REPUBLIKA.CO.ID,HANOI — Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memperlihatkan rapuhnya ketergantungan dunia pada jalur pasokan energi fosil. Krisis ini dinilai memperkuat urgensi percepatan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.
Perang hampir sepenuhnya menghentikan ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi rute utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan ini mengguncang pasar energi global, mendorong lonjakan harga dan menekan negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Baca Juga
Pramono Lebaran Saatnya Silaturahim dan Memaafkan
Orang Tua Diimbau Nggak Pakai Uang THR Anak untuk Keperluan Keluarga
Lebaran di Mataram: Tradisi, Wisata, dan Tantangan
Dampak paling besar dirasakan Asia, tujuan utama ekspor minyak tersebut. Namun, tekanan juga dirasakan di Eropa yang tengah mencari cara menekan permintaan energi, serta Afrika yang bersiap menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan inflasi.
Berbeda dengan krisis energi sebelumnya, kini energi terbarukan semakin kompetitif dibanding bahan bakar fosil. Badan Energi Terbarukan Internasional mencatat lebih dari 90 persen proyek energi terbarukan pada 2024 memiliki biaya lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Meski demikian, minyak tetap menjadi komponen penting dalam berbagai industri, seperti produksi pupuk dan plastik. Karena itu, dampak krisis ini dirasakan luas. Negara dengan porsi energi terbarukan lebih besar relatif lebih tahan terhadap gejolak, karena mengandalkan sumber domestik seperti matahari dan angin, bukan impor bahan bakar.
“Krisis seperti ini terjadi berulang, ini adalah karakteristik, bukan anomali, dari sistem energi berbasis bahan bakar fosil,” kata James Bowen dari ReMap Research, Jumat (20/3/2026).
Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 . - (EPA/ROYAL THAI NAVY )