Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengajak umat Islam menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk memperkuat empati dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Menurutnya, ibadah puasa selama Ramadan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter agar lebih peka terhadap kondisi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.
“Puasa merupakan proses mengasah kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga, terdapat pesan tentang pentingnya empati dan kepedulian terhadap sesama,”kata Nasaruddin dalam keterangan tertulis, Jumat, 20 Maret 2026.
Ia menjelaskan, gema takbir yang mengiringi datangnya Idulfitri bukan hanya menandai berakhirnya Ramadan, tetapi juga menjadi simbol kemenangan spiritual bagi umat Islam, yakni keberhasilan menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama bulan suci.
“Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu mempertahankan nilai-nilai kesalehan, tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,”jelasnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa Idulfitri merupakan momen untuk menebar kebaikan dan meraih keberkahan. Menurutnya, keberkahan hanya akan hadir bagi mereka yang memiliki hati terbuka dan aktif memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia juga mengingatkan agar semangat Ramadan tidak berhenti setelah Idulfitri. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, serta kepedulian sosial harus terus dijaga dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup pesannya, Nasaruddin menyampaikan ucapan selamat Idulfitri kepada seluruh umat Islam, seraya berharap agar keberkahan, kedamaian, dan kerukunan senantiasa menyertai bangsa Indonesia.
“Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin,”tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews





