JAKARTA, KOMPAS.com - Momen Presiden RI Prabowo Subianto sungkem di kediaman Presiden ke-2 RI Soeharto pada momen Hari Raya Idul Fitri 1403 Hijriah atau 12 Juli 1983 kembali beredar di media sosial.
Momen halalbihalal di kediaman keluarga mantan Presiden Soeharto pada 43 tahun silam itu diunggah dalam akun Instagram resmi milik Arsip Nasional RI, @arsipnasionalri pada Sabtu (21/3/2026).
Dalam video itu, Prabowo bersama Titiek Soeharto serta anak-anak Soeharto lainnya melakukan tradisi sungkem kepada Presiden ke-2 RI Soeharto dan istri, Tien Soeharto.
Secara bergantian, mereka melakukan tradisi sungkem di hadapan Soeharto dan Tien.
Sambil duduk di lantai, Prabowo menundukkan kepala dan mencium tangan Soeharto.
Setelahnya, Soeharto mencium pipi kanan dan kiri serta dahi Prabowo.
Baca juga: Demi Prabowo dan Sembako, Warga Panas-panasan Antre sejak Pagi di Istana
Dalam unggahannya, Arsip Nasional RI menjelaskan momen tradisi sungkem halalbihalal yang dilakukan Prabowo dalam video ini merupakan arsip video Sekretariat Negara RI tahun 1983 Nomor 141.
"#ArsipHariIni menampilkan suasana halal bihalal keluarga Presiden Soeharto pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1403 H. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Prabowo Subianto (sekarang Presiden RI) melakukan sungkeman kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto bersama keluarga di kediaman Presiden, Jakarta, 12 Juli 1983," tulisnya.
Nilai Budaya Indonesia
Arsip Nasional RI menyebutkan, tradisi sungkeman dan halalbihalal sebagai tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia saat merayakan Idul Fitri.
Tradisi ini dinilai sebagai momen penting untuk saling memaafkan, mempererat hubungan keluarga, serta meneguhkan nilai hormat kepada orang yang lebih tua.
"Salah satu momen tersebut terlihat dalam suasana silaturahmi keluarga Presiden Soeharto pada 1 Syawal 1403 H atau 12 Juli 1983," tulis Arsip Nasional RI.
Adapun tradisi sungkeman yang dilakukan dengan penuh hormat tersebut juga mencerminkan nilai budaya Indonesia yang menjunjung tinggi adab, kekeluargaan, dan penghormatan kepada orang tua.
"Momentum seperti ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia pada masanya," imbuh dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang