Berbagi makanan atau ater-ater jelang Idul Fitri merupakan tradisi yang masih terus melekat di masyarakat Jawa Timur. Ungkapan kasih dan empati pada sesama diwujudkan lewat hantaran bagi tetangga sekitar. Makanan hantaran pun kian bervariasi.
Rahmawati (46) sibuk membagi makanan kecil bidara keju dan sus kering dari kantong plastik kemasan besar ke dalam puluhan stoples kecil kemasan 150 gram. Agar tampilan terlihat kian menarik, tutup stoples itu diberi stiker berisi ucapan ”Selamat Idul Fitri” yang sekaligus berfungsi sebagai segel.
Selanjutnya, tiap stoples bidara keju dan sus kering dimasukkan ke tas-tas karton kecil. Hantara lalu dibagikan kepada para tetangga dan handai tolan di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (17/3/2026). ”Makanan ini sebagai pengganti. Kemarin kami juga dapat hantaran serupa dari tetangga dan handai tolan,” ujarnya.
Jelang Lebaran 2026, Rahmawati mendapatkan beragam kiriman makanan dari kerabat dan handai tolan yang juga dikemas menarik, mulai dari donat kekinian, puding, aneka roti dan kue tradisional, hingga nasi kotak lengkap dengan ayam kalar. Tak hanya makanan, dia juga mendapatkan hantaran berupa bahan pokok, biskuit, sirup, hingga peralatan perawatan tubuh.
Menurut dia, ater-ater (mengantarkan makanan, istilah Malangan) menjadi bagian tak terpisahkan saat Lebaran tiba. Berbagi makanan sebagai bentuk kebersamaan dan syukur jelang datangnya hari kemenangan. Kegiatan serupa dilaksanakan jelang Ramadhan lalu, tetapi saat itu lebih dominan ke makanan berat.
Ater-ater pun tak hanya dilakukan oleh mereka yang tinggal di perkotaan dan berada di sisi timur Jatim. Di daerah perdesaan, tradisi turun-temurun ini justru nuansanya lebih kental. Mengantarkan makanan ke rumah tetangga atau kerabat menjadi pemandangan lazim.
Eny Susilowati (39), salah satu warga Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, yang wilayahnya tidak jauh dengan perbatasan Jawa Tengah, menuturkan, tradisi ater-ater juga masih kental di wilayah subkultur Mataraman itu. Namun, menurut Eny, di wilayah tempat tinggalnya, makanan tersebut biasanya hanya diberikan kepada kerabat.
”Kalau tetangga, tidak. Di sini tetangganya banyak dan hampir semua kenal sehingga hanya fokus untuk keluarga dan kerabat. Itu juga yang lokasinya dekat dan masih bisa dijangkau. Kalau saudaranya di luar kota, agak susah,” ucapnya.
Mengutip Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, ater-ater berasal dari bahasa Jawa, angateri, yang berarti ’mengantar’. Tradisi ater-ater merupakan budaya lokal dari masyarakat Jawa. Tradisi ini biasanya memberikan sebuah hantaran atau bahasa kekiniannya hamper dari jenis barang atau produk tertentu.
Dalam hantaran ini tidak hanya satu jenis barang, tetapi bisa beberapa jenis barang dalam satu wadah, seperti gula, teh, dan roti atau makanan minuman siap saji.
Tradisi ater-ater dilakukan dengan memberikan hantaran kepada orang-orang yang pantas mendapatkan, seperti sanak saudara yang lebih tua atau terdekat. Karena itu, tradisi ater-ater dapat membuat orang menyimpulkan bahwa seseorang yang memberikan hantaran itu bersifat dermawan, baik hati, ramah, dan bersolidaritas tinggi. Hal ini juga bisa sebagai pernyataan rasa syukur menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.
Akademisi Fakultas Agama Islam sekaligus Ketua Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan Universitas Islam Malang, Imam Safi’i, melihat banyak nilai yang terkandung dalam tradisi ater-ater, salah satunya bentuk penghormatan terhadap saudara. Selain itu, juga empati, simpati, dan kerukunan. ”Banyak nilai di dalamnya. Tidak hanya sebatas makanan. Inilah yang menjadi esensi ater-ater selain dari sisi teologi tentunya,” katanya.
