Fenomena mudik Lebaran pada tahun ini diproyeksikan menjadi mesin penggerak utama ekonomi nasional dengan efek berganda (multiplier effect) yang luas.
IDXChannel - Fenomena mudik Lebaran pada tahun ini diproyeksikan menjadi mesin penggerak utama ekonomi nasional dengan efek berganda (multiplier effect) yang luas.
Melalui redistribusi kekayaan dari pusat ke daerah, aktivitas tahunan tersebut konsisten memicu lonjakan konsumsi rumah tangga sebesar 15 persen hingga 20 persen dibandingkan bulan-bulan biasa.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto menekankan bahwa setiap pengeluaran pemudik juga memberikan dampak berlapis bagi berbagai sektor riil, terutama UMKM di daerah yang pendapatannya berpotensi meningkat hingga 50 persen hingga 70 persen.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi,” kata Haryo dalam keterangannya, dikutip Sabtu (21/3/2026).
Peningkatan aktivitas tersebut juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa. Dengan potensi yang besar tersebut, lanjtu Haryo, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5 persen hingga 5,6 persen (yoy), di mana konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial sebesar 53 persen hingga 54 persen terhadap PDB.
Untuk mencapai target tersebut, sejumlah stimulus telah dikucurkan menjelang Idulfitri 2026 yakni Stimulus Fiskal dengan alokasi lebih dari Rp12,8 triliun, Bantuan Sosial penyaluran Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dan Diskon Transportasi subsidi senilai Rp911,16 miliar.
Inovasi kebijakan seperti Work From Anywhere (WFA) bagi ASN juga dinilai efektif memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman, yang secara otomatis meningkatkan perputaran uang (velocity of money) di daerah.
Meskipun dunia sedang dibayangi ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel-AS, pemerintah meyakini fundamental ekonomi domestik tetap kokoh. Kebijakan untuk tidak menaikkan harga BBM saat ini menjadi kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat selama masa lebaran.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata Haryo.
Dengan pergerakan masyarakat yang diprediksi melampaui catatan tahun 2025 (154,62 juta orang), momentum mudik tahun ini, pemerintah berharap fenomena tersebut menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.
(Febrina Ratna Iskana)





