Umat Muslim di Iran tetap merayakan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah dengan penuh kekhidmatan, meskipun berada di bawah bayang-bayang peperangan yang kian meluas. Di tengah gempuran serangan udara Amerika Serikat dan Zionis Israel, puluhan ribu jemaah memadati kota suci Mashhad untuk melaksanakan salat Id pada Sabtu pagi, 21 Maret 2026.
Puluhan ribu umat Muslim berkumpul di alun-alun kota dan Kompleks Suci Imam Reza di Mashhad. Para peziarah dan pengunjung tetap memenuhi lokasi tersebut meskipun situasi keamanan nasional sedang dalam level bahaya tertinggi.
Ketegangan di Timur Tengah ini mencapai titik didih sejak 28 Februari lalu, dipicu oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan fasilitas nuklir serta rudal Iran. Sebagai bentuk balasan, Iran melancarkan serangan balik ke aset-aset AS dan Israel di kawasan, dengan laporan ledakan yang terdengar hingga ke negara-negara Teluk.
Baca juga: Deretan Negara Asia yang Terdampak Konflik Iran–AS Larangan Salat di Masjid Al-Aqsa Kondisi kontras terjadi di Yerusalem. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, umat Muslim dilarang keras melaksanakan salat Idulfitri di dalam Masjid Al-Aqsa. Pasukan Zionis Israel memberlakukan pembatasan ketat menyusul konflik yang terus memanas dengan Iran.
Tindakan represif dilaporkan terjadi di daerah Bab al-Sahrah, di mana pasukan Israel menggunakan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan warga Palestina yang mencoba memasuki kompleks suci tersebut. Dalam rekaman video yang beredar, jemaah tampak panik dan berupaya menyelamatkan diri saat ledakan granat terjadi.
Akibat penutupan paksa akses masjid, ratusan jemaah akhirnya terpaksa melaksanakan salat Id di jalan-jalan sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa setelah dilarang keras memasuki kompleks tempat suci tersebut.




