Ketika banyak orang beribadah dan bersantap makanan bersama keluarga merayakan hari kemenangan, ada orang-orang yang justru mengenakan seragam kerja. Mereka menjaga api tetap padam, palang tetap tertutup, dan roda kehidupan tetap berputar.
Lebaran tahun ini rasanya berbeda bagi Ilham Ramdhani (23), salah satu anggota pemadam kebakaran sektor Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Warga Kalideres, Jakarta Barat. Ilham tidak bisa merayakan hari pertama Lebaran bersama keluarganya karena harus bertugas selama 24 jam.
Tidak hanya memadamkan kebakaran, mereka juga melayani permintaan warga, seperti evakuasi ular hingga membongkar gembok pintu yang terkunci dari dalam rumah
Pengalaman tersebut cukup berat karena ia baru menjadi petugas pemadam kebakaran tahun ini. Sebelumnya, Ilham bekerja sebagai karyawan swasta. Meski sedih, ia tetap ikhlas menjalani pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian kepada negara.
“Pemadam kebakaran nggak ada tutupnya. Dari awal masuk juga sudah ikhlas saja. Pilihan juga, kan, sudah tahu jam kerjanya kayak gimana. Pemadam tuh tanggal merah, Lebaran, ya, ga ngaruh,” ujar Ilham sambil tersenyum saat ditemui di Pos Pemadam Kebakaran Sektor Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (21/3/2026).
Demi bisa menjalankan Shalat Idul Fitri di masjid terdekat, Ilham datang lebih pagi sebelum waktu masuk kerja pukul 07.30 WIB. Shalat Idul Fitri cukup membuatnya lega meski tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ia akan merayakan Lebaran bersama keluarga esok setelah bertugas.
“Kalau nggak ada kesibukan, ya, (Lebaran) harus kumpul bareng sama keluarga. Namun, karena kita di sini sedang tugas, ya harus diutamain tugas dulu,” tuturnya.
Kepala Regu Pengendali Regu B Pemadam Kebakaran Sektor Kebon Jeruk Nexus Siagian menuturkan, di saat Lebaran, peran pemadam kebakaran justru semakin penting. Dari pengalaman sebelumnya, pernah terjadi kebakaran di rumah yang ditinggalkan penghuninya mudik.
Tidak hanya memadamkan kebakaran, mereka juga melayani permintaan warga, seperti evakuasi ular hingga membongkar gembok pintu yang terkunci dari dalam rumah. Karena itu, petugas pemadam kebakaran harus selalu dalam keadaan siap.
Dari 50 petugas di Pos Pemadam Kebakaran Sektor Kebon Jeruk, hanya ada satu orang yang boleh mengambil cuti saat Lebaran. Itu pun hanya boleh diberikan kepada petugas tingkat kepala regu.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, Iswahyudi (43) bersama dua rekannya baru sempat menikmati makan pagi di sebuah ruang berukuran 15 meter persegi. Tiba-tiba, mesin sinyal perlintasan kereta berbunyi. Belum sempat menghabiskan makanan, Iswahyudi bergegas bangkit lalu menekan tombol untuk menutup perlintasan kereta di Pademangan, Jakarta Utara.
Ketika langit masih gelap, Iswahyudi sudah berangkat dari rumahnya di Bekasi, Jawa Barat menuju pos Penjaga Jalan Lintasan (PJL) di Jakarta Utara. Idul Fitri jatuh pada Sabtu (21/3/2026), apa daya hari itu saatnya Iswahyudi piket menjaga lintasan kereta sebidang.
Iswahyudi tidak sempat shalat Id lantaran harus piket menjaga perlintasan kereta sejak pukul 07.00 hingga 14.00. Waktu istirahatnya juga cukup terbatas. Saat sedang lapar, misalnya, Iswahyudi bergantian dengan dua rekannya untuk pergi ke warung terdekat membeli makanan sementara yang lain berjaga.
Jangankan melaksanakan ritus Lebaran seperti shalat id atau mudik, untuk menghabiskan seporsi kecil mi instan itu saja Iswahyudi harus dilakukan sembari menaik-turunkan palang perlintasan kereta api. Sebab, interval kedatangan kereta cukup singkat, hanya sekitar 5 hingga 10 menit.
Meski terkesan remeh, pekerjaan menjaga perlintasan menuntut ketelatenan dan fokus yang tinggi. Lengah sedikit, nyawa orang lain menjadi taruhan. Puluhan tahun melakoni pekerjaan ini, Iswahyudi amat menyadari konsekuensinya.
“Sudah sering bertugas saat hari raya besar. Jadinya sekarang sudah terbiasa piket,” kata Iswahyudi ditemui di tempat kerjanya, Sabtu (21/3/2026).
Iswahyudi ingin sebagaimana orang kebanyakan, menikmati libur sembari berkumpul bersama keluarga besar di kampung halaman, yakni di Madiun, Jawa Timur. Namun, ia menyadari tugas dan tanggung jawab yang harus diemban.
Hari raya tidak pernah mengenal libur bagi pelayan publik seperti Iswahyudi. Sebagai gantinya, ia yang harus berbesar hati merayakan Lebaran sembari bertugas. Di saat-saat seperti ini, rekan sejawat terasa layaknya keluarga. Sepanjang bertugas sejak pagi hingga tengah hari, mereka saling melempar canda, berusaha membawa suasana Lebaran ke dalam hiruk-pikuk pekerjaan.
