JAKARTA, KOMPAS — Ramadhan hingga Idul Fitri bukan hanya tentang ibadah. Ritual keagamaan itu erat dengan muamalah atau urusan kemasyarakatan, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya.
Jika urusan kemasyarakatan tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi konflik. Sebaliknya, apabila dirajut dengan silaturahmi, menjadi harmoni kehidupan bak simfoni.
Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, mengingatkan hal tersebut dalam khotbahnya kepada jemaah shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Balai Kota Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Shalat diikuti ribuan aparatur sipil negara dan warga sekitar. Ada di antara mereka Gubernur Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, dan Gubernur Jakarta 2007-2012 Fauzi Bowo.
Amin mengutarakan tentang gema takbir, tahlil, dan tahmid yang bersahutan hingga memenuhi angkasa sejak Jumat (20/3/2026) malam. Gema itu tanda menyambut Idul Fitri sekaligus perpisahan dengan bulan istimewa, Ramadhan, yang penuh kasih sayang dan ampunan.
Akan tetapi, para ulama mengingatkan, takbir Idul Fitri bukan sekadar gema suara. Lebaran adalah pengakuan atas kemenangan rohani yang artinya kembali kepada fitrah. Hati yang bersih, jiwa yang jujur, dan hubungan yang damai dengan sesama manusia, hadir di antara warga.
Tak heran Idul Fitri selalu diiringi dengan tradisi yang sangat indah. Paling utama adalah saling memaafkan satu dan lainnya melalui halalbihalal.
”Ini bukan sekadar budaya. Islam mengajarkan, persaudaraan adalah fondasi masyarakat. Silaturahmi bukan sekadar kunjungan. Silaturahmi adalah modal sosial peradaban,” tutur Amin.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat (2015-2020) itu merujuk tema Idul Fitri yang diusung Pemprov Jakarta, yakni ”Merajut Silaturahmi dalam Simfoni Kemenangan untuk Jakarta yang Fitrah”.
Para ulama, kata Amin, menjelaskan, silaturahmi melahirkan kepercayaan. Kepercayaan lalu melahirkan kerja sama yang bermuara pada kemajuan peradaban.
Dasar atau fondasi dari peradaban ialah keadilan. Namun, keadilan tidak akan lahir jika masyarakat terpecah belah. Apalagi, kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk, ada banyak suku, budaya, dan latar belakang.
”Agama tidak tegak hanya dengan ibadah saja, tetapi juga dengan keadilan. Jika perbedaan tidak dikelola dengan baik, akan menjadi konflik. Tapi, jika dirajut dengan silaturahmi, menjadi harmoni kehidupan seperti sebuah simfoni,” ucap Amin.
Ia mencontohkan biola, piano, drum, dan seruling. Alat-alat musik itu tidak sama, tetapi melahirkan musik yang indah ketika dimainkan bersamaan.
Sama halnya dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan dalam harmoni. ”Itulah yang disebut sebagai simfoni kemenangan,” kata Amin.
Idul Fitri sebagai hari kemenangan juga menjadikan manusia kembali kepada fitrahnya. Akan tetapi, bukan perkara mudah sebab ada saja halangan dan rintangan.
Untuk itu, lanjut Amin, setiap orang disyariatkan untuk selalu memohon petunjuk Allah. Bukan hanya terkait ibadah saja, melainkan juga muamalah, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya, dan sebagainya.
Gubernur Jakarta Pramono Anung seusai shalat mengingatkan tentang Jaga Jakarta. Jal itu penting dilakukan, khususnya di tengah dinamika dalam negeri dan luar negeri.
Slogan Jaga Jakarta muncul sejak tahun 2025. Salah satunya ketika demonstrasi berujung kerusuhan pada Agustus.
Selain korban jiwa, kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum pascakerusuhan mencapai Rp 80 miliar. Kerugian meliputi kerusakan stasiun MRT, Halte Transjakarta, kamera pemantau (CCTV), dua jembatan penyeberangan orang, dan lampu lalu lintas (traffic light).
Pemprov Jakarta kemudian mengganti nama Halte Senen Sentral menjadi Halte Jaga Jakarta. Sisa-sisa kerusakan halte selama demonstrasi juga dipajang dalam kotak kaca sebagai pengingat bahwa publik paling dirugikan dari tindakan anarkistis tangan-tangan nakal.
”Dunia tidak sedang baik-baik saja, tetapi Jakarta mudah-mudahan baik-baik saja,” kata Pramono.





