Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi dampak perang global terhadap ekonomi domestik, khususnya lonjakan harga minyak dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sesi tanya jawab bersama jurnalis senior dan pakar di kediamannya di Hambalang, Bogor, yang tayang Kamis (19/3/2026).
Dalam diskusi tersebut, Prabowo mengakui bahwa konflik global berpotensi mendorong harga minyak dunia menembus US$100 per barel dan memberi tekanan besar pada subsidi energi Indonesia. Bahkan, jika harga minyak bertahan di atas US$80 dan rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS, beban subsidi bisa meningkat lebih dari Rp100 triliun.
Meski demikian, Prabowo menegaskan pemerintah tidak hanya mengandalkan pemangkasan anggaran, tetapi juga menyiapkan berbagai skenario adaptif untuk menekan konsumsi energi nasional.
“Salah satu cara menghadapi krisis adalah menurunkan konsumsi. Banyak negara sudah mulai, misalnya hari kerja dikurangi jadi empat hari, atau work from home. Kita juga bisa lakukan,” ujar Prabowo.
Dia juga mencontohkan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, seperti aturan minimal jumlah penumpang dalam satu mobil, yang dinilai efektif mengurangi konsumsi bahan bakar.
Selain itu, Prabowo menegaskan efisiensi anggaran tidak akan menyasar sektor penting seperti pendidikan dan operasional dasar. Ia justru menyoroti pemborosan di tingkat daerah, mulai dari pengadaan kendaraan dinas mewah hingga perjalanan dinas yang tidak mendesak.
“Saya presiden saja pakai mobil buatan Indonesia, harganya sekitar Rp700 juta sampai Rp1 miliar. Tapi ada daerah beli mobil dinas sampai Rp8 miliar. Ini harus kita koreksi,” tegasnya.
Percepat Transisi EnergiDalam jangka menengah dan panjang, Prabowo menekankan percepatan transisi energi sebagai solusi utama menghadapi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Dia menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt dalam waktu maksimal dua tahun. Saat ini, kapasitas produksi listrik nasional baru sekitar 11 gigawatt dari energi surya.
Selain itu, pemerintah juga berencana menghentikan penggunaan pembangkit listrik berbasis diesel yang saat ini mencapai 13 gigawatt karena dinilai mahal dan tidak efisien.
“Very soon kita tidak akan pakai diesel untuk listrik. Itu penghematan besar,” ujarnya.
Prabowo juga mendorong konversi besar-besaran kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik, mulai dari sepeda motor hingga truk dan alat berat. Dia menyebut langkah ini sebagai “game changer” bagi perekonomian nasional.
“Kalau pakai listrik, biaya pengguna motor bisa turun sampai hanya 20 persen dari sebelumnya,” katanya.
Andalkan Sumber Daya Domestik
Di sisi lain, Prabowo menegaskan Indonesia berada dalam posisi relatif lebih baik dibanding banyak negara, karena memiliki sumber daya alam melimpah, termasuk batu bara, energi air, panas bumi, dan kelapa sawit.
Dia bahkan menyebut kelapa sawit sebagai salah satu keunggulan strategis Indonesia karena dapat diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar, termasuk biodiesel dan avtur.
“Ini keunggulan kita. Kita bisa hasilkan energi dari sawit. Kita harus manfaatkan,” ujar Prabowo.
Namun demikian, dia tetap mengingatkan bahwa situasi global saat ini merupakan “wake up call” bagi Indonesia untuk mempercepat kemandirian energi, pangan, dan air.
Waspadai Skenario Terburuk
Prabowo juga mengingatkan potensi skenario terburuk jika konflik global berkepanjangan, termasuk kemungkinan gangguan pasokan minyak dunia, seperti penutupan Selat Hormuz yang berisiko mendorong harga minyak hingga US$200 per barel.
“Kalau itu terjadi, kita harus benar-benar siap. Mau tidak mau kita harus kurangi konsumsi dan lakukan langkah-langkah luar biasa,” ujarnya.
Kendati demikian, dia menegaskan pemerintah telah mengantisipasi dengan kontrak energi jangka panjang dari berbagai kawasan, termasuk Afrika dan Amerika.
“Kita dalam posisi lebih baik dari banyak negara, tapi tetap harus waspada,” pungkasnya.





