Harga gula putih global melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2025 seiring kenaikan harga minyak dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan di Timur Tengah serta distribusi dari kawasan tersebut.
Mengutip Bloomberg, Jumat (20/3), kontrak paling aktif sempat naik hingga 3,9 persen menjadi USD 454,10 per ton. Kenaikan ini juga memperlebar selisih premi terhadap gula mentah yang belum dimurnikan ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital pengiriman gula mentah ke pabrik-pabrik pengolahan di Timur Tengah. Namun, jalur tersebut praktis tertutup sejak pecahnya perang AS-Israel vs Iran, sehingga menghambat distribusi bahan baku utama industri gula rafinasi di kawasan itu.
Gangguan ini berdampak pada sekitar 6 persen perdagangan gula global. Claudiu Covrig dari Covrig Analytics menyebut kapal pengangkut gula mentah ke pusat pengolahan utama di Timur Tengah terpaksa tertahan atau mengalihkan rute. Kondisi ini menekan produksi gula olahan, sementara permintaan regional tetap tinggi.
Selama ini, pabrik pengolahan gula di kawasan Teluk bergantung pada pasokan stabil dari Brasil dan eksportir lain. Namun, Covrig mengatakan penundaan dan pengalihan distribusi memicu kesenjangan pasokan di Timur Tengah, Afrika Timur, hingga sebagian Asia.
Di sisi lain, harga gula mentah berjangka juga ikut naik hingga 4,4 persen di New York, menyentuh level tertinggi sejak akhir Oktober. Menurut analis di McDougall Global View, Mike McDougall, kenaikan ini terjadi di tengah pelepasan posisi short yang memecahkan rekor dari pedagang non-komersial, dengan harga yang lebih tinggi juga kemungkinan memicu lebih banyak pembelian otomatis.
Pergerakan harga gula juga mengikuti tren kenaikan minyak mentah. Pelaku pasar menanti langkah perusahaan minyak nasional Brasil, Petrobras, terkait kemungkinan kenaikan harga bensin domestik untuk menutup lonjakan biaya energi. Jika itu terjadi, pabrik gula di Brasil berpotensi mengalihkan lebih banyak tebu ke produksi etanol, sehingga mengurangi pasokan gula global.
Dengan pasokan dari India yang terbatas akibat penurunan produksi dan ekspor yang lesu, pasar kini semakin bergantung pada produksi Brasil. Analis StoneX, Murilo Aguiar, mengatakan dalam kondisi ini pembagian tebu antara gula dan etanol akan menjadi faktor kunci yang menentukan pasokan global dalam beberapa bulan ke depan.





