[FULL] Respons Pengamat Militer soal Negara Arab & NATO Kecam Perang Iran vs AS-Israel

kompas.tv
10 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.TV - Memasuki pekan ketiga, konflik antara Iran dan Amerika Serikat–Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan semakin meluas.

Bola api besar melintas di langit dan menghantam fasilitas minyak raksasa Saudi Aramco di Riyadh, Arab Saudi, pada Rabu malam.

Sehari setelahnya, giliran kilang minyak di Pelabuhan Ahmadi, Kuwait, diserang drone. Perusahaan minyak negara Kuwait menyatakan kebakaran akibat serangan drone ini telah berhasil dipadamkan.

Sementara itu, serangan udara Israel menghantam Bachoura di pusat kota Beirut, Lebanon, pada Rabu waktu setempat.

Sebuah bangunan apartemen hancur akibat serangan ini. Israel mengklaim gedung itu digunakan oleh Hezbollah sebagai fasilitas untuk menyimpan dana dalam jumlah besar.

Pasukan pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) merilis video serangan di Lebanon.

Israel menargetkan lokasi yang diduga menjadi tempat Hezbollah di sejumlah wilayah di Lebanon. Pasukan Israel juga menyerang para pelaku bersenjata dan infrastruktur di daerah Bint Jbeil.

Di tengah meningkatnya eskalasi saling serang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, pemerintah Arab Saudi menggelar pertemuan dengan para menteri luar negeri negara Arab dan Islam di Riyadh.

Pertemuan yang berlangsung Kamis itu dihadiri menteri luar negeri dari Qatar, Yordania, Suriah, Mesir, Turki, dan Bahrain.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi menyebut pihaknya berhak mengambil kemungkinan tindakan militer terhadap Iran jika dianggap perlu karena telah mengganggu pasokan energi global.

Sementara itu, Amerika Serikat kecewa pada NATO yang tidak membantu AS dalam perang melawan Iran. Presiden Donald Trump mengeluhkan jika keputusan NATO buruk bagi kemitraan.

Sebelumnya, Trump meminta bantuan sekutunya untuk terlibat dalam perang yang terjadi di Timur Tengah.

Menanggapi belum adanya tanda-tanda perang mereda antara Iran dan Amerika Serikat–Israel, Kanselir Jerman menegaskan Uni Eropa tidak akan membuka jalur laut yang diblokir di Timur Tengah.

Akibatnya, hingga kini harga minyak mentah Brent Crude terus naik, menyentuh 114 dolar Amerika Serikat per barel, dari sebelumnya 73 dolar Amerika Serikat per barel sebelum perang.

Kita membahasnya bersama pengamat militer, Anton Ali-Abbas.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga: Iran Tegaskan Tidak Mundur dari Piala Dunia 2026, tapi Boikot AS sebagai Tuan Rumah

#iran #nato #arabsaudi #israel #as

Penulis : Shinta-Milenia

Sumber : Kompas TV

Tag
  • perang
  • timur tengah
  • nato
  • arab saudi
  • trump
  • as
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Minta Produksi Batu Bara 2026 Ditingkatkan, Airlangga: RKAB akan Direvisi
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KAI: 308.741 Tiket KA Jarak Jauh Masih Tersedia dengan Keberangkatan Setelah Lebaran
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Erupsi Semeru Jelang Idulfitri, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
KDM Gelar Open House Usai Salat Id, Catat Lokasinya
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Terungkap! Nur Indah Dokter Gadungan yang Viral Berkat Penipuan Identitas, Dibongkar Alumni FK Trisakti
• 21 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.