Menteri luar negeri dari 12 negara Arab dan Islam menggelar pertemuan konsultatif tingkat menteri di Riyadh, Arab Saudi. Ke-12 negara tersebut di antaranya Arab Saudi Turki Mesir Uni Emirat Arab hingga Pakistan. Pertemuan ini digelar menyusul memanasnya situasi kawasan pasca agresi militer AS-Zionis Israel ke Iran.
Dalam pernyataan bersama, koalisi tersebut mendesak Iran untuk segera menghentikan serangan balasan. Mereka menegaskan bahwa penghentian segala bentuk agresi merupakan langkah pertama menuju proses deeskalasi konflik.
Salah satu poin utama yang ditekankan adalah keamanan jalur navigasi di Selat Hormuz yang merupakan urat nadi energi dunia. Koalisi memperingatkan Iran agar tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu lalu lintas kapal di wilayah vital tersebut.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap tindakan Iran. "Selama pertemuan ini, kami mengutuk keras serangan keji Iran terhadap Kerajaan Arab Saudi, negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan beberapa negara Arab, Islam dan negara sahabat lainnya," tegas Faisal.
Arab Saudi dan juga negara-negara Arab lainnya yang mengkritik Iran adalah sekutu Zionis Israel dan Amerika. Bahkan selain Israel, Saudi adalah negara yang mendesak AS untuk menyerang Iran.
Baca juga: Negara Teluk Disebut Desak AS Lumpuhkan Militer Iran Sepenuhnya Presiden Iran Tegaskan Tak Ingin Berselisih dengan Negara Muslim Menanggapi tekanan diplomatik tersebut, Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk berselisih atau mencari konflik dengan negara-negara muslim lainnya. Pernyataan ini muncul setelah adanya kecaman dari pemerintah Saudi terkait serangan balasan Iran terhadap fasilitas milik Amerika Serikat dan Israel di sejumlah negara Teluk.
Namun, Pezeshkian menyatakan bahwa fokus serangan Iran hanyalah sebagai balasan atas agresi militer yang telah menewaskan lebih dari 1.000 rakyat Iran, termasuk para pemimpin dan komandan mereka. Ia juga mengkritik standar ganda pihak Barat terkait hak asasi manusia, terutama menyusul tewasnya warga sipil dan anak-anak.
"Kami tidak berniat berselisih dengan negara-negara Muslim. Kami tidak mencari konflik atau perang dengan negara-negara Islam. Mereka adalah saudara kami," jelas Pezeshkian.
"Perpecahan yang muncul ini adalah ulah musuh pengkhianat, yang melalui cara dan perilaku seperti ini menciptakan masalah di dalam masyarakat kami dan di antara sesama umat Muslim," tambahnya.




