Bisnis.com, JAKARTA- Penjualan sepeda motor nasional menyentuh 1,16 juta unit per Februari 2026. Jumlah itu meningkat 2,02% dibandingkan periode yang sama pada Februari 2025 yang sebanyak 1,14 juta unit.
Mengutip data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) penjualan sepeda motor pada 2 bulan pertama 2026 mencatatkan angka yang lebih baik dari 2025 lalu. Pada Januari 2026, jumlah penjualan sepeda motor sebanyak 577.763 unit, sementara pada Februari 2026 sebanyak 587.354 unit.
Meningkatnya penjualan sepeda motor pada awal 2026 menjadi sinyal positif lantaran tekanan daya beli konsumen menjadi salah satu tantangan utama. Adapun, penjualan sepeda motor di Indonesia sepanjang 2025 mencapai 6,41 juta unit.
Capaian tersebut naik tipis 1,25% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan realisasi pada 2024 yang berada di level 6,33 juta unit.
Pada 2026, AISI menetapkan proyeksi penjualan sepeda motor nasional di kisaran 6,4 juta unit hingga 6,7 juta unit. Target itu dinilai moderat dan dibuat sama dengan target 2025 agar lebih realistis dicapai.
Sebelumnya, Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala mengatakan target tersebut bersifat moderat, atau setara dengan sasaran yang dibidik pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, peluang pencapaiannya dinilai cukup rasional.
Baca Juga
- AISI Beberkan Sejumlah Tantangan Pasar Sepeda Motor pada 2026
- Suzuki Kemas Penjualan 16.000 Unit Sepeda Motor Sepanjang 2025
- Penjualan Sepeda Motor Indonesia dan Proyeksikan Bisnis 2026
“Kami sudah pasang target, angkanya berkisar 6,4 juta sampai 6,7 juta unit di 2026. Betul, sama dengan tahun 2025,” ujar Sigit kepada Bisnis, dikutip Kamis (8/1/2026).
Dia menambahkan capaian 2025 mencerminkan daya tahan pasar sepeda motor nasional di tengah dinamika ekonomi. Permintaan konsumen dinilai masih relatif terjaga sehingga menopang kinerja industri roda dua.
Menurutnya, stabilitas pasar ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain peran lembaga pembiayaan yang mempermudah akses kredit bagi konsumen. Selain itu, kebijakan sejumlah pemerintah daerah yang menunda penerapan opsen pajak turut menekan beban pajak kendaraan bermotor.
“Kemudian juga didukung oleh pemerintah daerah, karena hampir 90% itu kan menunda opsen. Kalau opsen itu tetap dijalankan mungkin agak berat mencapai target tahun lalu,” jelas Sigit kepada Bisnis, dikutip Jumat (9/1/2026).





