Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump menyebut dirinya tengah mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer AS terhadap Iran setelah menilai sejumlah target utama dalam konflik yang memasuki pekan keempat hampir tercapai.
Dalam unggahan di media sosial yang dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (21/3/2026), Trump mengatakan AS semakin dekat dengan pencapaian tujuannya di kawasan Timur Tengah.
“Kami semakin dekat untuk mencapai tujuan kami seiring mempertimbangkan pengurangan upaya militer besar kami di Timur Tengah,” ujar Trump.
Trump menjelaskan tujuan tersebut antara lain melumpuhkan sepenuhnya kemampuan rudal Iran, menghancurkan basis industri pertahanan negara itu, meniadakan kekuatan angkatan laut dan udara Iran, memastikan Teheran tidak pernah mendekati kemampuan nuklir, serta melindungi sekutu-sekutu AS di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah Trump menolak kemungkinan gencatan senjata dan tetap membuka peluang pengerahan pasukan darat. Sikap itu menyoroti sinyal yang saling bertolak belakang mengenai arah kebijakan AS dan Israel dalam perang melawan Iran.
Di sisi lain, belum jelas bagaimana respons Iran jika AS secara sepihak memutuskan menghentikan serangan, setelah rangkaian serangan terbaru menargetkan infrastruktur energi negara tersebut dan menewaskan sejumlah pejabat penting, termasuk kepala keamanan Ali Larijani.
Pejabat Iran bahkan disebut semakin enggan membahas kembali pembukaan Selat Hormuz, sementara Teheran terus melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara Arab di Teluk.
Trump juga menyinggung jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia yang mengangkut sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam global, dan praktis tertutup sejak konflik pecah.
Trump sebelumnya menekan sekutu-sekutu AS untuk membantu mengamankan jalur tersebut secara militer, namun pada Jumat mengindikasikan bahwa tanggung jawab itu akan diserahkan kepada negara-negara lain.
“Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, bila diperlukan, oleh negara-negara lain yang menggunakannya—bukan Amerika Serikat. Jika diminta, kami akan membantu negara-negara tersebut dalam upaya mereka di Hormuz, tetapi hal itu seharusnya tidak diperlukan setelah ancaman Iran dieliminasi," ujar Trump.
Pernyataan Trump yang menyarankan negara-negara pengguna jalur tersebut untuk bertanggung jawab menjaga keamanan Selat Hormuz menyoroti kompleksitas pasar minyak global.
Meski produksi minyak AS saat ini berada pada level rekor, harga minyak tetap ditentukan oleh pasar global. Gangguan pasokan dari Selat Hormuz berpotensi berdampak luas, mulai dari Beijing hingga Washington, dan tetap memengaruhi konsumen di AS.
Dengan kata lain, meskipun AS relatif lebih terlindungi dari dampak fisik jika jutaan barel minyak gagal mencapai pasar, perekonomian negara itu tetap tidak terlepas dari dampak lonjakan harga energi.
Komentar Trump tersebut menutup perdagangan yang bergejolak di pasar keuangan pada Jumat, setelah munculnya laporan yang menyebut pemerintahan Iran yang semakin mengeras menolak bernegosiasi terkait Selat Hormuz. Sementara itu, juga dikabarkan AS tengah menyiapkan opsi pengerahan pasukan darat.





