REPUBLIKA.CO.ID, CIKAMPEK — Korlantas Polri mengandalkan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan dan Bocimi untuk memecah kepadatan arus balik Lebaran 2026. Dua jalur ini disiapkan sebagai alternatif untuk mengurangi beban kendaraan menuju Jakarta.
Distribusi kendaraan menunjukkan 30 hingga 35 persen arus berasal dari Jawa Barat. Kondisi ini mendorong penguatan jalur alternatif agar kepadatan tidak terpusat di ruas tol utama.
- One Way Bertahap Disiapkan dari KM 414 ke KM 70, Antisipasi Lonjakan Arus Balik
- Korlantas Siapkan One Way Lokal Arus Balik Mulai 23 Maret
- Korlantas Polri Siapkan One Way Nasional pada Puncak Arus Balik, Begini Skemanya
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan, Japek II Selatan sudah diuji coba dan siap difungsikan saat puncak arus balik. “Dari Jawa Barat, solusinya cukup strategis karena Japek II Selatan sudah kami uji coba,” kata Agus di Command Center Korlantas Polri, Cikampek, Ahad (22/3/2026).
Ruas Japek II Selatan akan dibuka dari Sadang hingga Setu untuk menambah kapasitas jalan. Jalur ini diharapkan mampu menahan lonjakan kendaraan dari arah selatan Jawa Barat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bocimi juga disiapkan untuk mendukung distribusi arus kendaraan. Integrasi kedua ruas ini diharapkan mengurangi penumpukan di jalur utama.
“Dari Jawa Barat sudah ada Japek II Selatan, itu sangat membantu, termasuk Bocimi,” ujar Agus.
Korlantas tetap mengombinasikan skema ini dengan rekayasa lain seperti one way dan contraflow. Pengaturan dilakukan berbasis pemantauan volume kendaraan di lapangan.
Arus balik dari Trans Jawa diperkirakan mencapai sekitar 66 persen. Arus ini berpotensi bertemu dengan kendaraan dari Jawa Barat di sejumlah titik rawan kepadatan.
“Dari Trans Jawa kurang lebih hampir 66 persen. Ini yang harus kita kelola,” ucap Agus.
Korlantas juga mengantisipasi lonjakan mobilitas pasca-Lebaran. Pergerakan antarwilayah seperti Jabodetabek, Solo Raya, Semarang Raya, hingga Bali diprediksi meningkatkan tekanan lalu lintas.
Pengamanan dilakukan melalui pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu. Pengawasan juga difokuskan di kawasan wisata dan pelabuhan untuk mencegah kemacetan.
Korlantas memastikan seluruh strategi dijalankan fleksibel mengikuti kondisi di lapangan. Pengendalian arus balik dilakukan terpadu untuk menjaga kelancaran perjalanan.




