Terkini, Makassar – Film Sci-Fi Indonesia ‘Pelangi di Mars’ resmi hadir di seluruh bioskop di Tanah Air, termasuk di Makassar. Raffi Ahmad yang merupakan pemilik Rans Entertainment, salah satu rumah produksi yang ikut menggarap film ini, hadir di Makassar pada 20 Maret 2026.
Raffi hadir bersama Messi Gusti, pemeran utama ‘Pelangi’ dalam film keluarga tersebut, Upie Guava selaku sutradara, Dendi Reynando selaku produser dan Bimo Kusuma pengisi suara karakter Robot Batik.
Kepada wartawan, Raffi mengungkapkan film yang digarap hingga lima tahun ini punya cerita yang sangat menarik. Anak bungsunya, Rayyanza, bahkan sangat suka dengan film tersebut.
“Rayyanza senang seneng banget, sampai dia ingin sekali bertemu dengan tokoh robot Batik dan Yoman. Kita senang sekali di lebaran ini, ada film animasi, sci fi, dan kami ingin mengapresiasi,” ungkap Raffi Ahmad yang mengaku datang mewakili istrinya, lantaran sang istri, Nagita Slavina sedang sibuk karena jelang lebaran.
Upie Guava sendiri mengungkapkan, Pelangi di Mars lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan cerita yang menyalakan kembali mimpi anak-anak Indonesia.
“Film ini sebenarnya berbasis dari kebutuhan untuk bermimpi menjadi petualang. Salah satu inspirasinya adalah tokoh Ibu Pratiwi yang ada di film ini, yang merupakan tokoh asli. Indonesia pernah punya astronot tahun 1986, namanya Ibu Pratiwi Sitarpono. Namanya kami abadikan menjadi tokoh ibu Pelangi,” jelas Upie.
Ia juga menambahkan, seluruh proses pengambilan gambar dilakukan menggunakan teknologi mutakhir.
“Kami shooting 100 persen menggunakan teknologi Studio XR Production. Prosesnya berlangsung selama dua sampai tiga minggu di studio yang kami bangun di Jakarta khusus untuk teknologi ini,” ungkapnya.
Pelangi di Mars menjadi salah satu film Indonesia pertama yang menggunakan teknologi Extended Reality (XR) secara masif.
Teknologi ini memungkinkan penciptaan dunia Mars yang imersif, detail, dan memukau, menjadikannya salah satu lompatan terbesar dalam sejarah perfilman nasional.
Proses produksi film ini memakan waktu hampir lima tahun, melibatkan ratusan talenta dari berbagai daerah di Indonesia—mulai dari animator, editor, VFX artist, hingga para pengisi suara dan body actor yang selama ini jarang mendapat sorotan.




