REPUBLIKA.CO.ID,BRUSSEL — Sekretaris Eksekutif Kantor PBB untuk Koordinasi Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell mengatakan krisis energi yang dipicu perang di Timur Tengah seharusnya menjadi pelajaran betapa berbahayanya bergantung pada bahan bakar fosil. Menurut dia, krisis ini seharusnya mendorong negara-negara segera melakukan transisi energi.
"Jika ada momen yang tepat untuk mempercepat transis energi, memutus ketergantungan yang telah membelenggu perekonomian, ini waktu yang tepat," kata Stiell seperti dikutip dari Daily Sabah, Sabtu (21/3/2026).
Baca Juga
Dunia Kehilangan 12,8 Juta Ton LNG Usai Ras Laffan Dibom: Exxon Hingga Shell Hadapi Ketidakpastian
Krisis Energi Akibat Perang Dinilai Percepat Transisi ke Energi Terbarukan
Wapres Gibran Sholat Id di Istiqlal Bareng Jan Ethes
Stiell akan bertemu pejabat-pejabat Uni Eropa dan menteri-menteri negara anggota blok itu di Brussel, pada Senin (23/3/2026) mendatang. Ia mengatakan, lonjakan harga minyak yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran menunjukkan bagaimana ketergantungan pada minyak dan gas mengancam keamanan nasional dan biaya hidup (cost of living)."Risiko-risiko itu terlihat jelas sekarang dan membakar kaki semua orang,"kata dia.
Uni Eropa mengimpor 90 persen minyak dan 80 gasnya. Para pemimpin blok sedang menyusun langkah-langkah darurat untuk melindungi konsumen dari lonjakan tarif energi dan menghindari kenaikan harga bahan bakar minyak yang terjadi pada tahun 2022 ketika Rusia mulai menginvasi Ukraina.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Komisi Eropa mengatakan transisi energi yang merupakan strategi untuk memitigasi perubahan iklim dengan mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan yang diproduksi dalam negeri akan mengamankan ketahanan energi dan melepas ketergantungan blok dari bahan bakar minyak yang harganya fluktuatif.