SAMA dengan warga masyarakat pada umumnya, saya juga mudik. Bahkan, beberapa hari menjelang akhir puasa, pikiran dan hati saya seperti sudah di kampung halaman.
Mudik sudah menjadi tradisi khas di Indonesia. Dijalani seluruh segmen sosial. Mulai dari pegawai, pedagang, buruh, majikan dan segmen sosial lain.
Baik muslim santri maupun abangan, bahkan non-Muslim. Seolah-olah tak tergantikan oleh media apapun, meski biayanya tak murah.
Entah sejak kapan mentradisi. Saya menduga sejalan dengan perubahan sosial besar-besaran pada abad ke-20, ketika sistem kapitalisme berangsur-angsur menggantikan sistem pertanian tradisional (subsisten).
Geertz menyebut perubahan itu “involusi pertanian”. Sektor pertanian modern gagal menyerap ledakan angkatan kerja di pedesaan pada satu sisi, sementara itu terjadi penyempitan lahan pertanian tradisional pada sisi lain.
Perubahan sosial besar-besaran itu berlanjut pada zaman kemerdekaan. Kota-kota metropolis muncul sebagai pusat modernisasi (industrialisasi). Juga kota-kota satelitnya.
Pada sisi lain, program Revolusi Hijau yang digalakkan pemerintahan Orde Baru justru menyingkirkan petani dari lahan mereka. Tak ada pilihan lain kecuali migrasi. Kota lalu menjadi kantong ekonomi baru, baik di sektor formal maupun informal.
Sejak itulah, setiap menjelang Idul Fitri, orang-orang pulang kampung (mudik). Idul Fitri secara nyata mempertemukan antara dimensi spiritualitas (keagamaan), kultural, dan sosial-ekonomi.
Jadilah mudik sebagai tradisi khas Indonesia yang dampak sosial-ekonominya sangat besar. Pun dampak kulturalnya.
Baca juga: Lebaranomics: Transformasi Mudik Jadi Stimulus Ekonomi Daerah
Seorang filsuf dan psikolog terkemuka asal Amerika Serikat, William James, percaya bahwa makna hidup dapat disederhanakan menjadi satu kata: kebahagiaan.
Kebahagiaan dianggap motivasi utama yang mendorong manusia untuk bertindak dan bertahan hidup.
Bermacam cara orang atau komunitas memandang kebahagiaan. Pun cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkannya tatkala kebahagiaan menjauhinya.
Mudik tampaknya menjadi sarana yang mewadahi dimensi-dimensi kebahagiaan bagi orang Indonesia pada umumnya. Namun, bisa jadi, tak sedikit orang menemukan kebahagiaan itu hanya dari mudik.
Bagi sebagian orang, mudiklah satu-satunya cara mendapatkan kebahagiaan. Di luar itu realitas sosial begitu kejam. Realitas menjauhkan dirinya dari kebahagiaan.
Sementara itu, hari esok susah pula diimajinasikan. Karena itu, bagi sebagian orang, kebahagiaan dicarinya dengan berpaling ke belakang: pulang ke akar masa lalu di kampung halaman.