Dari sisi teologis atau agama, lanjut Imam, ater-ater menduduki dimensi penting. Agama mengajarkan umatnya untuk memelihara hubungan silaturahmi, dan salah satu bentuknya adalah dengan mengantarkan makanan dari satu saudara ke saudara yang lain.
”Itu kebiasaan yang bagus saya kira. Di Islam sendiri banyak dalil yang berbicara tentang pentingnya menjaga silaturahmi. Umat dianjurkan bagaimana memelihara tali silaturahmi. Bahkan, ada larangan jika memutus tali silaturahmi,”ujarnya.
Apaila kegiatan mengantarkan makanan itu kemudian menjadi tradisi atau budaya dalam kehidupan masyarakat, lanjut Imam, tentu tidak ada yang salah. Yang kurang pas jika di dalamnya ada pemaksaan. Misalnya, lantaran seseorang ingin mengembalikan makanan selevel dengan yang diterima, dia kemudian harus berutang, sedangkan kondisi ekonominya kurang mampu.
Ater-ater tak hanya dilakukan oleh masyarakat Jawa dan Madura, tetapi juga etnis lain dengan bentuk berbeda. Ada juga etnis yang mengundang untuk makan bersama di suatu tempat dengan alasan mempertebal silaturahmi, tidak mengantarkan satu per satu ke rumah orang yang dituju.
Bentuk ater-ater pun mengalami perkembangan sesuai perubahan zaman. Wadah dipilih yang lebih praktis dan menarik. ”Itu bisa jadi, saya kira menyesuaikan kemajuan. Kalau dulu kemasannya pakai rantang, sekarang bisa dalam wujud parsel dan lainnya,” lanjutnya.
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang, Luluk Dwi Kumalasari, mengatakan, ater-ater menjadi salah satu tradisi yang erat dengan Lebaran selain mudik. Masyarakat Jatim punya istilah sendiri-sendiri dalam penyebutan ater-ater. Di Jombang, asal tempat tinggalnya, misalnya, tradisi ini disebut dengan istilah weweh.
Weweh pun mengandung nilai sosial dan budaya. Awalnya, menu yang dibagikan hanya berupa nasi dan lauk, seperti mi dan sambal goreng, yang ditempatkan di dalam rantang tumpuk dan diprioritaskan untuk keluarga atau saudara. Tak hanya melibatkan orang tua, weweh juga melibatkan anak-anak sebagai kurir.
Nilai yang paling mudah dipahami dari kegiatan itu, menurut Luluk, pertama, adalah kesenangan karena pelibatan anak-anak. Biasanya, saat mengantarkan makanan, sang anak akan mendapat uang dari orang yang dikasih makanan. Kedua, tentu saja silaturahmi. Anak yang menjadi kurir menjadi lebih kenal dengan saudaranya.
”Nilai dalam konteks kekeluargaan pun muncul. Ketiga, ada nilai syukur, secara sosiologis kegiatan ater-ater sebenarnya bukan transaksional. Namun, lebih ke rasa syukur yang mendasari silaturahmi dan berbagi dengan saudara. Keempat, kasih sayang sebagai keluarga tentunya,” katanya.
Menurut Luluk, menu ater-ater memang telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Modernisasi telah memengaruhi semua lini, termasuk apa yang selama ini menjadi tradisi. Orang tak lagi hanya memberikan makanan dalam wadah rantang dengan isi nasi dan lauk, tetapi lebih beragam ke aneka kebutuhan Lebaran.
Perkembangan zaman, lanjut Luluk, membuat orang menjadi lebih rasional. ”Ada realitas keberfungsian dari ater-ater untuk menunjang kebutuhan Lebaran. Akhirnya berubah, banyak yang bentuknya sembako dan kue. Ada kopi, teh, gula, minyak. Kalau makanan saja, bisa langsung habis atau justru tidak habis karena yang memberi banyak sehingga terbuang,” tuturnya.





