Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, memperkirakan potensi perputaran uang selama libur Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026 tetap besar, meski jumlah pemudik mengalami sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan perhitungan, nilai perputaran uang diproyeksikan menembus Rp 148 triliun.
Penurunan jumlah pemudik tidak signifikan terhadap geliat ekonomi. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan potensi pergerakan masyarakat mencapai 143,9 juta orang atau 50,6 persen dari total populasi Indonesia. Angka ini turun tipis 1,75 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 146,4 juta orang.
Sarman menilai tingginya aktivitas ekonomi saat Lebaran tak lepas dari berbagai stimulus yang digelontorkan pemerintah. Insentif tersebut mencakup diskon transportasi hingga bantuan langsung berupa Tunjangan Hari Raya (THR) dan kebijakan kerja fleksibel.
Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 911,16 miliar untuk program diskon transportasi. Potongan harga diberikan di berbagai moda, mulai dari kereta api, angkutan laut, penyeberangan, hingga tiket pesawat kelas ekonomi. Selain itu, diskon tarif tol sebesar 30 persen juga diberlakukan di sejumlah ruas utama, termasuk koridor Jabodetabek, Trans Jawa, dan Trans Sumatera.
Di sisi lain, stimulus dalam bentuk THR juga meningkat. Pemerintah menganggarkan sekitar Rp 65 triliun untuk ASN pusat dan daerah, TNI-Polri, serta pensiunan. Sementara itu, sektor swasta diperkirakan menyalurkan THR hingga Rp 124 triliun kepada 26,5 juta pekerja.
Tambahan perputaran uang juga datang dari kebijakan Bonus Hari Raya (BHR) bagi mitra ojek online dan kurir, yang diperkirakan mencapai Rp 220 miliar untuk sekitar 850 ribu penerima. Pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) selama beberapa hari di sekitar periode Lebaran guna mengurai kepadatan arus mudik dan balik.
Menurut Sarman, berbagai kebijakan tersebut menjaga minat masyarakat untuk tetap mudik dan berbelanja selama momen Lebaran.
“Berbagai stimulus dan kebijakan inilah yang mendorong minat masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik Idul Fitri 1447 H tahun ini tetap tinggi dan potensi perputaran uang sangat besar,” kata Sarman kepada kumparan, Sabtu (21/3).
Dengan asumsi rata-rata satu keluarga terdiri dari empat orang, jumlah pemudik setara dengan sekitar 35,97 juta kepala keluarga. Jika setiap keluarga membawa uang sekitar Rp 4,125 juta, maka total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 148,39 triliun, naik sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, angka tersebut dinilai masih moderat. Sarman menyebut potensi perputaran uang bisa lebih tinggi.
“Namun angka perputaran uang ini berpotensi naik, hitungan ini di angka yang moderat atau paling rendah,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, jika rata-rata pengeluaran per keluarga meningkat menjadi Rp 4,5 juta, maka total perputaran uang dapat mencapai Rp 161,88 triliun.
Perputaran uang tersebut diperkirakan akan terkonsentrasi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta menyebar ke berbagai daerah lain seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali. Uang tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transportasi mudik, bahan bakar, oleh-oleh, hingga konsumsi rumah tangga dan zakat.
Selain itu, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga diproyeksikan ikut terdongkrak. Aktivitas ekonomi meningkat di pusat kuliner, destinasi wisata, hingga penjualan produk khas daerah selama masa libur Lebaran.
Untuk mendukung kelancaran transaksi, Bank Indonesia telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp 185,6 triliun.
Sarman menilai lonjakan konsumsi rumah tangga selama Lebaran, yang diperkirakan naik 10–15 persen, menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026.
“Perputaran uang selama perayaan dan libur Idul Fitri 1447 H dengan konsumsi rumah tangga yang melonjak rata rata 10-15 persen menjadi momentum untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang ditargetkan sebesar 5,4 – 5,5 persen,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik, terutama terkait ketersediaan energi di tengah dinamika geopolitik global.
“Yang paling penting pemerintah dapat menjaga psikologi masyarakat dengan memberikan jaminan dan memastikan bahwa ketersediaan BBM dan gas selalu terpenuhi selama dan sesudah Lebaran 2026,sehingga masyarakat tidak ragu membelanjakan uangnya di daerah masing masing,” pungkasnya.





