Harga Minyak Dunia Rontok Usai AS Beri Sinyal Cabut Sanksi Kapal Tanker di Selat Hormuz

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia melanjutkan tren koreksi hingga sesi perdagangan hari ini, Jumat, 20 Maret 2026. Sentimen berasal dari pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, yang dinilai  memicu gejolak di pasar energi global.

Scoot mengatakan Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk segera mencabut sanksi dan kembali mengizinkan kapal tanker yang membawa cadangan minyak. Kebijakan ini bertujuan guna mengurangi tekanan harga menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Baca Juga :
Iran Tegaskan Tidak Sedang Lakukan Perundingan, Negara yang Bantu AS Dianggap Musuh
Selat Hormuz Masih Diblokir, Cadangan Minyak Terpaksa Mengalir

“Dalam beberapa hari ke depan, kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang berada di laut, sekitar 140 juta barel,” ujar Bessent dikutip dari CNBC Internasional, Jumat, 20 Maret 2026.

Scoot menambahkan, pencabutan sanski terhadap kapal-kapal tanker ini  dapat membantu menekan lonjakan harga minyak dalam jangka pendek, khususnya dalam 10 hingga 14 hari ke depan. Strategi AS untuk memberi angin segar terhadap sektor energi nampaknya berhasil.

Kapal tanker Yunani berhasil melewati Selat Hormuz
Photo :
  • shipsnostalgia

Harga minyak Brent turun 1,62 persen ke level US$106,89 atau Rp 1.809.540,81 (estimasi kurs Rp 16.930) per barel. Begitu juga, minyak mentah AS (WTI) merosot 1,89 persen menjadi US$94,32 atau sekitar 1.596.743,28 per barel.

Konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga energi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global sehingga memicu kenaikan harga.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pihaknya turut membantu upaya AS untuk membuka kembali jalur vital tersebut. Ia juga mengklaim bahwa kemampuan Iran dalam memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik telah melemah, sehingga konflik berpotensi berakhir lebih cepat dari perkiraan.

Lembaga keuangan global, Citigroup (Citi), bahkan menaikkan proyeksi harga minyak dalam jangka pendek. Citi memperkirakan harga Brent dan WTI dapat menembus US$120 per barel dalam satu hingga tiga bulan ke depan bahkan berpotensi melonjak hingga US$150 per barel dalam skenario terburuk jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Sejalan dengan itu, pejabat minyak Arab Saudi memperkirakan harga minyak bisa melesat hingga di atas US$180 per barel. Terutama jika gangguan akibat perang Iran berlangsung hingga akhir April.

Baca Juga :
Tok! The Fed Tahan Suku Bunga 3,5 Persen, Arah Ekonomi AS Abu-Abu Efek Perang Iran
PBB Desak Iran Hentikan Serangan ke Negara Tetangga hingga Buka Selat Hormuz
Austria dan Belgia Tolak Terlibat Operasi di Selat Hormuz

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Sumut beri bantuan sapi bagi warga penghuni huntara di Tapsel
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Jubir Garda Revolusi Mengatakan Rudal “Kejutan” Akan Datang untuk Israel, Dia Tewas Tak Lama Kemudian
• 1 jam laluerabaru.net
thumb
Jalur Pantura Cirebon dilintasi 137 ribu kendaraan pada H-2 Lebaran
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Polda Jatim Imbau Masyarakat Tidak Takbir Keliling di Jalan Raya Demi Keselamatan
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pesawat Tempur F-35A Andalan Amerika Kandas oleh Rudal Iran, Teknologi Stealth Dipertanyakan
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.