Agar tetap bisa merayakan momen kemenangan, Iswahyudi biasanya menyempatkan diri menghubungi orangtua serta kerabat di Madiun lewat panggilan video. “Biasanya saya video call di rumah sesudah pulang kerja. Beginilah suka dukanya,” ucap Iswahyudi.
Meski begitu, melayani masyarakat di hari libur nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Iswahyudi. Di saat kebanyakan pekerja kantoran menikmati libur Lebaran, layanan operasional kereta api tetap berjalan seperti hari-hari biasa.
Bagi Watno, semarak Idul Fitri tidak diukur dari aroma ketupat di meja makan kampung halaman, melainkan dari kepulan asap kaldu di balik gerobak birunya yang bertuliskan ”Mie Yamin Cilacap”. Watno merupakan satu dari sekian banyak pekerja sektor informal yang memilih bertahan di Ibu Kota saat jutaan orang lainnya berbondong-bondong mudik.
”Saya sudah puluhan tahun enggak pernah Lebaran di kampung,” ujar Watno saat ditemui di warungnya.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Saat libur Lebaran tiba, kata Watno, omzet penjualan mi ayamnya justru menanjak tajam. Ia mengibaratkan momen libur hari raya ini sebagai masa panen. ”Setiap mau puasa pulang, tapi setiap mau Lebaran ke Jakarta. Jadi saya dunia terbalik. Orang-orang pulang, saya datang ke Jakarta,” katanya.
Tingginya permintaan saat Lebaran membuatnya harus bekerja ekstra. Di warung sederhananya, belasan mangkuk keramik putih berjejer rapi di atas meja, bersiap untuk diracik. Dalam mengelola pesanan saat lebaran, Watno tidak sendirian. Ia dibantu oleh keponakannya yang secara khusus menemaninya berjualan.
Meski pelanggan melimpah, Watno tetap harus menyiasati harga di tengah lonjakan biaya bahan pokok yang lazim terjadi di hari raya. Ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual porsi mi ayamnya karena mempertimbangkan daya beli pelanggannya. Sebagai gantinya, ia melakukan penyesuaian kecil pada takaran.
”Aturan ayamnya dua sendok, dikurangi. Lagi pulakan, sekarang ini sulit cari bahan baku pas lebaran. Jadi harus stok jauh-jauh hari,” ungkapnya.
Pilihan Watno untuk meraup rezeki di kala umat Muslim lainnya berkumpul bersama keluarga telah dimaklumi sepenuhnya oleh keluarganya di kampung. ”Kemungkinan sudah kebiasaan, ya, dari saya ninggalin bayi sampai sekarang punya cucu, saya belum pernah Lebaran di kampung,” tuturnya.
Bagi Watno dan keluarga, kerinduan itu hanya ditunda sejenak. Ia biasanya baru akan pulang ke kampung halaman dan merayakan hari raya bersama keluarganya saat momen Idul Adha atau beberapa waktu setelah hiruk-pikuk Idul Fitri usai.
Di tempat lain, rasa kantuk terlihat jelas di mata Kiki (31), salah satu penjual bunga di Rawa Belong, Jakarta Barat. Sejak malam takbiran, Jumat (20/3/2026,), Kiki belum berhenti berjualan karena banyaknya permintaan bunga tujuh rupa untuk tabur bunga saat ziarah kubur jelang atau saat Lebaran. Kiki pun tidak sempat mengikuti shalat Idul Fitri.
“Soalnya, yang gantian jaga belum datang. Rasanya sedih, tetapi mau diapain lagi,” ujar warga Rawa Belong yang sudah berjualan lebih dari sepuluh tahun tersebut.
Meskipun tidak bisa berkumpul bersama keluarga, Kiki merasa lega karena barang dagangannya laris pada saat Lebaran. Bahkan, ia mengaku lupa menghitung total keuntungan yang diperoleh. Ia berencana untuk berlebaran bersama keluarga besarnya di Tangerang, Banten pada Senin (23/3) besok.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai 147,91 juta orang pada November 2025 atau naik 1,37 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja (28,5 persen), diikuti oleh sektor perdagangan (19,26 persen) dan industri pengolahan (13,45 persen). Berdasarkan status pekerjaan, sebanyak 38,81 persen dari total penduduk bekerja berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai.
Terkait dengan waktu kerja di saat hari libur resmi, Pasal 85 Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah mengatur tentang hak pekerja/buruh untuk libur pada hari libur resmi. Namun, ada beberapa pengecualian bagi industri atau perusahaan yang harus mempekerjakan karyawannya saat cuti bersama, seperti Lebaran.
Hal itu dimuat dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 2003 Pasal 3 ayat 1. Beberapa jenis pekerjaan itu antara lain adalah pekerjaan di bidang jasa kesehatan, jasa transportasi, jasa pos dan telekomunikasi, usaha swalayan, pusat perbelanjaan, bidang pengamanan, hingga bidang media massa.
Di tengah riuhnya perayaan dan hangatnya kebersamaan yang dirayakan jutaan orang, ada pengorbanan yang kerap luput dari perhatian. Bagi orang-orang seperti Ilham, Nexus, dan Iswahyudi, Lebaran menjadi ajang pengabdian. Sementara bagi Watno dan Kiki, Lebaran menjadi ajang mencari cuan.
Yang pasti, di hari yang sakral, mereka memastikan kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya.





