Senja Ramadan di Jogokariyan: Ketika Iman dan Solidaritas Menyatu

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Senja turun perlahan di halaman Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Cahaya matahari yang mulai meredup memantul di pelataran masjid, sementara jemaah berdatangan dari berbagai arah. Ada yang duduk bersila di serambi, ada yang berbincang ringan di halaman, sebagian lainnya menunggu dengan tenang sambil menatap langit yang semakin jingga di depan kios UMKM di jalan menuju masjid. Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda di tempat ini—lebih hidup, lebih hangat, dan terasa dekat.

Sejak sore hari, panitia telah membagikan piring berisi nasi dan lauk kepada para jemaah sebelum kajian dimulai. Piring-piring itu tersusun rapi di tangan para jemaah yang duduk di serambi dan "meluber" di jalan depan masjid, seolah menunggu waktu yang sama untuk dinikmati bersama. Ketika azan magrib berkumandang, suasana hening sejenak, lalu perlahan berubah menjadi kebersamaan sederhana, ratusan orang berbuka puasa dalam satu ruang yang sama, dalam satu waktu yang sama.

Di tengah kajian sore itu, seorang ustaz sempat menyelipkan candaan ringan di hadapan jemaah. Dengan nada berseloroh, ia menyebut bahwa di Jogokariyan juga ada “MBG”. Jemaah pun tersenyum, sebagian tertawa kecil. Namun, MBG yang dimaksud bukanlah seperti yang sering terdengar belakangan ini. Di Jogokariyan, MBG adalah Makan Berbuka Gratis—sebuah tradisi berbagi yang telah lama hidup dan menjadi bagian dari denyut Ramadan di masjid ini.

Candaan sederhana itu menyimpan makna yang lebih dalam. Di balik tawa yang muncul, terdapat gambaran tentang bagaimana solidaritas sosial tumbuh dalam keseharian masyarakat. Berbuka puasa bersama di Jogokariyan bukan sekadar ritual makan setelah seharian menahan lapar, melainkan juga ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, antara lain warga sekitar, musafir, mahasiswa, hingga jemaah dari luar kota.

Tak sedikit jemaah yang mengabadikan momen kajian dan buka bersama melalui ponsel dan kamera mereka. Gambar-gambar itu kemudian beredar di berbagai media sosial, menjadi potongan kisah kecil tentang Ramadan di Jogokariyan.

Dalam perspektif komunikasi, tindakan sederhana itu memperlihatkan bagaimana pengalaman kolektif dapat berubah menjadi pesan sosial yang menyebar luas. Kebersamaan tidak hanya dirasakan di tempat itu, tetapi juga diceritakan kembali melalui ruang digital.

Fenomena ini juga dapat dipahami melalui perspektif sosiologi. Pemikir klasik seperti Emile Durkheim menyebut solidaritas sebagai perekat yang menjaga kohesi masyarakat. Dalam konteks Jogokariyan, praktik berbagi makanan saat berbuka menjadi simbol konkret dari solidaritas tersebut. Sebuah fenomena bukan hanya tindakan amal, melainkan juga praktik sosial yang memperkuat rasa kebersamaan serta identitas kolektif di tengah masyarakat.

Selain itu, terdapat hal yang menarik: kehidupan Ramadan di Jogokariyan tidak hanya menghadirkan dimensi spiritual dan sosial, tetapi juga menggerakkan dinamika ekonomi masyarakat sekitar. Di sepanjang jalan menuju masjid, deretan bazar UMKM bermunculan setiap sore. Aroma takjil, makanan hangat, dan berbagai jajanan Ramadan memenuhi udara senja. Para pedagang kecil memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan dagangan mereka kepada jemaah yang datang.

Kehadiran jemaah yang memadati kawasan masjid secara perlahan menghidupkan roda perekonomian lokal. Jalan-jalan kecil menuju masjid berubah menjadi ruang interaksi ekonomi, sementara kantong-kantong parkir yang dikelola warga turut menjadi sumber penghasilan tambahan. Ramadan di Jogokariyan, dengan demikian, tidak hanya menghadirkan keramaian spiritual, tetapi juga menjadi denyut ekonomi yang mengalir di tengah masyarakat.

Di titik inilah masjid memperlihatkan perannya yang lebih luas. Ia bukan hanya menjadi tempat ibadah yang menenangkan jiwa, melainkan juga ruang sosial yang menghubungkan manusia dengan sesamanya. Gagasan tentang masjid sebagai pusat pemberdayaan umat yang sering terdengar dalam wacana keagamaan menemukan bentuk nyatanya di Jogokariyan.

Senja pun perlahan berubah menjadi malam. Lampu-lampu masjid menyala, jemaah bersiap menunaikan salat magrib, sementara sebagian yang lain masih berbincang ringan setelah berbuka. Dalam suasana seperti itu, Ramadan di Jogokariyan terasa bukan hanya tentang ibadah personal, melainkan juga tentang perjumpaan, kepedulian, dan kehidupan bersama.

Di antara cahaya senja yang memudar dan gema azan yang mengalun, Jogokariyan memperlihatkan satu hal sederhana: ketika iman bertemu dengan solidaritas, sebuah masjid dapat menjadi lebih dari sekadar tempat beribadah, tetapi dapat menjadi ruang hidup bagi masyarakat di sekitarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Apresiasi Progres Pemulihan Pascabencana Sumatera
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Hari Kemenangan Penuh Makna, 760 Warga Binaan Lapas Tembilahan Terima Remisi Idul Fitri
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Cerita Purbaya Yudhi Sadewa: Lebaran Pertama Jadi Menteri Lebih Berat, Sampai Sulit Tidur
• 3 jam laludisway.id
thumb
Intip Ragam Menu Nusantara yang Disajikan Prabowo dalam Open House di Istana Negara
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Dijadwalkan Silaturahmi dengan SBY dan Jokowi di Istana Negara Sore Ini
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.