Ribuan jemaah memadati halaman parkir Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). Karena jumlah jemaah yang meluber, ruas Jalan Menteng Raya sempat ditutup sementara guna menampung pelaksanaan ibadah.
Bertindak sebagai imam yakni Ahmad Maulana Yusuf, sementara khotbah Idulfitri disampaikan oleh Dr. Izza Rohman dengan mengangkat tema “Idulfitri dan Ketahanan Pangan Dunia”.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam pelaksanaan salat tersebut, di antaranya Muhadjir Effendi Utusan Khusus Presiden Bidang Haji, Fadlul Imansyah Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), serta Zulfikar Ahmad Tawalla Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Dalam khotbahnya, Izza Rohman menekankan pentingnya menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT, baik atas nikmat spiritual maupun nikmat duniawi seperti pangan.
“Bersandarkan kepada yang sempurna, jangan bersandar pada yang tidak sempurna. Semua pujian hanya layak kepada Allah,” ujar Izza dalam khotbahnya.
Ia mengajak umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, khususnya setelah menjalani ibadah Ramadan.
Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga melalui sikap menjaga dan memanfaatkan nikmat dengan baik, termasuk dalam hal pangan.
“Bagaimana menyukuri nikmat makanan, pertanyaan ini sederhana tapi penting. Tidak hanya di saat Idulfitri, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Izza juga menyinggung peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait potensi krisis pangan global, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
“Data PBB menunjukkan 30 persen makanan terbuang sia-sia, padahal sepertiga manusia di dunia kekurangan pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mensyukuri nikmat pangan berarti merawat dan tidak menyia-nyiakan makanan, serta membangun kesadaran untuk berbagi dengan sesama.
“Menyukuri berarti merawat. Tidak membiarkan makanan menjadi basi, demi persediaan negeri dalam jangka panjang dan menghadapi krisis pangan,” tutur Izza.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rasa syukur sejatinya kembali kepada manfaat bagi manusia itu sendiri, bukan untuk Allah SWT.
“Bila kita bersyukur, hakikatnya untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan karena Allah memerlukan imbalan,” ucapnya.
Dalam khotbah tersebut, Izza juga menegaskan bahwa ciri orang bertakwa adalah gemar berbagi, mampu menahan amarah, serta mudah memaafkan.
“Orang bertakwa gemar memberi, baik saat lapang maupun sempit, tidak mudah meluapkan marah, dan mampu memaafkan,” katanya.
Di akhir khotbahnya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus kepedulian sosial.
Seperti diketahui, pemerintah melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dengan demikian, pelaksanaan Salat Idulfitri oleh pemerintah berlangsung sehari setelah pelaksanaan yang digelar Muhammadiyah pada Jumat (20/3/2026).(faz/bil/iss)




