REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI — Pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Qatar ke India berpotensi terdampak setelah serangan Iran terhadap fasilitas energi di negara Timur Tengah tersebut, kata seorang pejabat pemerintah. India, importir LNG terbesar keempat di dunia, bergantung pada Qatar untuk sekitar 41 persen impor gasnya.
Pada 2024/2025, India mengimpor lebih dari 27 juta ton metrik LNG, dengan Qatar memasok 11,2 juta ton, menurut data pemerintah.
Baca Juga
Mendes Yandri Dorong Kopdes Merah Putih, Desa Diminta Jadi Motor Ekonomi
Tembus Jarak 4000 KM, Rudal Iran Sasar Pangkalan Militer AS-Inggris di Samudera Hindia
Minta Maaf di Hari Lebaran KDM: ASN tak Usah Datang ke Saya, Lebih Baik Silaturahim dengan Keluarga
“(Kapasitas LNG) Qatar terdampak, ini juga akan berdampak pada kami,” ujar Sujata Sharma, sekretaris bersama di Kementerian Perminyakan federal, dalam konferensi pers. India merupakan pelanggan LNG terbesar kedua bagi Qatar.
Serangan Iran telah melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar, menyebabkan kerugian tahunan sekitar 20 miliar dolar AS serta mengancam pasokan ke Eropa dan Asia, kata CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, kepada Reuters pada Kamis.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia mengatakan dua dari 14 fasilitas LNG Qatar serta satu dari dua fasilitas gas-to-liquids (GTL) mengalami kerusakan, dengan perbaikan diperkirakan menghentikan produksi LNG sebesar 12,8 juta ton per tahun selama tiga hingga lima tahun.
Qatar pada awal bulan ini telah menetapkan status force majeure atas ekspor gas setelah perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, sehingga menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Namun, pejabat industri di India berharap Qatar tetap melanjutkan pasokan ke India setelah pencabutan status force majeure, karena fasilitas yang melayani kebutuhan India tidak terdampak serangan tersebut.