Krisis Energi Makin Nyata, AS-Iran Saling Ancam

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bangunan yang rusak di lokasi dampak, setelah rentetan rudal yang diluncurkan dari Iran, di Tel Aviv, Israel, Kamis (19/3/2026) dini hari. (REUTERS/Amir Cohen)

Jakarta, CNBC Indonesia — Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.

Mengutip Reuters, Trump mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka," tulis Trump di media sosial, Minggu (22/3/2026).


Ancaman tersebut muncul di tengah meningkatnya gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan ini telah memicu lonjakan harga energi global, bahkan harga gas Eropa tercatat melonjak hingga 35% dalam sepekan terakhir.

Baca: Dunia Memburu Batu Bara di Tengah Krisis Energi, Harga Tembus Rekor

Trump juga menyindir sekutu NATO yang dinilai enggan terlibat dalam konflik, meskipun sebagian menyatakan masih mempertimbangkan langkah lebih lanjut.

Iran Balas Ancaman

Respons keras datang dari Teheran. Komando militer utama Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, memperingatkan bahwa pihaknya akan menyerang berbagai infrastruktur strategis milik Amerika Serikat dan sekutunya jika fasilitas energi Iran diserang.

"Jika infrastruktur energi Iran diserang, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran," demikian pernyataan yang dimuat kantor berita Fars.

Ancaman ini menandai eskalasi serius, di mana target serangan tidak lagi terbatas pada fasilitas militer, tetapi juga mencakup infrastruktur sipil vital seperti listrik, teknologi, hingga pasokan air.

Adapun situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya "perang energi", di mana fasilitas minyak, listrik, dan infrastruktur vital menjadi target utama.

Gangguan di Selat Hormuz sendiri telah membuat banyak kapal menghindari jalur tersebut, memperparah risiko pasokan energi global. Jika eskalasi berlanjut, pasar energi dunia berpotensi mengalami guncangan yang lebih dalam, termasuk lonjakan harga minyak dan gas serta tekanan inflasi global.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Harga Minyak Melunak Tapi Tekanan Global Masih Kuat

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tatap FIFA Series, Skuad Timnas Indonesia Mulai Kumpul Hari Ini
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Rumah di Kampung Ketandan Surabaya Terbakar, 14 Unit Damkar Dikerahkan untuk Padamkan Api
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Milan Kembali ke Posisi Kedua Setelah Kalahkan Torino
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polri Ajak Masyarakat Manfaatkan Diskon Tarif Nol Arus Balik Lebaran
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Kuba Kembali Krisis Listrik karena Trump, Satu Negara Gelap Gulita
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.