Ini Dampak Penutupan Selat Hormuz, Imbas Perang Iran vs AS-Israel

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel telah membuat Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global ditutup. Bagaimana kemudian dampaknya terhadap perekonomian global?

Iran sendiri memutuskan untuk menutup Selat Hormuz seiring dengan memanasnya konflik dengan AS-Israel. Langkah itu juga dilakukan sebagai respons atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara itu, dilansir dari Bloomberg, Presiden AS Donald Trump menuntut negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Selat Hormuz ikut menjaga keamanan jalur tersebut yang kini efektif tertutup bagi kapal tanker minyak. 

“Saya benar-benar menuntut negara-negara tersebut datang dan melindungi wilayah mereka sendiri. Itu adalah tempat sejumlah negara mendapatkan energi, mereka harus datang dan membantu kami melindunginya,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat, tanpa menyebut negara yang dimaksud.  

Dia menambahkan bahwa China sangat bergantung pada pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz, sehingga Xi Jinping dan pemerintah Beijing dinilai perlu ikut menjaga keamanan jalur tersebut. 

"Mengapa kami yang mempertahankan Selat Hormuz padahal jalur itu sebenarnya untuk China dan banyak negara lain? Mengapa mereka tidak melakukannya?” kata Trump. 

Baca Juga

  • Kenapa AS dan Israel Menyerang Iran?
  • Polda Metro Jaya Kerahkan 1.810 Personel Amankan Malam Takbiran 2026

Trump juga mengatakan bahwa pemerintah AS tengah berdiskusi dengan sekitar tujuh negara untuk terlibat membantu pengamanan pelayaran di kawasan tersebut. Namun, dia tidak merinci negara mana saja yang terlibat dalam pembicaraan tersebut. 


Dampak Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz yang berada di wilayah selatan Iran merupakan salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia. Selat Hormuz menjadi tempat dari seperlima minyak dan gas alam global dikirim dari fasilitas produksi dan kilang di Teluk ke pembeli di seluruh dunia.

Selat ini mengangkut lebih dari 20 juta barel minyak per hari dan menjadikannya jalur minyak tersibuk setelah Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia. Selat ini juga merupakan jalur perdagangan terpenting untuk kargo gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Namun, tidak seperti koridor Malaka, yang mengangkut sekitar 23,2 juta barel per hari ke pembeli di China, Jepang, dan Korea Selatan, Selat Hormuz jauh lebih sulit untuk dilewati, menjadikannya titik hambatan terbesar dalam sistem energi global.

Arab Saudi, UEA, dan produsen minyak di wilayah Teluk lainnya telah membangun jalur pipa yang mampu melewati Selat Hormuz, tetapi rute-rute ini hanya dapat mengangkut sebagian kecil dari kapasitas ekspor kawasan tersebut.

Dilansir dari CNBC, penutupan di Selat Hormuz telah menyebabkan harga bahan bakar fosil melonjak. Kekhawatiran atas pasokan diperparah oleh berhentinya berbagai infrastruktur minyak dan gas utama di wilayah tersebut.

Kementerian Energi di Qatar memperkirakan bahwa jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, semua eksportir energi di wilayah Teluk harus menghentikan produksi dalam beberapa pekan, menunda dimulainya kembali produksi sampai Selat Hormuz dibuka. Harga minyak pun diproyeksikan bisa naik hingga US$150 per barel.

Adapun, minyak dari yang melewati Selat Hormuz paling banyak dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

"Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan pun akan menyebabkan resesi global," kata Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group dilansir dari CNBC.

Selain minyak, produk energi yang menghadapi tekanan pasokan termasuk bahan bakar jet dan  LNG.

Sekitar 30% pasokan bahan bakar jet Eropa berasal dari atau transit melalui Selat Hormuz. Lalu, seperlima pasokan LNG global melewati Selat Hormuz.

Meskipun AS tidak lagi bergantung pada minyak Timur Tengah, AS pun tidak kebal terhadap gangguan. “Situasinya sangat dinamis,” kata David Warrick, Executive Vice President di platform rantai pasokan Overhaul.

Sebab, perusahaan akan mengubah rute kapal mereka, termasuk di sekitar Cape Verde di dekat Afrika Selatan. Perusahaan pelayaran pun menghadapi waktu pengiriman yang lebih lama dan biaya tambahan. "Dengan asuransi risiko perang dan asuransi darurat tambahan, biayanya bertambah hingga ribuan dolar,” kata Warrick.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Update Kondisi Aceh Tamiang Saat Lebaran: Sudah Tidak Ada yang Tinggal di Tenda
• 2 jam laludisway.id
thumb
Jemaah Tumpah di Istiqlal Jelang Shalat Id, Wapres Gibran Dijadwalkan Hadir
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Laba BREN Milik Prajogo Pangestu Naik 6,5% Jadi US$165 Juta pada 2025
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapolri Imbau Pengelola Wisata Perhatikan Segala Bentuk Pengamanan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prediksi Liverpool vs Brighton 21 Maret 2026: Meski Tampil Tanpa Salah, The Reds Tetap Diunggulkan?
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.