Ambisi besar Prabu Kertanegara adalah bersatunya Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari. Selain sebagai sebuah prestise bahwa Kertanegara sebagai Maharaja Nusantara, ia juga sebagai upaya dalam rangka membangun perimbangan kekuatan (balance of power) dari semakin meluasnya pengaruh kekaisaran Tiongkok, terutama di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.
Visi Kertanegara yaitu menjadikan Singasari kekuatan baru yang akan mampu membendung serbuan militer dan pengaruh Kubilai Khan. Atau paling tidak mengerem laju pencaplokan serta aneksasi Tiongkok kepada kerajaan-kerajaan di kawasan nusantara dan sekitarnya. Maka, ketika delegasi Khubilai Khan menghadap Kertanegara yang berujung kepada pemotongan telinga, hal itu dibaca sebagai upaya diplomasi keras (hard diplomacy). Sekaligus ingin menunjukkan kepada kaisar Tiongkok bahwa Singasari adalah kerajaan besar. Singasari tidak akan tunduk kepada Tiongkok. Bahkan pencideraan kepada diplomat Tiongkok tersebut lebih sebagai symbol perlawanan atau menabuh genderang perang kepada Kubilai Khan.
Anatomi Politik SingasariKekalahan pada perang Ganter telah menjadi bara yang terus menyala di dalam diri Jayakatwang. Kehancuran dinasti Kediri pasca perang Ganter telah menjelma menjadi ambisi untuk menghancurkan Singasari. Pernikahan politik antara putri Kertanegara dengan putra Jayakatwang tidak akan bisa memadamkan api kebencian pada diri Jayakatwang. Hanya satu yang bisa memuaskan hati bupati Gelanggelang adalah dengan kematian Kertanegara. Sehingga segala daya dan upaya dilakukan Jayakatwang untuk membumihanguskan Singasari.
Rasa percaya diri yang tinggi dari Kertanegara bahwa Jayakatwang tidak akan memberontak, telah menjadi titik lemah Kertanegara dalam mengawasi gerak-gerik dan intrik politik Jayakatwang. Laporan telik sandi yang mengabarkan adanya upaya perekrutan prajurit secara besar-besaran oleh bupati Gelanggelang ditanggapi dingin oleh Kertanegara. Bahkan diapresiasi sebagai bentuk dukungan Jayakatwang terhadap misi besar ekspedisi Pamalayu.
Tidak hanya ancaman dari Jayakatwang. Bara politik lainnya adalah ketidakpuasan beberapa pejabat senior Singasari yang diturunkan drajatnya. Seperti Arya Wiraraja yang diturunkan pangkat dan kedudukannya hingga akhirnya harus di “buang” ke Sumenep sebagai adipati di tanah Madura. Maka berbagai intrik politik telah bercampur baur dengan keinginan dan ambisi besar Kertanegara untuk menaklukan tanah Sumatera. Sehingga kondisi ini menjadi titik balik dan pemicu awal kehancuran Singasari.
Kertanegara memiliki ambisi besar untuk menundukan banyak kerajaan lain dalam rangka meluaskan kekuasaan. Ambisi besar tersebut dalam rangka menahan laju ekspansi china. Tapi dia lupa untuk membina loyalitas dan membersihkan para bromocorah politik di lingkaran istana Singasari. Sehingga keberhasilan ekspedisi pamalayu telah menjadi gerbang utama kehancuran Singasari untuk selamanya.
Ekspedisi PamalayuPamalayu artinya adalah perang melawan Melayu. Atau dalam bahasa Sanskrit berarti menahan Melayu atau tidak melepaskan Melayu. Konteks Melayu saat itu adalah kerajaan Damasraya di Sumatera Barat. Hal ini berdasarkan informasi dari prasasti Padang Roco (Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung). Dalam ideologi politik cakrawala mandala dwipantara yang dianut Kertanegara. Seluruh kerajaan di nusantara harus dibawah komando Singasari.
