Iran menyerukan kewaspadaan dan koordinasi regional dalam percakapan dengan sejumlah negara, termasuk Turki, Mesir, dan Pakistan. Hal ini menyusul perangnya dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan serangan terhadap infrastruktur energinya bertujuan meningkatkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kawasan dari Timur Tengah. Oleh karenanya, ia menyerukan adanya koordinasi untuk meredakan ketegangan akibat serangan dari Israel dan AS.
Baca Juga: Jerman Tolak Permintaan Trump: Katanya Amerika Serikat Tak Perlu Bantuan Lawan Iran...
“Iran menyerukan kewaspadaan dan koordinasi di antara negara-negara kawasan dalam menghadapi ancaman ini,” ujarnya, dikutip dari Tasnim.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari juga memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras menyusul serangan terhadap fasilitas energinya oleh Israel. Zolfaqari menyebut konflik telah memasuki fase baru.
Menurutnya, Iran kini mulai menargetkan fasilitas energi yang terkait dengan Amerika Serikat. Serangan akan ditargetkan baik terhadap fasilitas langsung milik terkait ataupun investor dari Washington di Timur Tengah.
“Jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran kembali terjadi, maka serangan balasan terhadap infrastruktur energi pihak lawan dan sekutunya tidak akan berhenti hingga hancur total,” tegasnya.
Diketahui, Iran dikejutkan oleh serangan terhadap fasilitas energinya, termasuk ladang gas di South Pars. Teheran juga mendapati serangan menuju kawasan industri dari Asaluyeh. Kedua wilayah tersebut menjadi target serangan dari Israel.
Iran atas hal tersebut mengklaim telah menargetkan fasilitas energi yang terkait dengan Amerika Serikat di Timur Tengah. Salah satu lokasi yang disebut adalah Ras Laffan Industrial City di Qatar. Ia merupakan kompleks gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
Baca Juga: 200 Prajurit Amerika Serikat Jadi Korban Perang Lawan Iran
Ancaman saling serang terhadap infrastruktur energi meningkatkan risiko gangguan pasokan global, terutama dari kawasan terkait yang menjadi pusat produksi minyak dan gas dunia. Jika eskalasi berlanjut, kondisi ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi global serta memperburuk ketidakstabilan ekonomi internasional.





