Banyak titik singgah, Jalur Selatan Tasikmalaya-Cilacap dan ceritanya

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Cilacap (ANTARA) - Jalur selatan Pulau Jawa pernah dikenal sebagai rute panjang yang penuh cerita, ketika perjalanan diisi oleh jeda di berbagai titik dan kondisi jalan yang tidak selalu sama. Pengalaman itu masih terasa dalam perjalanan dari Kota Tasikmalaya (Jawa Barat) menuju Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah).

Pukul 10.00 WIB pada Senin (16/3) atau sekitar lima hari sebelum Lebaran, perjalanan dari Tasikmalaya menuju ke Cilacap dimulai. Sebelum benar-benar meninggalkan kota, tim ANTARA mengisi bahan bakar sekitar Rp200.000 sebagai bekal untuk menempuh jalur selatan di wilayah Jawa Barat itu.

Rute yang dilalui adalah jalan provinsi, yakni jalur Tasikmalaya ke Ciamis. Berbeda dengan bayangan banyak orang tentang jalur selatan yang berliku, ruas ini justru relatif landai. Jalanan cukup mulus, meski di beberapa titik masih terasa kasar. Volume kendaraan pun masih lengang, sehingga perjalanan lancar.

Di perbatasan antara Tasikmalaya dengan Ciamis, tepatnya di atas Sungai Citanduy, tim berhenti di Jembatan Cirahong. Jembatan itu memiliki dua fungsi sekaligus, yakni jalur kereta api di bagian atas dan jalur kendaraan di bagian bawah, menjadikannya salah satu jembatan lintas ganda yang cukup ikonik di wilayah tersebut.

Di lokasi itu terlihat antrean pengendara sepeda motor yang hendak melintas dari Ciamis menuju Tasikmalaya. Arus kendaraan dari arah sebaliknya juga tampak mulai meningkat, meski belum menunjukkan kepadatan signifikan.

Setelah sekitar dua jam melakukan peliputan, perjalanan dilanjutkan menuju Banjar melalui jalur provinsi. Kondisi jalan tetap relatif mulus dan tidak berliku, dengan arus kendaraan yang masih lancar. Pelat nomor kendaraan dari luar daerah, terutama dari Jakarta, mulai terlihat melintas menuju arah Jawa Tengah.

Tim tiba di Banjar sekitar pukul 15.00 WIB dan sempat berhenti di Pos Terpadu Banjar untuk memantau situasi lalu lintas, menjelang arus mudik.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Cilacap. Hujan deras mulai turun, disertai kondisi jalan yang bergelombang. Hari pun berangsur gelap, membuat perjalanan terasa lebih menantang.

Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di Majenang, Kabupaten Cilacap, dan tiba sekitar pukul 22.00 WIB.



Akhir perjalanan

Perjalanan kembali dilanjutkan keesokan harinya sekitar pukul 07.00 WIB. Sebelum melanjutkan perjalanan, tim menyempatkan singgah di Masjid As-Shodiqin yang berada di jalur Banjar–Majenang, tepat di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Masjid ini menarik perhatian karena arsitekturnya yang unik. Selain bangunan utama, kawasan masjid juga dilengkapi danau buatan yang mengelilingi area, serta wahana air yang memungkinkan pengunjung berkeliling. Fasilitas tersebut menjadikan masjid itu tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk singgah bagi pengguna jalan.

Tim berada di lokasi itu sekitar dua jam, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Cilacap melalui jalur alternatif Sidareja.

Berbeda dengan ruas sebelumnya, kondisi jalan di jalur itu tidak sepenuhnya mulus. Beberapa titik masih ditemukan jalan berlubang dan bergelombang, dengan kontur yang berkelok. Kondisi tersebut membuat perjalanan terasa lebih menegangkan, terutama bagi pengendara yang tidak terbiasa melintasi jalur tersebut.

Setelah melintasi jalur tersebut, tim tiba di Cilacap sekitar pukul 13.00 WIB dan langsung menuju kawasan Teluk Penyu, salah satu objek wisata yang cukup dikenal di wilayah tersebut. Di kawasan itu, tim juga menyempatkan singgah di Benteng Pendem, bangunan peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada 1861 hingga 1879 sebagai benteng pertahanan di pesisir selatan Pulau Jawa.

Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah pada Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah) Benteng yang sebagian strukturnya berada di bawah permukaan tanah tersebut, dulunya digunakan untuk mengawasi jalur laut di sekitar Teluk Penyu. Nama “Pendem” sendiri merujuk pada kondisi bangunan yang sempat tertimbun tanah, sebelum akhirnya digali kembali pada era 1980-an. Dalam bahasa jawa, kata pendem itu artinya adalah tertimbun.

Selain mengunjungi benteng, tim juga menengok aktivitas pedagang ikan asin di kawasan Taman Hiburan Rakyat Teluk Penyu. Deretan kios yang menjual berbagai hasil laut masih menjadi bagian dari wajah kawasan tersebut, meski aktivitasnya tidak seramai kawasan wisata pesisir lain di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Perjalanan dari Tasikmalaya menuju Cilacap ditempuh dalam waktu sekitar 26 jam, dengan tiga kali pemberhentian, termasuk satu kali bermalam.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa jalur selatan belum sepenuhnya dipadati kendaraan, namun tetap menghadirkan dinamika yang beragam, mulai dari jalan yang mulus, hingga ruas yang rusak, dari cuaca cerah hingga hujan deras.

Di sepanjang rute, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) masih mudah ditemukan, namun tim tidak menemukan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), yang mencerminkan masih terbatasnya penggunaan kendaraan listrik di jalur tersebut.

Jalur selatan mungkin tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian pemudik, namun bagi yang melintasinya, perjalanan ini tetap menawarkan pengalaman yang berbeda. Lebih tenang, lebih panjang, dan menyisakan ruang untuk berhenti, melihat, dan merasakan perjalanan itu sendiri.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua MA Sunarto Pimpin Wisuda Purnabakti Ketua PTA Kendari, Apresiasi Pengabdian Damsir | MA NEWS
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Apesnya Arema FC! Setiap Musim Ada 3 Pemain Alami Cedera Panjang
• 16 jam lalubola.com
thumb
Jasa Raharja: Pemberlakuan One Way & Kolaborasi Jadi Kunci Sukses Pengamanan Mudik
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Gaya Santai Kim Jong-un Dampingi Putrinya Ju Ae Jajal Tank Tempur
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Media Bulgaria Tak Habis Pikir, Jelas-jelas Bakal Hadapi Timnas Indonesia, Pelatih Mereka Sudah Pusing soal Masalah Internal Tim
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.