LPEI Ramal Pertumbuhan Ekspor RI 2026 Melambat ke 5%, Imbas Perang di Timteng

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memproyeksikan laju pertumbuhan ekspor nasional akan mengalami perlambatan pada 2026, imbas dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengerek volatilitas harga energi global dan biaya logistik antaranegara.

LPEI memperkirakan ekspor Indonesia pada 2026 masih dapat tumbuh pada kisaran 4%–5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Proyeksi tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan capaian kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 yang berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,15% YoY menjadi US$282,91 miliar.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani meyakini bahwa dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia sejatinya diperkirakan relatif terbatas mengingat eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil.

Rini menjelaskan, terbatasnya dampak langsung itu tecermin dari data yang menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional.

Kendati demikian, sambungnya, risiko utama justru muncul secara tidak langsung: kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama diyakini akan memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.

"Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia," ujar Rini dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).

Baca Juga

  • Arab Saudi Mulai Pulihkan Ekspor Minyak via Jalur Pintas Hormuz
  • Trump Serang Pusat Ekspor Iran: Saham AS Rontok, Harga Minyak Melejit

Ancaman Kenaikan Biaya Produksi

Lembaga di bawah Kementerian Keuangan ini memproyeksikan, jika ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama maka harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran US$85—US$120 per barel secara rata-rata. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar US$60 per barel.

Kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan.

Tekanan juga berpotensi muncul dari pasar keuangan. Rini menjelaskan bahwa volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Masalahnya, pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik sehingga memperbesar tekanan biaya bagi sektor yang berorientasi ekspor.

Selain itu, negara konsumen energi utama seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan juga merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia. Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

Di tengah berbagai risiko tersebut, Rini menuturkan masih ada dampak positif bagi neraca dagang RI. Beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikan harga seiring kenaikan harga energi global.

Batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8%–9% terhadap total ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga. Harga minyak kelapa sawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring masih solidnya permintaan global terhadap komoditas agro.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” jelas Rini.

Oleh sebab itu, LPEI memproyeksikan ekspor Indonesia berpotensi melambat 4%-5% pada tahun ini. Kemudian, laju pertumbuhannya membaik menjadi sekitar 5-6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan meredanya tensi geopolitik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PSSI Bantah Ole Romeny Cedera, Pengamat: Semoga Bisa Menggebrak di FIFA Series 2026
• 8 jam lalubola.com
thumb
Bank Sumsel Babel Siapkan Rp1,2 Triliun Dukung Idulfitri 1447 H
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Iran, Mashhad, dan Keteguhan yang Tak Banyak Bicara
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Fendi Bocah Gunungkidul Putus Sekolah demi Rawat Ibu, Relawan Prabowo: Kita Kawal!
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Usai Bertemu Presiden Prabowo, Menko Airlangga sebut Pemerintah Akan Genjot Produksi Batu Bara di Tengah Konflik Timur Tengah
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.