Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik. Hal ini menjadi komitmen Purbaya meski saat ini harga minyak dunia sudah berada pada level USD 100 per barel.
Purbaya menjelaskan, kenaikan harga minyak akan ditangani melalui mekanisme APBN.
“Tidak (harga BBM subsidi tidak naik). Jadi kita absorb tekanan terhadap perekonomian di APBN. Kalau kita lepas, kan, nanti kayak negara-negara lain pada panik tuh orang-orang,” kata Purbaya di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/3).
Ia juga ingin masyarakat mengerti APBN memiliki peran untuk melakukan absorpsi atau menyerap guncangan seperti yang terjadi pada harga minyak saat ini. Dengan begitu, beban yang ditanggung masyarakat tak akan naik signifikan.
“Jadi masyarakat mesti ngerti juga bahwa peran APBN adalah meng-absorb shock seperti ini, sehingga masyarakat masih bisa melakukan bisnisnya, kegiatannya, tanpa kenaikan beban yang berlebihan. Itu yang kadang-kadang dilupakan orang,” lanjutnya.
Namun, Purbaya tak menampik harga minyak dunia yang berada di atas asumsi APBN yakni USD 70 per barel memang bisa melebarkan defisit. Tapi, defisit akan melebar jika pendapatan negara tak mengalami kenaikan.
Terkait itu, Purbaya ingin memastikan defisit tetap terjaga di bawah 3 persen. Hal ini nantinya akan mengandalkan hal windfall profit tax atau pajak tambahan yang dikenakan pemerintah terhadap industri tertentu yang memperoleh keuntungan di atas rata-rata.
“Tapi, kan, ada langkah-langkah yang bisa diambil untuk memastikan itu (defisit 3 persen) enggak tembus. Dan kita juga ada windfall profit, kan. Kita akan maksimalkan windfall profit juga. Jadi, seharusnya enggak ada masalah,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut subsidi untuk BBM masih aman jika harga minyak dunia ada di level USD 100 per barel.
“Berapa harga subsidinya? Itu kita lihat perkembangan geopolitik. Tapi kalau dengan harga insyaallah, kalau USD 100, antara USD 100, sekarang, kan, USD 70. Kalau masih USD 100 itu insyaallah masih dalam koridor APBN,” kata Bahlil usai melepas rombongan mudik sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Selasa (17/3).
“Masih bisa kita exercise, tapi ini masih dalam bahasan,” lanjutnya.
Terkait stok BBM sampai setelah Maret, Bahlil menjelaskan sudah memiliki strategi. Untuk itu, ia juga akan terus memastikan negara terus hadir dalam urusan subsidi BBM.
“Sudah, strateginya setelah Maret itu sudah kita lakukan. Bagi yang penting adalah kita, stok semuanya harus ada. Supaya tidak ada kelangkaan di Indonesia. Baik LPG, bensin, maupun solar. Menyangkut harga, negara akan tetap hadir untuk subsidi. Tetap akan hadir,” ujarnya.




