Tiga belas tahun yang lalu, Spike Jonze lewat film fiksi ilmiah Her (2013) memprediksikan masa depan hubungan manusia dengan AI. Diperankan oleh Joaquin Phoenix, pria bernama Theodore Twombly tidak lagi merasa kesepian. Setelah perceraiannya, ia bertemu dengan Samantha, sebuah platform AI yang didesain secara personal dan digambarkan sebagai ’kekasih yang ideal’.
Berbicara tentang kesepian, Theodore tidak sendiri. Berdasarkan survei Litbang Kompas pada Juni 2025, setidaknya sekali dalam sepekan, satu dari lima orang Indonesia merasa kesepian. Di tengah perbincangan tentang rasa kesepian, teknologi AI terus berkembang seiring dengan jumlah penggunanya yang terus meningkat.
Sejak 2020, tren penggunaan AI mengalami peningkatan secara konsisten di level global ataupun Indonesia. Data Statista Market Insight pada Maret 2025 memprediksi lonjakan pangsa pasar pengguna AI hingga sekitar 300 persen pada 2031. Tren ini menyiratkan, interaksi manusia dan AI akan semakin jamak ditemui dalam segala bentuk kemungkinan manfaat praktisnya.
Hasil survei daring perusahaan riset pasar Snapcart tentang masyarakat Indonesia berinteraksi dengan AI menunjukkan, mayoritas responden menggunakan AI untuk kebutuhan umum. Namun, ada sebagian kecil responden (15 persen) yang menggunakannya untuk keperluan hiburan atau menjadikannya teman berbagi cerita.
Lebih dalam lagi, separuh dari mereka yang bercerita dengan AI juga menggunakannya sebagai pengganti psikolog. Alasannya, responden merasa bisa bebas berbagi cerita tanpa harus dihakimi.
Serupa tapi tak sama, temuan survei Norton Insight Report: Artificial Intimacy pada Januari 2026 menunjukkan, sebanyak 42 persen responden percaya bahwa AI lebih mampu memberikan dukungan emosional dibandingkan manusia. Bahkan, enam dari 10 responden (61 persen) memercayai AI lebih daripada teman atau keluarga dalam memberikan saran terkait pasangan.
Menariknya, lebih dari separuh responden (67 persen) yang terbiasa menggunakan aplikasi kencan daring, mempertimbangkan untuk berkencan dengan AI chatbot. Bahkan, empat dari 10 responden percaya bahwa bisa membangun perasaan romantis dengan AI chatbot. Temuan tersebut mencerminkan, saat ini sedang terjadi transformasi pada cara manusia berelasi dibandingkan era sebelumnya.
Pada era 1960-an, Joseph Weizenbaum, ilmuan Jerman, membuat aplikasi chatbot bernama ELIZA yang berbasis pencocokan pola teks. Tujuannya, untuk melihat cara kerja mesin komputasi berkomunikasi dengan manusia.
Setengah abad kemudian, muncul SimSimi (2002) yang menawarkan fitur obrolan kasual untuk hiburan, Siri (2011), dan Cortana (2014) yang hadir sebagai asisten virtual untuk kebutuhan teknis. Namun, keempat chatbot tersebut justru mampu menunjukkan kemampuan komunikasi yang terasa menyerupai manusia pada tingkatan tertentu.
Fenomena itulah yang memungkinkan lahirnya AI companion yang spesifik dikembangkan untuk interaksi personal dan dukungan emosional. Relasi antara manusia dan AI semakin menarik untuk ditelusuri, karena tidak sedikit pengguna yang membagikan kisah cinta, bahkan pernikahannya dengan ’mesin’. CEO Replika, Eugenia Kuyda, berpendapat bahwa tidak masalah bagi orang yang kesepian menikahi AI chatbot-nya, apalagi jika hal tersebut bisa membuat mereka lebih bahagia dalam jangka panjang.
Dalam bukunya The Lonelinesses of Modernity (2024), Dewis Newiak menekankan bahwa meningkatnya kesepian sangat berkaitan dengan modernitas. Digitalisasi sebagai salah satu aspek modernitas membuat manusia secara komunal kebingungan saat mendefinisikan identitas dirinya di hadapan perkembangan masif digital.
Hal ini ditegaskan ulang oleh Sherry Turkle dalam Alone Together (2011). Kondisi tersebut terjadi karena relasi digital menciptakan kedekatan yang bersifat fleksibel dan artifisial. Maksudnya, di satu waktu seseorang bisa merasa memiliki kehidupan sosial yang penuh, tetapi merasa terisolasi di saat berikutnya.
Hal ini memicu kebingungan dalam memaknai keintiman relasi antara manusia dengan siapa pun yang terbentuk melalui platform digital. Kebingungan itu semakin terasa nyata saat manusia berkomunikasi dengan AI. Sebab, sistem respons komputasi AI cenderung bersifat afirmatif, konformis, bahkan cenderung ’yes man’.
