RI Didorong Perkuat Diplomasi Hadapi Dampak EUDR

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Pemerintah Indonesia didorong untuk memperkuat diplomasi global guna meminimalkan dampak kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) terhadap kinerja ekspor nasional. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menjadi hambatan non-tarif bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia, khususnya dari sektor perkebunan.

Hal tersebut dipaparkan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal. Ia mengatakan pemerintah perlu memastikan kepentingan ekspor nasional tetap terlindungi melalui pendekatan diplomasi yang terukur. 

Baca Juga :
Kanselir Jerman Respons Ancaman Trump Jika Tak Cawe-cawe di Selat Hormuz: Ini Bukan Perangnya NATO
BPJS Ketenagakerjaan Dorong Industri Sawit Perkuat K3 dan Perlindungan Pekerja

Ia menilai EUDR merupakan bentuk hambatan non-tarif bagi komoditas perkebunan untuk masuk ke pasar Uni Eropa. “Pemerintah Indonesia perlu mengusahakan agar pemberlakuan EUDR ini memiliki dampak minimum terhadap ekspor kita,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 20 Maret 2026.

Dalam konteks pasar minyak nabati global, EUDR hanya diberlakukan pada minyak sawit dan minyak kedelai. Sementara itu, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari maupun minyak nabati lain yang dihasilkan Uni Eropa tidak termasuk dalam kebijakan tersebut. 

Kondisi ini dinilai menciptakan perlakuan yang tidak setara bagi negara produsen seperti Indonesia. Faisal menyebut, momentum perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dapat dimanfaatkan untuk menjembatani kepentingan eksportir Indonesia. 

Selain itu, kesiapan sektor hulu seperti perkebunan dan pertanian juga perlu diperkuat untuk memenuhi standar yang ditetapkan dalam EUDR. 

Ia mengingatkan bahwa jika tidak diantisipasi dengan baik, hambatan non-tarif dapat berdampak negatif terhadap kinerja ekspor nasional, termasuk pada pendapatan ekspor yang menopang berbagai program Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Salah satu tantangan utama dalam implementasi EUDR adalah aspek traceability atau ketertelusuran rantai pasok. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, Faisal menilai diperlukan dukungan teknis dari Uni Eropa sebagai mitra dagang. 

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua pihak. “Kalau Uni Eropa ingin memastikan komoditas yang masuk ke kawasan itu legal dan tidak berkaitan dengan aktivitas deforestasi, mereka harus membantu negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk bisa memenuhi standar tersebut,” tegasnya.

Di sisi lain, Faisal menilai kebijakan EUDR juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola sektor perkebunan, terutama dalam penerapan prinsip keberlanjutan. Ia menekankan bahwa peningkatan produksi komoditas sebaiknya tidak lagi mengandalkan ekspansi lahan, melainkan melalui strategi intensifikasi.

Baca Juga :
Prancis dan Sekutu Eropa Siapkan Misi Militer Buka Paksa Selat Hormuz yang Diblokir Iran
Efek Domino Selat Hormuz Diblokir Iran: Uni Eropa Melas-melas ke Rusia
Pasar Domestik Panas! Samasindo Akan Agresif ke Sektor Pangan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhut Tekankan Zero Waste dan Zero Accident di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Jelang Lebaran
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Bekal Usai Bebas, WBP Lapas Sleman Ikuti Pelatihan Otomotif dari Pertamina
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pertemuan dengan Takaichi PM Jepang Mendadak Jadi Canggung Usai Trump Singgung Serangan Pearl Harbor
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
81 Tahanan KPK Diberikan Kesempatan Bertemu Keluarga saat Lebaran
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Warga Muhammadiyah Solo Salat Id di Mangkunegaran
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.