Dalam tradisi kuliner Lebaran di Lampung, lapis legit menjadi hidangan istimewa. Kue basah dengan tekstur berlapis-lapis itu kerap dijuluki sebagai ”Kue Sultan”. Bagaimana kisahnya?
Rumah produksi lapis legit milik Dessy Senage (43) selalu ramai pesanan saat momen Lebaran seperti sekarang. Sepekan jelang Idul Fitri, Dessy dibantu tiga karyawannya sudah sibuk memproduksi puluhan kue lapis legit pesanan pelangggan.
Kudapan istimewa itu sudah tentu dipesan untuk perayaan Lebaran. Kue lapis legit biasanya disajikan di meja tamu, bersanding dengan aneka kue kering lainnya, seperti nastar atau kue sagu. Di Lampung, lapis legit menjadi hidangan spesial untuk dinikmati bersama keluarga serta suguhan bagi tamu.
Ciri khas utama lapis legit terletak pada tampilannya yang berlapis-lapis tipis dengan warna keemasan yang menggoda. Setiap lapisan dipanggang satu per satu sehingga menghasilkan tekstur yang padat dan lembut. Inilah yang membuat lapis legit dikenal sebagai kue istimewa karena membutuhkan kesabaran dan keahlian khusus dalam proses pembuatannya.
Tak hanya itu, lapis legit juga dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas untuk menjaga cita rasanya. Untuk membuat satu loyang lapis legit saja, dibutuhkan kuning telur sebanyak 20-30 butir. Kuning telur itu akan dikocok dengan gula dan mentega premium serta campuran rempah, seperti kayu manis, cengkeh, atau kapulaga. Kombinasi bahan menjadi kunci kelezatan lapis legit yang manis dan beraroma kuat.
Pagi itu, Senin (16/3/2026), seorang karyawan dengan telaten menuangkan satu sendok adonan lapis legit ke dalam loyang berukuran 20 sentimeter x 20 sentimeter. Loyang itu lalu dimasukkan ke oven untuk dipanggang selama sekitar lima menit.
Setelah matang, loyang yang berisi lapis legit yang sudah matang itu dikeluarkan dari dalam oven untuk diisi dengan satu sendok adonan untuk lapisan berikutnya. Ida yang diberi tugas memanggang kue pun dengan telaten mengisi satu per satu loyang dengan adonan.
Ketebalan satu lapisan adonan kue lapis legit kurang dari 0,5 sentimeter. Untuk menghasilkan satu loyang lapis legit saja, dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk memanggang kue. Karena itulah, tak heran jika lapis legit dijuluki sebagai ”Kue Sultan”.
”Selain proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kue ini juga premium sehingga biaya produksi relatif tinggi,” kata Dessy kepada Kompas.
Penggunaan bahan premium dan proses pembuatan yang rumit dan panjang itu membuat harga kue ini cukup mahal. Satu loyang kue lapis legit dibanderol dengan harga Rp 300.000-Rp 600.000 per buah. Jika ada permintaan khusus dari konsumen yang menginginkan lapis legit yang lebih premium lagi, harga satu loyang lapis legit bisa lebih mahal lagi, mencapai Rp 800.000.
Dessy mengatakan, sebagian besar pelanggan merupakan masyarakat Lampung yang memesan lapis legit untuk sajian istimewa saat Lebaran. Setiap tahun, dia bisa mendapat pesanan lebih dari 40 loyang lapis legit untuk dikirim ke sejumlah daerah di Lampung. Namun, ada juga pembeli yang berasal dari luar Kota Bandar Lampung.
Kalau bertamu ke rumah keluarga saat Lebaran, selalu ada sajian lapis legit.
Seiring perkembangan zaman, kata Dessy, lapis legit juga mengalami inovasi. Berbagai varian rasa, seperti cokelat, keju, hingga prunes, mulai bermunculan untuk menyesuaikan selera generasi muda. Meski demikian, cita rasa klasik lapis legit tetap menjadi favorit dan tidak tergantikan.
Bagi banyak keluarga di Lampung, menyajikan lapis legit menjadi bagian dari menjaga tradisi kuliner keluarga. ”Selama ini, kue lapis legit memang hanya disajikan pada momen tertentu, seperti hari raya Idul Fitri atau saat ada acara besar lainnya,” ucap Fitri (35), salah satu masyarakat keturunan suku Lampung yang tinggal di Kabupaten Lampung Tengah.
Sejak berkeluarga, Fitri juga turut melestarikan tradisi kuliner Lebaran dengan menyajikan lapis legit di meja tamu. Di kalangan masyarakat Lampung, lapis legit menjadi simbol kesungguhan tuan rumah dalam memberikan sajian terbaik. Kue ini menunjukkan penghormatan bagi keluarga ataupun tamu yang datang.
”Kalau bertamu ke rumah keluarga saat Lebaran, selalu ada sajian lapis legit. Jadi, saya pun merasa kurang lengkap kalau tidak menyajikan lapis legit di meja tamu,” ucap Fitri.
Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi dari Universitas Lampung Risma Margaretha Sinaga mengatakan, lapis legit menyimpan makna simbolis yang berkaitan dengan piil pesenggiri atau falsafah hidup masyarakat Lampung. Falsafah hidup itu adalah nemui nyimah yang berarti sikap terbuka, ramah tamah, dan murah hati dalam menyambut tamu atau sesama.
Kue lapis legit yang dibuat dengan bahan yang istimewa dan proses pembuatan yang panjang dinilai dapat menjadi simbol sajian istimewa itu.
”Nilai-nilai yang terkandung dalam nemui nyimah membuat masyarakat Lampung ingin memberikan sajian terbaik untuk keluarga dan para tamu saat hari terbaik, yaitu hari raya Lebaran. Artinya, ini bentuk kebahagiaan orang Lampung karena tidak setiap hari mereka menyajikan kue lapis legit,” tuturnya.
Risma berpendapat, lapis legit merupakan salah satu kuliner tradisional yang mengandung akulturasi budaya dari luar negeri, khususnya Belanda yang dibawa saat masa kolonial. Hal itu terlihat dari penggunaan bahan-bahannya, seperti telur dan mentega atau margarin.
Selain itu, terdapat juga akulturasi budaya dari berbagai suku lain di wilayah Sumatera. Di beberapa daerah lain di Sumatera, terdapat pula kue lapis tradisional, seperti kue maksuba yang merupakan kue lapis tradisional dari Sumatera Selatan atau lapis bangka dari Kepulauan Bangka Belitung.
Dahulu, ujarnya, kue lapis legit hanya tersaji di rumah-rumah kalangan bangsawan atau tokoh masyarakat ternama Lampung. Seiring makin banyaknya masyarakat yang memopulerkan kue ini, lapis legit kini banyak ditemui di rumah-rumah penduduk saat hari raya Lebaran.
Tak hanya dalam masyarakat Lampung, kue ini juga sudah diterima di kalangan masyarakat berbagai suku lain yang menetap di Lampung. Lapis legit juga sering kali dijadikan buah tangan atau oleh-oleh untuk keluarga atau kerabat dekat. ”Kue Sultan” menjadi pengikat yang menyatukan keluarga dalam momen kebersamaan.




