Serangan rudal Iran pada, Sabtu (21/3/2026), menghantam wilayah selatan Israel, termasuk Kota Dimona yang menjadi lokasi fasilitas nuklir utama, serta Arad. Akibat serangan balasan Iran ini, Israel melaporkan lebih dari 100 orang terluka.
Melansir laporan Al Jazeera, tim penyelamat Israel melaporkan, sedikitnya 88 orang terluka di Arad, dengan 10 di antaranya dalam kondisi serius. Kerusakan parah dilaporkan terjadi di pusat kota. Sementara di Dimona, 39 orang terluka setelah sejumlah bangunan permukiman hancur.
Laporan dari lapangan menyebut terdapat tiga titik dampak di Dimona, termasuk satu bangunan tiga lantai yang runtuh total serta kebakaran di beberapa lokasi.
Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel menyebut malam itu sebagai situasi “sulit” bagi negaranya. Ia kembali menegaskan komitmen untuk melanjutkan serangan terhadap Iran.
Sementara militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara telah diaktifkan saat serangan terjadi, namun gagal mencegat sebagian rudal. Petugas pemadam kebakaran menyebut terdapat dua rudal balistik yang menghantam langsung dengan hulu ledak berbobot ratusan kilogram.
Sebagai respons sebelumnya, militer Israel mengaku telah menyerang fasilitas riset di Malek Ashtar University di Teheran yang dituding digunakan untuk pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik. Sementara itu, Iran menyatakan fasilitas Natanz menjadi sasaran serangan, meski tidak terjadi kebocoran radioaktif.
Kota Dimona sendiri merupakan pusat program nuklir Israel sejak fasilitas risetnya dibangun secara rahasia pada 1958 dengan bantuan Prancis. Israel diyakini telah mengembangkan senjata nuklir sejak akhir 1960-an, meski hingga kini menerapkan kebijakan ambigu dengan tidak mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata tersebut.
Di sisi lain, Televisi pemerintah Iran menyebut serangan pada Sabtu itu sebagai “balasan” atas serangan terhadap fasilitas pengayaan nuklir Natanz pada hari yang sama.
Abas Aslani pengamat politik Timur Tengah dari Centre for Middle East Strategic Studies menilai Iran kini menerapkan strategi “balas setimpal” untuk memperkuat efek penangkal (deterrence).
Menurutnya, Teheran berupaya memastikan ancaman yang disampaikan benar-benar kredibel, tidak sekadar untuk mendorong gencatan senjata, tetapi juga membangun keseimbangan keamanan jangka panjang di kawasan.
Badan pengawas nuklir dunia, IAEA, menyatakan tidak ada indikasi kerusakan pada fasilitas nuklir Shimon Peres Negev Nuclear Research Center di Dimona. Selain itu, tidak ditemukan peningkatan radiasi di wilayah tersebut.
Rafael Grossi Direktur Jenderal IAEA menyerukan semua pihak untuk menahan diri, khususnya dalam operasi militer di sekitar fasilitas nuklir.
Sebagai informasi, konflik pecah sejak 28 Februari usai Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Iran. Hingga kini, lebih dari 1.500 orang di Iran, termasuk lebih dari 200 anak-anak meninggal dunia akibat konflik tersebut. (bil/iss)




