EtIndonesia. Baru-baru ini, perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak global, sehingga banyak negara menghadapi tekanan kenaikan biaya energi. Namun, para analis menilai bahwa kenaikan harga minyak justru dapat menempatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada posisi yang lebih menguntungkan dalam pertemuannya dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping.
Pakar kebijakan energi Brenda Shaffer menyatakan bahwa harga minyak yang terus meningkat dapat menjadi aset strategis bagi Trump dalam kunjungannya ke Tiongkok.
Sebelumnya, ketika harga minyak rendah, Tiongkok mendapat keuntungan dari impor minyak diskon dari Rusia. Namun kini, dengan melonjaknya harga minyak, posisi Tiongkok menjadi kurang menguntungkan. Meskipun memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, jika harga tinggi terus berlanjut, ekonomi Tiongkok tetap akan menghadapi tekanan.
Shaffer juga menekankan bahwa kenaikan harga minyak memperkuat strategi “dominasi energi” Trump. Ia menilai pejabat AS kemungkinan akan memanfaatkan pertemuan antara Trump dan Xi untuk mendorong Tiongkok membeli lebih banyak minyak mentah dari Amerika Serikat.
Namun demikian, karena faktor keuangan, politik, dan logistik, upaya untuk membuat Tiongkok mengurangi perdagangan energi dengan Rusia masih menghadapi kesulitan.
Baru-baru ini, Trump menyatakan bahwa ia mungkin akan menunda kunjungannya ke Tiongkok sekitar sebulan untuk fokus menangani perang dengan Iran.
Akibat Iran menutup jalur Selat Hormuz secara efektif, pelayaran global dan harga energi terkena dampak. Trump juga berupaya meminta negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut untuk memberikan dukungan angkatan laut. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia mengatakan ingin mengetahui apakah Tiongkok akan memberikan bantuan, serta mengisyaratkan kemungkinan penundaan kunjungan.
Setelah itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan bahwa penundaan tersebut “tidak terkait dengan komitmen Tiongkok terhadap Selat Hormuz”. Pihak Tiongkok juga menyatakan bahwa kunjungan tersebut tidak berkaitan dengan Selat Hormuz, dan terlihat relatif tenang menghadapi ketidakpastian jadwal kunjungan Trump.
Sejumlah analis menilai bahwa pihak Tiongkok tidak terburu-buru mendorong pertemuan puncak, sebagian karena kekhawatiran bahwa Amerika Serikat sedang terlalu fokus pada perang sehingga kurang siap untuk negosiasi.
Namun, analisis dari Reuters menyebutkan bahwa penundaan kunjungan dapat membayangi prospek gencatan sementara perang dagang AS–Tiongkok. Pasar khawatir kedua pihak mungkin tidak akan mencapai kesepakatan yang stabil. Artikel tersebut menekankan bahwa pertemuan puncak awalnya dianggap sebagai sinyal kesiapan kompromi, namun penundaan justru memicu kekhawatiran akan gagalnya negosiasi.
Pada akhir pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri PKT He Lifeng di Paris.
Sumber menyebutkan bahwa pihak PKT menunjukkan sikap terbuka untuk meningkatkan pembelian produk pertanian AS, termasuk unggas, daging sapi, dan tanaman selain kedelai. Kedua pihak juga membahas aliran mineral tanah jarang serta mekanisme baru untuk mengelola perdagangan dan investasi antara kedua negara. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





