Bisnis.com, MEDAN — Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan serius terkait budaya laporan yang tidak akurat atau cenderung “menyenangkan atasan” di lingkungan birokrasi. Hal itu disampaikan dalam sesi tanya jawab bersama jurnalis senior dan pakar di kediamannya di Hambalang, Bogor, yang ditayangkan Kamis (19/3/2026).
Prabowo menyebut fenomena laporan palsu atau tidak objektif sebagai bagian dari budaya lama yang harus diubah karena berpotensi menghasilkan kebijakan yang keliru.
“Budaya ABS, asal bapak senang, itu sudah membudaya. Ini bagian dari masalah kita,” tegasnya.
Presiden Ke-8 RI itu menegaskan dirinya siap menerima laporan yang tidak menyenangkan demi memastikan keputusan yang diambil berbasis data yang akurat.
Dia mengaku aktif memantau berbagai sumber informasi, termasuk kritik di media sosial, podcast, hingga platform digital seperti YouTube.
“Yang menyakitkan pun saya tonton. Itu justru membuat saya lebih waspada,” ujarnya.
Baca Juga
- Prabowo Ungkap Rencana Pembangunan Deretan Pabrik Berbasis Komoditas Unggulan
- Prabowo: Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang Hampir 100%
- Prabowo Salat Id di Aceh Tamiang, Ajak Perkuat Persatuan Nasional
Menurutnya, kritik—termasuk yang disampaikan dengan cara kurang baik—tetap bisa menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kewaspadaan dan kualitas kebijakan.
Perkuat Cross-Check dan Turun ke LapanganUntuk memastikan kebenaran laporan, Prabowo menegaskan pentingnya verifikasi berlapis. Dia mengaku kerap langsung memanggil pejabat terkait, meminta data pembanding, hingga mengirim tim untuk melakukan pengecekan di lapangan.
Prabowo menekankan bahwa kesalahan data bukan hal sepele, terutama dalam konteks kepemimpinan. Dia mencontohkan pengalamannya di militer, di mana informasi yang tidak disampaikan secara jujur bisa berakibat fatal.
Dia mengisahkan kejadian saat menjabat Komandan Kopassus, di mana insiden kecelakaan helikopter tidak langsung dilaporkan kepadanya.
“Alasannya tidak enak menyampaikan. Tapi itu keliru. Pemimpin harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” tegasnya.
Kepala Negara menegaskan perlunya perubahan budaya kerja di pemerintahan, dari yang cenderung menutupi masalah menjadi terbuka terhadap fakta, meskipun pahit.
“Kita harus berani menghadapi kebenaran. Walaupun sakit, kita harus terima,” ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa seorang pemimpin tidak boleh menghindari masalah, melainkan harus proaktif mencari dan menyelesaikannya.
“Pemimpin yang baik harus ‘rush to the problem’, kejar masalah, dan selesaikan,” kata Prabowo.
Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menerima laporan yang sekadar menyenangkan, melainkan laporan yang jujur dan apa adanya.
Dengan pendekatan tersebut, dia berharap tercipta budaya baru dalam pemerintahan yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat.
“Saya belajar banyak, seorang pemimpin yang baik, tidak boleh takut menghadapi kesulitan. Kalau pemimpin yang unggul, justru lihat kesulitan, Harus dikejar kesulitan itu, rush to the problem, solve the problem,” pungkas Prabowo.





