Tidak Tumbang Meski Dikeroyok: Iran dan Batas Kekuatan Israel–AS

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Narasi eskalasi terbaru di Timur Tengah kembali menunjukkan satu hal yang sering luput dari optimisme militer Barat: perang modern bukan sekadar soal superioritas teknologi, melainkan juga ketahanan politik, psikologis, dan geografis.

Seperti yang saya ikuti pada artikel Press TV—media internasional milik Republik Islam Iran—berjudul "100 Israeli targets struck': IRGC avenges Dr. Larijani's martyrdom in 61st wave of Op. True Promise 4" (18 Maret 2026), dilaporkan bahwa Iran melalui IRGC menyerang lebih dari 100 target di Tel Aviv menggunakan berbagai sistem rudal strategis. Artikel ini menyebutkan adanya “partial blackout” dan tekanan terhadap sistem pertahanan udara Israel.

Terlepas dari bila ada anggapan bias yang mungkin melekat pada sumber tersebut, satu fakta geopolitik yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa konflik ini telah memasuki fase baru: perang terbuka dengan intensitas tinggi antara Iran dan blok Israel–Amerika Serikat, dengan implikasi regional yang sangat luas.

Israel di Bawah Tekanan: Ilusi Iron Dome dan Realitas Overstretch

Selama ini, Israel membangun citra sebagai negara dengan sistem pertahanan udara paling canggih di dunia. Namun, dalam perang saturasi—yakni serangan bertubi-tubi dalam jumlah besar—bahkan sistem seperti Iron Dome atau David’s Sling memiliki keterbatasan struktural. Jika klaim Iran mendekati kenyataan, yang sedang terjadi bukan sekadar serangan, melainkan juga pengujian terhadap kapasitas maksimum pertahanan Israel.

Masalah utama Israel bukan hanya pada aspek militer, melainkan juga demografis dan psikologis. Negara dengan populasi relatif kecil akan menghadapi tekanan luar biasa ketika infrastruktur sipil terganggu secara simultan di banyak titik, seperti Tel Aviv, Haifa, hingga Be'er Sheva. Ketika ruang aman menyempit, legitimasi pemerintah pun ikut tergerus.

Lebih jauh, Israel menghadapi dilema klasik overstretch: semakin luas medan operasi—termasuk potensi front di Lebanon, Gaza, hingga Iran langsung—semakin sulit mempertahankan stabilitas domestik.

Amerika Serikat dan Sekutu: Hegemoni yang Terkikis dari Pinggiran

Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini bukan sekadar dukungan terhadap Israel, melainkan juga ujian terhadap kredibilitas globalnya. Pangkalan-pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Kuwait kini berubah dari simbol proyeksi kekuatan menjadi target strategis.

Ini menciptakan paradoks geopolitik: kehadiran militer yang dimaksudkan untuk menjamin stabilitas justru menjadi faktor instabilitas. Dalam kerangka teori realisme klasik ala Thomas Hobbes, kondisi ini menyerupai “state of nature” antarnegara—ketika tidak ada otoritas global yang benar-benar mampu menahan eskalasi dan setiap aktor bertindak berdasarkan survival.

Sekutu AS di kawasan juga berada dalam posisi dilematis. Mendukung Washington berarti membuka diri terhadap serangan balasan Iran atau kelompok proksi, sementara bersikap netral berisiko merusak hubungan strategis jangka panjang dengan Barat. Fragmentasi sikap ini berpotensi melemahkan kohesi aliansi Barat itu sendiri.

Iran: Negara yang Sulit Ditaklukkan dalam Logika Perang Modern

Ada asumsi lama dalam strategi militer Barat bahwa tekanan maksimum—baik melalui sanksi, isolasi, maupun serangan militer—akan memaksa lawan untuk menyerah. Namun, Iran bukan Irak tahun 2003. Dengan geografis yang luas, populasi besar, jaringan proksi regional, dan kapasitas rudal yang terus berkembang, Iran lebih menyerupai “hard target” dalam istilah militer.

Ketahanan Iran bukan hanya militer, melainkan juga ideologis. Negara ini memposisikan konflik sebagai bagian dari resistensi terhadap hegemoni global, yang memberi legitimasi domestik sekaligus dukungan dari jaringan non-negara di kawasan. Ini membuat setiap serangan eksternal justru berpotensi memperkuat kohesi internal, bukan melemahkannya.

Dalam konteks ini, strategi “mengeroyok” Iran justru berisiko memperluas konflik menjadi perang kawasan penuh—melibatkan aktor non-negara di Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Medan perang menjadi cair, tidak lagi terpusat, dan sulit dikendalikan.

Meja Perundingan atau Eskalasi Tanpa Ujung

Pertanyaan kunci bukan lagi "Apakah perang ini akan berlanjut?" melainkan "Dalam bentuk apa?" Ada dua skenario besar yang bisa dibaca.

Skenario pertama adalah eskalasi berkelanjutan dengan intensitas naik-turun. Dalam model ini, tidak ada pihak yang benar-benar menang, tetapi semua pihak terus menunjukkan kekuatan untuk menjaga posisi tawar. Ini mirip dengan pola konflik Iran–AS sebelumnya, hanya dengan level risiko yang jauh lebih tinggi.

Skenario kedua adalah menuju meja perundingan, tetapi bukan karena niat damai, melainkan karena kelelahan strategis. Ketika biaya perang—baik ekonomi, politik, maupun militer—melampaui manfaat, aktor-aktor besar biasanya mencari “exit strategy” yang bisa dijual sebagai kemenangan simbolik.

Namun, hambatan terbesar menuju perundingan adalah persepsi. Bagi Iran, mundur berarti kehilangan kredibilitas resistensi. Bagi Israel, berhenti berarti mengakui kerentanan. Bagi Amerika Serikat, kompromi bisa dibaca sebagai kemunduran hegemoni global.

Dalam situasi seperti ini, perang sering kali berlanjut bukan karena rasionalitas, melainkan karena jebakan reputasi dan kalkulasi domestik masing-masing aktor. Timur Tengah kembali menjadi panggung di mana kekuatan besar menguji batasnya—dan justru menemukan bahwa tidak semua konflik bisa dimenangkan, bahkan dengan aliansi sekalipun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Arus Balik di Bandara Sentani Diprediksi Terjadi H+6 Lebaran
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polri Evaluasi One Way Nasional di KM 70 Tol Jakarta-Cikampek
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Warga Aceh Wajib Tahu! Sebanyak 50 Lokasi telah Ditetapkan Muhammadiyah jadi tempat Ibadah Shalat Id
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Instruksikan Menteri Agar Efisiensi Menyasar kepada Sektor Spesifik
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Fiorentina dan Crystal Palace Lolos Dramatis ke Perempat Final Liga Conference Usai Singkirkan Lawan di 16 Besar
• 10 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.