Studi: Memaafkan Picu Aktivitas Otak yang Bantu Kelola Stres dan Emosi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sebagai sebuah pengalaman emosional, memaafkan sering dianggap abstrak. Namun dalam kajian ilmu saraf, proses ini justru memiliki dasar biologis yang jelas. Peneliti menemukan bahwa memaafkan mengaktifkan berbagai struktur dan jalur di otak yang berkaitan dengan ketahanan mental serta koneksi sosial.

Para peneliti menemukan bahwa proses memaafkan tidak hanya membantu seseorang keluar dari pengalaman menyakitkan, tetapi juga mendorong seseorang menjadi lebih berenergi, termotivasi, dan terhubung dengan orang lain.

Memaafkan dalam konteks ini tidak berarti membenarkan tindakan yang menyakiti, maupun harus berdamai atau kembali menjalin hubungan dengan pelaku. Memaafkan lebih merujuk pada kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain dan secara aktif melepaskan keterikatan emosional yang menyakitkan.

Proses ini juga melibatkan sikap welas asih terhadap diri sendiri, sehingga seseorang dapat pulih dari pengalaman buruk dengan cara yang lebih berkelanjutan.

Tiga Sistem Otak yang Aktif Saat Memaafkan

Studi berjudul “Parsing the Components of Forgiveness: Psychological and Neural Mechanisms” (2020) yang dilakukan oleh Fourie MM, R Hortensius, dan Jean Decety mengungkap bahwa tindakan memaafkan dapat mengaktifkan tiga sistem otak yang berperan dalam membantu seseorang pulih dari luka emosional. Ketiganya bekerja secara dinamis dan saling berkaitan, yakni:

1. Empati dan Kemampuan Melihat Perspektif Orang Lain

Sistem pertama berkaitan dengan empati, yaitu kemampuan merasakan emosi orang lain dan membayangkan sudut pandang mereka.

Salah satu bagian otak yang berperan adalah anterior insula, yang membantu merespons pengalaman emosional, baik milik diri sendiri maupun orang lain. Area ini juga terlibat dalam respons fisik seperti detak jantung yang meningkat atau sensasi tidak nyaman di tubuh.

Selain itu, bagian otak seperti temporal parietal junction (TPJ) dan superior temporal sulcus (STS) membantu seseorang memahami konteks tindakan orang lain. Misalnya, menyadari bahwa seseorang yang menyakiti mungkin juga pernah mengalami luka atau tekanan dalam hidupnya.

Kemampuan ini memungkinkan seseorang melihat peristiwa secara lebih luas, sehingga rasa sakit tidak lagi sepenuhnya terasa personal.

2. Kemampuan Mengelola Emosi (Coping)

Sistem kedua berperan dalam mengelola emosi dan membantu seseorang memulihkan diri dari tekanan. Bagian otak seperti prefrontal cortex membantu mengatur perhatian dan mengontrol respons emosional.

Dengan fungsi ini, seseorang dapat berhenti dari pola berpikir negatif yang berulang, lalu menilai kembali situasi dengan lebih rasional.

Dalam konteks memaafkan, sistem ini membantu seseorang untuk menenangkan diri saat emosi muncul kembali, mengalihkan fokus pada hal yang lebih positif serta mengambil langkah yang mendukung pemulihan, seperti mencari dukungan sosial atau melakukan aktivitas yang menenangkan.

3. Pengambilan Keputusan Sosial

Sistem ketiga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi sosial. Bagian otak seperti orbital frontal cortex (OFC) dan ventral medial prefrontal cortex (vmPFC) membantu seseorang menentukan respons yang paling sesuai dengan tujuan hidup dan nilai pribadi.

Dalam proses memaafkan, sistem ini berperan saat seseorang memilih untuk melepaskan kemarahan, menghentikan siklus permusuhan, mengarahkan energi pada hal yang lebih konstruktif bagi dirinya.

Keputusan untuk memaafkan, dalam hal ini, menjadi langkah penting yang menentukan arah pemulihan.

Memaafkan dan Dampaknya pada Kesehatan

Penelitian juga menunjukkan bahwa jalur otak yang aktif saat memaafkan berkaitan dengan berbagai fungsi penting lain dalam kehidupan, seperti empati, pengelolaan emosi, serta kemampuan menjaga hubungan sosial.

Sebaliknya, ketika seseorang memilih untuk menyimpan dendam atau hanya menunggu rasa sakit mereda tanpa memaafkan, proses penguatan mental yang seharusnya terjadi tidak berjalan.

Dengan kata lain, memaafkan tidak hanya membantu seseorang keluar dari pengalaman menyakitkan, tetapi juga memperkuat kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai situasi emosional dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui proses ini, memaafkan menjadi bagian dari mekanisme yang mendukung kesejahteraan mental dan fisik secara berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Demi Tiket Piala Dunia 2026, Bek Persib Frans Putros Rela Batal Liburan Keliling Indonesia!
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Istana Ungkap Isi Pertemuan Prabowo-Megawati
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota Sidak Posko Mudik, Lalu Lintas Semarang Mulai Padat Imbas One Way Nasional | SAPA PAGI
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo Gelar Open House Lebaran Idulfitri 2026, Jokowi-SBY Hadir ke Istana?
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Antusias Warga Datang Open House di Istana, Sudah Mengular Sejak Pagi Hari
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.