Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat dan Israel perlu dengar bahwa Rusia dan China ada di belakang Iran. Meski tidak eksplisit, namun dua negara tersebut seolah melindungi Teheran.
Dilansir dari VOA.GOV, Rusia dan China terus menghalangi kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bagian dari kolaborasi mereka dengan rezim Iran, kata Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz.
Laporan menyebut bahwa pada 19 September 2025, Dewan Keamanan PBB memberikan suara untuk mengaktifkan kembali enam resolusi Dewan Keamanan yang sebelumnya ditangguhkan terkait Iran.
Ini berarti bahwa semua negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menerapkan embargo senjata terhadap Iran dan melarang transfer dan perdagangan teknologi rudal.
Selain itu, Waltz juga menyebut jika perintah ini sekaligus bisa membekukan aset keuangan terkait sesuai dengan sanksi PBB yang kuat yang telah berlaku sebelum tahun 2015 dan sekarang telah diberlakukan kembali.
“Ketentuan PBB yang akan diberlakukan kembali…bercakupan sempit untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir, rudal, dan senjata konvensional Iran serta dukungan Iran yang berkelanjutan terhadap terorisme," katanya.
Baca Juga
- Ngeri, Iran Berhasil Hancurkan Jet Siluman F-35 Milik AS
- Israel Sebut Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib dalam Sebuah Serangan
- Militer Bahrain Cegat Ratusan Rudal dan Drone sejak Iran Balas Serangan Israel-AS
“Iran memiliki banyak kesempatan untuk mencegah hasil ini,” tegas Duta Besar Waltz.
Namun, Iran tetap menentang. Laporan Direktur Jenderal IAEA baru-baru ini menegaskan kembali bahwa Iran adalah satu-satunya negara di dunia tanpa senjata nuklir yang telah memproduksi dan mengakumulasi uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Laporan yang sama menyatakan bahwa selama lebih dari delapan bulan terakhir, Iran menolak untuk memberikan informasi terbaru kepada IAEA atau akses ke stok uranium mereka.
Tapi Rusia dan China berusaha menghalangi manuver yang dilakukan PBB tersebut.
Mengacu pada alasan ini, Waltz mengatakan bahwa sikap Rusia dan China ini seolah melindungi Iran.
“Yang sebenarnya adalah bahwa Rusia dan China… ingin melindungi mitra mereka, Iran, dan terus mempertahankan kerja sama pertahanan yang sekarang sekali lagi dilarang,” kata Duta Besar Waltz.
Sebagaimana diketahui, negara-negara tersebut telah mempertahankan hubungan perdagangan militer.
Pada tahun 2022, Rusia mulai membeli drone Iran yang melanggar Resolusi PBB 2231, yang memberlakukan pembatasan waktu terhadap aktivitas senjata nuklir dan konvensional Iran.
Rusia juga telah memperoleh rudal balistik jarak dekat dari Iran dan menyediakan helikopter serang kepada Iran awal tahun ini, yang melanggar Resolusi 1929, yang memberlakukan sanksi yang lebih berat terhadap program nuklir rezim tersebut.
“Semua ini terjadi sementara Iran terus menghindari sanksi, menembakkan rudal balistik dan drone ke warga sipil di kawasan tersebut, menyerang kapal-kapal sipil di Teluk, dan menimbulkan kekacauan di Selat Hormuz,” kata Duta Besar Waltz.
Terlepas dari halangan Rusia dan China, Amerika Serikat akan terus berupaya untuk memastikan Iran tidak lagi dapat menyandera dunia dengan program rudal, drone, dan nuklirnya.





