunda pada semester kedua 2026. GTV merupakan total nilai seluruh transaksi yang terjadi di platform seperti GoRide sampai GoSend, sebelum dipotong biaya apa pun.
Sementara di platform PayLater, Joanne memperkirakan portofolio kredit GOTO akan tumbuh sebesar 43% YoY menjadi Rp11,9 triliun pada 2026. Pertumbuhan ini didukung oleh penggunaan data transaksi pengguna yang membantu GOTO menilai kredit dengan lebih baik dan menyalurkan kredit yang lebih menguntungkan. CGSI memperkirakan GTV fintech full year 2026 sebesar Rp794,4 triliun atau naik 20,4% YoY.
"Dengan pengeluaran promosi dan leverage operasional yang lebih rendah, kami percaya GTF dapat meningkatkan profitabilitasnya," jelas Joanne.
Dalam riset tersebut Joanne menyematkan rekomendasi add dengan target harga Rp64. Pada penutupan Selasa (17/3/2026), GOTO turun 1,92% ke Rp51.
Sementara itu, berdasarkan Bloomberg Terminal sebanyak 23 analis merekomendasikan GOTO dan 9 menyematkan hold. Target harga konsensus dipasang di Rp64, mencerminkan potensi kenaikan 14,3% dari level harga Rp56.
Sebelumnya, ramai di media sosial keluhan masyarakat yang sulit mendapatkan driver ojek online di periode mendekati Ramadan 2026.
Head of Driver Operations Gojek Bambang Adi Wirawan mengatakan pada periode akhir Ramadan dan menjelang libur Hari Raya Idulfitri, perusahaan melihat adanya perubahan pola pemesanan berupa lonjakan permintaan pada jam-jam sibuk, terutama di kawasan bisnis di pusat Jakarta.
Dia menjelaskan bahwa jam sibuk pada periode tersebut dimulai lebih awal dibandingkan dengan hari biasa di luar Ramadan, yakni sejak pukul 15.30 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 WIB—18.00 WIB.
“Di sisi lain, pada periode akhir Ramadan, kami memahami bahwa sebagian dari mitra driver Gojek, khususnya yang beroperasi di kota-kota besar, ada yang telah pulang kampung atau mudik dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya,” kata Bambang dalam keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
---
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





