Pantau - Khatib Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadikan bencana banjir bandang dan longsor sebagai materi khutbah pada Sabtu (21/3).
Refleksi Bencana dalam KhutbahKhatib Mizwar Lubis menyampaikan bahwa bencana yang terjadi tidak datang tanpa sebab dan mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri.
“Bencana-bencana yang telah datang, menjadikan pelajaran. Janganlah kita menyalahkan orang lain. Tapi salahkan diri sendiri, kenapa Allah mendatangkan bencana ke diri kita. Kenapa terjadi ini dan itu,” ungkap Mizwar.
Ia menilai bencana menjadi pertanda hubungan manusia dengan Tuhan mulai melemah serta meningkatnya kemusyrikan dan kelalaian dalam beribadah.
Menurutnya, kerusakan dalam ibadah seperti shalat dapat berdampak pada perilaku, termasuk munculnya kebohongan di berbagai aspek kehidupan.
Mizwar juga mengingatkan masyarakat Maninjau untuk menjaga identitas sebagai daerah religius dan santun.
“Maninjau terkenal di mana-mana, dan kita pertahankan kualitas Maninjau ini menjadi kualitas orang yang beriman dan bertaqwa. Karena shalatlah yang mengangkat kedudukan seseorang. Bukan pangkatnya, bukan jabatannya, bukan hartanya, bukan popularitasnya,” ujarnya.
Pelaksanaan Salat di Tengah Dampak BencanaShalat Idul Fitri dilaksanakan di Masjid Raya Maninjau karena kondisi lapangan yang biasa digunakan tidak memungkinkan akibat hujan deras.
Pengurus masjid Aris Munandar menjelaskan bahwa lokasi alternatif dipilih karena lapangan dipenuhi batu dan pasir sisa banjir.
Masjid tersebut berada sekitar 700 meter dari sungai yang kini dipenuhi material besar akibat banjir bandang.
Meski masih terdapat sisa dampak bencana, masyarakat tetap melaksanakan ibadah dengan khidmat.