Ideologi inilah yang diyakini Kertanegara akan mampu menahan laju ekspansi Mongol. Sehingga urgensi ekspedisi Pamalayu harus menjadi langkah strategis Singasari dalam mewujudkan PAN-SINGASARISME atau persatuan kerajaan nusantara di bawah Singasari. Semua kerjaan di nusantara harus dalam komando Singasari. Maka atas dogma inilah Kertanegara berkeyakinan bahwa Tiongkok bisa dikalahkan. Sehingga segala daya dan upaya dilakukan untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Visi Kertangera inilah yang kelak akan menginspirasi para penerusnya di Majapahit. Untuk mengumandangkan sumpah Amukti Palapa dibawah panji maharaja Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada. Visi maritim yang telah melahirkan legenda kebesaran perjuangan Laksamana Nala (Mpu Nala) untuk merawat dan menyatukan laut nusantara. Maka tidak salah kalo beberapa sejarawan menyebutkan cikal bakal Nusantara telah muncul di zaman Majapahit dengan amukti palapa dan kepahlawanan laksamana Nala. Laksamana Nala adalah legenda penguasa laut nusantara dan kawasan asia tenggara saat itu.
Ijtihad Kebangsaan KertanegaraKertanegara terbunuh akibat penyerbuan Jayakatwang. Ambisi besar sirna akibat kecerobohan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Pengabaian laporan telik sandi. Riak-riak politik dan intrik internal kerajaan yang dianggap angin lalu. Termasuk kesalahan strategi pengiriman besar-besaran pasukan dalam ekspedisi pamalayu telah menyebabkan berkurangnya jumlah pasukan secara signifikan di kuta raja. Maka hancur dan runtuhlah Singasari untuk selamanya.
Singasari hancur dan Kertanegara terbunuh. Maka euporia kemenangan Jayakatwang dirayakan secara gegap gempita. Terbunuhnya Kertanegara telah menjadi penghapus dahaga dendam dinasti Kertajaya pasca perang Ganter. Impian politik untuk membangun kembali kejayaan Kediri terbentang luas bagi jayakatwang pasca hancurnya Singasari.
Politik adalah seni untuk mencapai tujuan. Kaum Machiavelis selalu memiliki rencana diatas rencana. Maka hancurnya Singasari tidak hanya membahagiakan Jayakatwang. Tetapi menjadi pintu atau babak baru bagi Arya Wiraraja – Sang penguasa Madura untuk kembali ke gelanggang politik kerajaan di tanah jawa. Kekecewaan terhadap Kertangera akibat “dibuang” ke Madura telah menjelma menjadi ambisi untuk mendukung Raden Wijaya dalam membangun Majapahit.
Maka atas nasihat Arya Wiraraja kepada Jayakatwang, sang menantu Kertanegara diampuni oleh Jayakatwang. Bahkan Raden Wijaya diberi tanah di alas Tarik untuk membangun pedukuhan dan mengembangkan daerah disekitar aliran Sungai Brantas bagi kepentingan perdagangan. Kelak dari alas Tarik inilah akan berdiri Kerajaan besar di nusantara yang bernama Majapahit.
Maka disinilah letak kesalahan Jayakatwang. Diberikannya pengampunan kepada Raden Wijaya dari segala hukuman. Bahkan memberikan tanah di alas tarik untuk dijadikan kawasan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan. Jayakatwang lupa bahwa bara api akan membesar manakala ada hembusan angin sekecil apapun.
Maka tidak ayal lagi ketika armada laut Tiongkok merapat ke Jawa dengan maksud menghancurkan Singasari telah memberikan angin segar bagi Raden Wijaya. Harapan untuk membalas dendam atas kehancuran Singasari. Dimualilah kelihaian diplomasi Raden Wijaya untuk meyakinkan armada Tiongkok agar berbalik menghancurkan Kediri. Peristiwa selanjutnya adalah hancur leburnya Jayakatwang. Kediri luluh lantak diserang 3 (tiga) koalisi kekuatan besar. Yaitu pasukan gabungan Tiongkok, Raden Wijaya dan Arya Wiraraja.
Hancurnya Kediri telah menjadi pintu bagi kelahiran kerajaan Majapahit. Raden Wijaya telah berhasil mengusir pasukan Tiongkok ke negerinya pasca penyerangan ke Kediri. Maka tugas berat berikutnya adalah mewujudkan impian besar untuk membangun kerajaan di alas Tarik. Oleh karena itu maka dimulailah babak baru Raden Wijaya dibantu para teman dekat dan kerabat kerajaan. Termasuk dukungan penuh dari Arya Wiraraja. Semuanya berjibaku mengubah alas Tarik untuk di transformasi menjadi pusat peradaban baru di tanah jawa.





