Jakarta, VIVA – Upaya memperkuat sistem kesehatan di Indonesia tidak hanya bergantung pada layanan medis, tetapi juga pada kolaborasi lintas sektor, termasuk dalam perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan dari kekerasan. Pendekatan ini dinilai semakin penting, seiring meningkatnya kebutuhan layanan terpadu bagi penyintas yang membutuhkan dukungan medis, psikologis, dan sosial secara berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang menyoroti pendekatan tersebut adalah program Women at the Center (WAC) atau Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan (PIHAK). Program ini berfokus pada penguatan akses layanan manajemen kasus bagi penyintas kekerasan, sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga layanan di berbagai daerah. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Program yang telah berjalan sejak 2023 ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi profesi, hingga komunitas lokal. Pendekatan berbasis kolaborasi ini dinilai mampu memperkuat sistem rujukan dan memastikan penyintas mendapatkan layanan yang lebih komprehensif dan aman.
Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami, menegaskan pentingnya kerja sama dalam memperkuat sistem perlindungan.
“Kami menyambut baik pengakuan ini sebagai refleksi dari pentingnya kolaborasi dalam perlindungan perempuan dan anak perempuan. Program PIHAK adalah bukti nyata komitmen bersama untuk memperkuat sistem perlindungan dan meningkatkan akses layanan bagi penyintas kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di Indonesia. Melalui kemitraan strategis ini, UNFPA bersama Takeda dan para pemangku kepentingan berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap penyintas menerima dukungan yang aman, tepat, dan berkualitas," ujar Hassan dalam keterangannya, dikutip Kamis 19 Maret 2026.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan memiliki dampak jangka panjang, baik secara fisik maupun mental. Oleh karena itu, penguatan sistem layanan—termasuk deteksi dini, penanganan trauma, hingga rehabilitasi—menjadi bagian penting dalam strategi kesehatan nasional.
Selain itu, pendekatan berbasis komunitas juga dinilai efektif dalam menjangkau kelompok rentan yang sering kali menghadapi hambatan akses layanan. Edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta integrasi layanan menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang responsif terhadap kebutuhan penyintas.
Revi Renita, Head of Public Affairs and Communications PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi elemen penting dalam menghadirkan dampak yang lebih luas.





