Bisnis.com, JAKARTA — Krisis penutupan Selat Hormuz mendorong negara-negara Asia meningkatkan pembelian minyak Amerika Serikat ke level tertinggi dalam tiga tahun.
Melansir Bloomberg pada Jumat (20/3/2026), sejumlah pedagang minyak menyebut, dalam beberapa hari terakhir, gelombang pembelian membuat volume minyak AS yang dijadwalkan dikirim ke Asia pada April mencapai sekitar 60 juta barel. Data Kpler Ltd. dan Vortexa Ltd. menunjukkan angka itu menjadi yang tertinggi sejak April 2023.
Penutupan Selat Hormuz akibat perang di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran berdampak besar bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Teluk Persia. Kondisi itu memicu pengurangan operasi kilang serta larangan ekspor bahan bakar di China.
Produsen minyak AS menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dari lonjakan permintaan dan kenaikan harga tersebut. Namun, harga minyak mentah dan bahan bakar yang lebih mahal berpotensi menekan konsumen.
Salah satu pengiriman ke Taiwan dilaporkan dihargai dengan premi sekitar US$12 hingga US$13 per barel dibandingkan patokan Dated Brent, kata sejumlah pedagang tersebut trader. Pengiriman lainnya dipatok sekitar US$18 per barel di atas patokan Dubai.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan transaksi serupa bulan lalu sebelum perang, yang hanya mencatat premi sekitar US$5 hingga US$6 per barel di atas patokan Dubai. Pergerakan harga yang sangat fluktuatif pada pekan ini juga membuat proses penetapan harga menjadi lebih kompleks.
Krisis tersebut juga memicu lonjakan aktivitas di pasar pengiriman. Pialang kapal melaporkan peningkatan tajam pemesanan kapal dan biaya pengangkutan.
Volume minyak mentah AS yang perlu dikirim ke Asia begitu besar sehingga para trader mulai menggunakan kapal tanker yang lebih kecil seperti Aframax, selain kapal supertanker Very Large Crude Carrier (VLCC) yang biasanya mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak.
Para pedagang minyak memperkirakan sekitar dua pertiga dari total pengiriman sekitar 60 juta barel tersebut akan diangkut menggunakan VLCC, sementara sisanya menggunakan kapal yang lebih kecil seperti Aframax dan Suezmax.
Meski signifikan, pasokan tambahan minyak AS tersebut belum akan langsung mengatasi krisis bagi kilang di Asia. Pengiriman yang dimuat pada April umumnya baru akan tiba di tujuan sekitar dua bulan kemudian.
Pembeli minyak tersebut termasuk kilang di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Thailand. Volume pembelian masih berpotensi bertambah karena jendela pemesanan kargo minyak AS untuk pengiriman April masih terbuka untuk sementara waktu.
Secara keseluruhan, AS biasanya mengekspor sekitar 110 juta barel minyak per bulan, dengan sekitar setengahnya dikirim ke Eropa dan lebih dari sepertiganya menuju Asia, menurut data Kpler dan Vortexa. Pada dua bulan pertama tahun ini, pembeli di Asia masing-masing mengambil sekitar 35 juta barel minyak AS per bulan.





