Presiden Prabowo Subianto menyinggung pelaporan hanya untuk menyenangkan atasan atau “asal bapak senang” telah membudaya di Indonesia. Menurutnya, ini menjadi masalah dan dapat berdampak fatal dalam pengambilan kebijakan negara.
“Budaya asal Bapak senang, asal Ibu senang, laporan palsu ini sudah membudaya. Saya kira di semua institusi, ini bagian dari masalah kita,” kata Prabowo dalam diskusi bersama jurnalis dan pakar di Hambalang, Bogor, yang dikutip pada Jumat (20/3).
Prabowo mengatakan perlu ada budaya baru di mana pemimpin mau dan berani menerima laporan yang tidak ideal. Menurutnya, pemimpin perlu menerima kenyataan walaupun pahit.
“Kita harus untuk kita harus siap terima tidak baik, kita harus siap dimaki-maki, kita harus siap dicurigai,” katanya.
Eks Menteri Pertahanan ini juga bercerita dia mengamati unggahan dan siniar media sosial yang berisi tentang kritik terhadap kebijakannya. Dia melakukan ini untuk menjadi bahan evaluasi kebijakannya, sekaligus menguji kebenaran laporan yang dia terima.
Dia mengatakan beberapa kritik memang “kurang ajar”, tetapi dia menerimanya sebagai bahan evaluasi langsung ke lapangan.
Kasus MBG Menjadi ContohDia mencontohkan kritik tajam kepada makan bergizi gratis (MBG) membuatnya mengevaluasi kondisi sejumlah dapur umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hasilnya, 1.030 SPPG telah diberhentikan sementara untuk perbaikan kualitas.
Dia sempat memanggil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana untuk melakukan verifikasi, hingga menugaskan timnya turun langsung memantau kondisi program MBG.
Pemerintah pun menerapkan sertifikasi dalam operasional dapur program MBG. Ia menyebut, dapur yang ingin beroperasi wajib memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk kualitas air.
Dapur MBG yang tidak memenuhi ketentuan akan disanksi, mulai dari ditutup permanen maupun sementara. Prabowo juga mengatakan, BGN telah membuka hotline pengaduan SPPG melalui nomor bebas pulsa. Ia menyebut masyarakat termasuk orang tua dan pihak sekolah boleh mengkritik.




