SELAMA ini, depresi pascapersalinan atau postpartum depression identik dengan kondisi yang dialami ibu. Namun, riset dalam Journal of the American Medical Association mengungkapkan fakta lain: sekitar 10% ayah juga menderita depresi sebelum atau sesaat setelah anaknya lahir. Sayangnya, kondisi ini sering luput dari perhatian karena gejalanya yang berbeda dari persepsi umum.
Jika depresi pada umumnya identik dengan kesedihan dan tangisan, pada pria gejalanya sering muncul dalam bentuk kemarahan, gampang tersinggung, hingga perilaku agresif.
Psikolog Adam Borland dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa ekspektasi masyarakat sering kali mengaburkan diagnosis ini.
Baca juga : Depresi pada Ayah Berdampak Jangka Panjang pada Perilaku Anak
"Pria dengan depresi dapat disalahartikan sebagai pemarah, mudah tersinggung, atau 'rewel'. Ekspektasi dari banyak orang adalah bahwa depresi muncul sebagai kesedihan. Dan meskipun bisa, tidak selalu begitu," jelas Borland.
Gejala dan Perubahan PerilakuSelain emosi yang meledak-ledak, gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi perasaan frustrasi, putus asa, hingga hilangnya minat pada hobi.
Secara perilaku, ayah yang mengalami depresi mungkin akan bekerja terlalu lama sebagai bentuk pelarian atau justru menjauhi keluarga.
Baca juga : 5 Fakta Terkait Pembunuhan Balita oleh Ayah Kandung di Serang
Faktor penyebabnya merupakan kombinasi antara biologis dan perubahan dinamika hidup.
Secara hormonal, pria mengalami penurunan kadar testosteron setelah bayi lahir, yang gejalanya menyerupai depresi. Borland menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah tanda kurangnya kasih sayang terhadap sang buah hati.
"Ini bukan cerminan dirimu sebagai orangtua atau seseorang. Ini tidak berarti kamu adalah 'ayah yang buruk'. Dan itu tidak berarti kamu akan merasa seperti ini selamanya," tuturnya.
Faktor Pemicu Non-HormonalSelain hormon, ada beberapa faktor psikososial yang memicu depresi pada ayah baru:
- Perasaan Tersisih: Ibu cenderung lebih cepat terikat dengan bayi, membuat ayah merasa perannya tidak terlalu penting.
- Tekanan Finansial: Beban sebagai pencari nafkah utama sering memicu stres berat.
- Ekspektasi Budaya: Adanya tekanan bahwa ayah harus selalu terlihat gembira, sehingga timbul rasa bersalah jika mereka tidak merasakannya.
- Kurang Tidur Kronis: Kelelahan ekstrem akibat terjaga di malam hari merusak stabilitas emosi.
- Riwayat Medis: Memiliki riwayat depresi sebelumnya atau pasangan yang juga mengalami depresi pascapersalinan.
Depresi pascapersalinan dapat dipulihkan melalui terapi, obat-obatan, dan perawatan diri yang tepat. Borland menyarankan ayah untuk tetap memperhatikan kebutuhan dasar seperti makan sehat, olahraga, dan istirahat meski di sela-sela kesibukan mengurus bayi.
Menghindari perilaku berisiko seperti minuman keras dan perjudian juga sangat krusial.
Hal yang paling penting adalah keberanian untuk berbicara dan mencari bantuan profesional jika gejala menetap lebih dari tiga minggu.
"Pria sering diajarkan bahwa mencari dukungan untuk kesehatan mental mereka adalah tanda kelemahan, tapi itu tidak benar," tegas Borland. "Meminta bantuan tidak berarti kamu tidak berdaya. Itu berarti kamu melakukan apa yang perlu kamu lakukan, sehingga kamu dapat menjadi pria terbaik, dan ayah terbaik, yang kamu bisa." (Z-1)





