REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan, Bisman Bakhtiar, menilai batu bara masih memegang peran penting dalam sistem energi global meski banyak negara mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Komoditas ini dinilai tetap menjadi penyangga pasokan energi ketika terjadi gangguan minyak dan gas akibat ketegangan geopolitik.
Guncangan geopolitik global kerap mengganggu pasokan minyak dan gas di pasar internasional. Dalam kondisi tersebut, batu bara dianggap lebih tahan terhadap dampak konflik karena cadangannya tersebar di berbagai negara dan tidak terkonsentrasi di kawasan rawan konflik.
- Ketum Pemuda Pancasila Diperiksa KPK Soal Perkara Korporasi Batu Bara
- Limbah Batu Bara Diduga Dibuang Sembarangan Bandung Barat Dekat Tol Cipularang KM 106
- Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Tembus 102 Dolar AS
“Cadangan batu bara tersebar luas dan tidak terlalu terkonsentrasi di kawasan konflik. Jadi relatif aman dan tidak terlalu terpengaruh panasnya geopolitik. Dalam situasi krisis, batu bara sering berfungsi sebagai penyangga pasokan energi primer,” kata Bisman dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Pengamat energi Iwa Garniwa menyampaikan penggunaan batu bara di sejumlah negara kembali meningkat ketika terjadi gangguan pasokan energi global atau lonjakan harga minyak dan gas. Kondisi ini mendorong negara dengan kebutuhan energi besar untuk menjaga stabilitas pasokan melalui sumber energi yang relatif mudah diperoleh.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Oleh karena itu, beberapa negara seperti China dan India meningkatkan impor batu bara untuk menjaga ketahanan energi mereka. China, misalnya, meningkatkan impor batu bara hingga sekitar 500 juta ton pada 2024 untuk mengamankan pasokan energi domestik,” ujar Iwa.
Kondisi tersebut memberi peluang bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Data capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2025 menunjukkan, dari total sekitar 1,3 miliar ton batu bara yang diperdagangkan secara global, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton atau sekitar 43 persen.
“Batu bara masih bisa menjadi primadona walau banyak negara, termasuk Indonesia, mulai membatasi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara. Kebijakan ini perlu dievaluasi apabila eskalasi geopolitik meningkat demi menjaga ketahanan energi nasional,” kata Iwa.
Ia menilai potensi batu bara juga dapat diperkuat melalui diversifikasi produk energi. Pengembangan teknologi seperti carbon capture, utilization, and storage (CCUS), gasifikasi batu bara, serta hilirisasi menjadi bahan kimia dan bahan bakar dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan emisi karbon.




