Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto membagikan bagaimana dirinya menjaga fokus dan stamina di tengah padatnya agenda kenegaraan dan dinamika geopolitik global.
Hal itu disampaikan dalam sesi tanya jawab bersama jurnalis senior dan pakar di kediamannya di Hambalang, Bogor, yang ditayangkan Kamis (19/3/2026).
Menjawab pertanyaan soal cara “mengambil jarak” dari tekanan pekerjaan, Prabowo menekankan pentingnya istirahat, meski dengan metode yang berbeda dari tokoh-tokoh dunia seperti Winston Churchill atau Ronald Reagan.
“Saya bisa tidur di mana saja, kapan saja. Ini mungkin kebiasaan dari militer,” ujarnya.
Prabowo mengaku sering memanfaatkan waktu singkat di antara pertemuan untuk tidur sejenak sebagai cara mengisi ulang energi.
“Sepuluh menit, lima belas menit, itu sudah nge-charge. Idealnya tiga puluh menit,” katanya.
Baca Juga
- Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri 1447 H
- Seskab Teddy: Prabowo Dijadwalkan Takbiran di Sumut, Salat Id di Aceh
- CELIOS-AJI Cs Gugat Presiden Prabowo ke PTUN Jakarta soal Perjanjian Dagang RI-AS
Dia bahkan kerap meminta jeda antar agenda untuk beristirahat singkat, guna menjaga fokus dalam pengambilan keputusan.
Kebiasaan Bangun Dini dan Update InformasiMeskipun mengaku sering tidur larut malam, tetapi Prabowo terbiasa bangun dini hari untuk memantau perkembangan global. Salah satu sumber informasinya adalah platform digital seperti YouTube.
“Saya bangun jam tiga pagi, lihat perkembangan dunia. Kita beda waktu dengan Timur Tengah dan Amerika,” ujarnya.
Dia mencontohkan pengalamannya saat menghadiri forum internasional di Singapura, ketika dirinya dapat langsung merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden karena lebih dulu mengikuti perkembangan melalui media digital.
Tidur Siang sebagai “Survival Instinct”Prabowo juga menyoroti pentingnya tidur siang, yang menurutnya sering disalahartikan sebagai kemalasan, terutama dalam perspektif Barat. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut justru merupakan bentuk kearifan lokal untuk menghindari risiko kesehatan akibat panas ekstrem.
“Ini bukan malas, ini survival instinct. Nenek moyang kita tahu kapan harus istirahat,” tegasnya.
Dia mencontohkan kondisi petani yang sudah bekerja sejak subuh, sehingga membutuhkan waktu istirahat di siang hari saat suhu mencapai puncaknya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengkritik pandangan sebagian pihak asing yang menilai kebiasaan istirahat masyarakat Indonesia sebagai tanda kemalasan. Dia menyebut hal tersebut sebagai bentuk “cultural arrogance” atau arogansi budaya.
Menurutnya, banyak pekerja Indonesia justru memulai aktivitas sejak dini hari, bahkan harus menempuh perjalanan jauh sebelum bekerja.
Tekankan Pentingnya Istirahat bagi PemimpinPrabowo menegaskan bahwa istirahat yang cukup merupakan hal krusial bagi siapa pun, terutama mereka yang memegang tanggung jawab besar.
“Semua pemimpin harus cukup tidur,” ujarnya.
Dia juga menyinggung fenomena ketergantungan terhadap gawai di era modern, yang menurutnya dapat mengurangi kualitas waktu istirahat jika tidak dikontrol dengan baik.
Dengan pola istirahat fleksibel dan kebiasaan memantau informasi global, Prabowo berupaya menjaga keseimbangan antara tuntutan kepemimpinan dan kondisi fisik di tengah dinamika dunia yang terus berubah cepat.
“Mereka yang diambil posisi kepimpinan, Harus cukup tidur, Silahkan, Jam delapan, yang paling bagus saya dengar, Tidur harus jam sembilan, Saya dengar, Yang paling sehat, jam sembilan, Bangun jam empat, jam lima, jam enam,” pungkas Prabowo.