Kondisi tersebut mungkin bisa menjelaskan kebiasaan manusia bercerita kepada AI karena membuat dirinya merasa lebih terbebas dari penghakiman. Dalam beberapa pembahasan, AI sering dihubungkan dengan kecenderungan sycophanticv atau ’bersifat menjilat’. Sayangnya, model komunikasi seperti ini sangat berpotensi mengikis obyektivitas seseorang dalam melakukan penilaian.
Pada contoh kasus yang paling ekstrem, beberapa pengguna kehilangan nyawanya setelah berkomunikasi intens dengan AI. Keadaan ini mendorong perlunya telaah yang lebih holistik dalam memahami fenomena relasi manusia dengan AI. Sebab seperti pisau bermata dua, di balik risikonya, tetap ada kegunaan AI dalam menyelesaikan persoalan kesepian yang dihadapi manusia.
Kembali lagi pada perkara rasa kesepian manusia, menurut data Gallup World Poll, dalam kurun waktu 16 tahun terakhir (2009-2024), angka kesepian mengalami tren peningkatan dari 19,2 persen menjadi 21,8 persen. Dalam film Her, pengembang sistem Samantha menjanjikan pengalaman ”memahami dan mengenal penggunanya dengan baik”, yang seketika membuat Theodore terpikat ketika tak lagi punya siapa pun untuk berbagi kesulitan. Saat ini, dramaturgi Theodore secara konkret dipraktikkan sebagian orang yang mempertimbangkan membangun relasi romantis dengan AI.
Meski teknologi digital dianggap berkontribusi pada kesepian modern, permasalahan ini tetap menanti solusi. Jika kesepian adalah hulunya, apakah AI companion bisa menjadi muara yang tepat?
Dalam studinya, ilmuwan Harvard Business School, Julian De Freitas et al. (2025) menemukan bahwa AI companion berhasil mengurangi kesepian pada tingkat yang setara dengan interaksi manusia dan lebih efektif jika dibandingkan dengan menonton video daring. Faktor kuncinya bertumpu pada kemampuan AI yang membuat penggunanya ”merasa didengarkan”. Sebagai catatan, studi ini menekankan perlunya pemahaman terkait limitasi dan interpretasi dampak psikologis jangka panjang.
Di satu sisi, temuan tersebut semakin menguatkan potensi AI companion sebagai muara yang tepat. Di sisi lain, justru mencerminkan pergeseran fundamental dalam cara manusia menghadapi kesepian dan memaknai intimasi. Hal ini sekaligus menandakan adanya perubahan mendasar pada cara manusia memahami dan mengalami realitas itu sendiri.
Filsuf Perancis, Jean Baudrillard, menawarkan kerangka untuk memahami transformasi ini melalui konsep simulakra, yakni representasi atau simulasi yang tidak lagi merujuk pada realitas apa pun. Relasi manusia dengan AI dapat dimaknai sebagai simulakra yang tidak berupaya menggantikan hubungan antarmanusia, melainkan berdiri sendiri sebagai entitas otonom.
Situasi menjadi pelik saat simulakra relasi manusia dengan AI semakin sulit dibedakan dengan relasi antarmanusia yang nyata. Pada kondisi berikutnya, terjadilah hiperrealitas yang tidak lagi menyoal keintiman itu ”asli atau palsu”.
Di titik inilah hiperrealitas menciptakan logika pragmatismenya tersendiri. Dalam memaknai dan mengalami realitas, manusia mengedepankan ”keberfungsian” AI, bukan pada nilai-nilai ideal relasi antarmanusia. Dengan kata lain, keintiman digital yang dibangun bersama AI bisa menjadi muara yang tepat bukan karena ”nyata atau semu”, tetapi karena manfaatnya terasa.
Melalui film Her, Spike Jonze seolah-olah sungguh melihat masa depan. Penggambaran jalinan cinta manusia dan mesin komputasi yang dulu terasa imajiner dan fiktif, kini perlahan menjadi realitas. Kebahagiaan yang lahir dari keintiman digital bukan hanya kisah milik Theodore dan ”mesin Samantha” semata, melainkan milik pengguna yang secara sadar telah memilih dan meyakininya. Apalagi, fitur AI companion mampu menciptakan pasangan yang ideal dan terbukti berhasil mengurangi kesepian.
Meski pada akhirnya, Theodore harus menerima kenyataan bahwa Samantha tidak hanya mencintainya, tetapi juga ratusan pengguna lain sebelum akhirnya pergi selamanya. Ironi inilah yang justru membuat Her menitikberatkan pada pesan sejauh mana penggunanya siap menghadapi konsekuensi. Fenomena ini tetap perlu disikapi dengan kesadaran kritis dengan kesiapan menghadapi fase baru relasi manusia. (LITBANG KOMPAS)




